Dakwah

Khutbah Jumat: Sibuk Bekerja, Jangan Sampai Kehilangan Waktu dengan Keluarga

Khutbah Jumat Sibuk Bekerja, Jangan Sampai Kehilangan Waktu dengan Keluarga

Bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga adalah salah satu kewajiban setiap kepala keluarga. Meski demikian, terlalu fokus pada pekerjaan sehingga abai terhadap kondisi keluarga di rumah juga merupakan hal yang tercela dalam agama.

Berikut naskah khutbah Jumat berjudul “Sibuk Bekerja, Jangan Sampai Kehilangan Waktu dengan Keluarga”. Semoga bermanfaat.

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي تَفَرَّدَ بِالْعِزِّ وَالْجَلَالِ، وَتَوَحَّدَ بِالْكِبْرِيَاءِ وَالْكَمَالِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلَا نَفَادَ لِحِكْمَتِهِ وَلَا زَوَالَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الَّذِي أَكْرَمَهُ اللَّهُ بِأَشْرَفِ الْأَخْلَاقِ وَالْخِصَالِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ.

Latin: Alhamdulillahil ladzi tafarrada bil ‘izzi wal jalal, wa tawahhada bil kibriya’i wal kamal. Asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, wa la nafada lihikmatihi wa la zawal. Wa asyhadu anna sayyidana Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, alladzi akramahullahu bi asyrafil akhlaqi wal khishal. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa ashhabihi bil ghuduwwi wal ashal.

Artinya: Segala puji bagi Allah yang tunggal dalam keperkasaan dan keagungan, esa dalam kebesaran dan kesempurnaan. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan hikmah-Nya tidak pernah habis maupun sirna. Aku bersaksi bahwa junjungan kami, Nabi Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya, yang dimuliakan Allah dengan akhlak dan sifat yang paling mulia. Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya, di waktu pagi dan petang.

أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ! اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Latin: Amma ba’du. Fa ya ‘ibadallah! Ittaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna illa wa antum muslimun. Qala ta’ala fi kitabihil karim: A’udzu billahi minasy-syaithanir rajim, bismillahir rahmanir rahim: Ya ayyuhal ladzina amanu qu anfusakum wa ahlikum naran wa quduhan-nasu wal hijaratu ‘alaiha mala’ikatun ghiladzun syidadun la ya’shunallaha ma amarahum wa yaf’aluna ma yu’marun.

Artinya: Selanjutnya, wahai hamba Allah! Bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (QS. Ali Imran: 102). Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia. Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Wasiat takwa

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam kesempatan yang mulia ini, marilah kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. dengan terus berupaya melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Sibuk bekerja dan fenomena fatherless

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Di zaman modern yang serba materialistik dan penuh tekanan ini, kita sering kali terjebak dalam lingkaran kesibukan kerja yang luar biasa padat. Tuntutan ekonomi berupa kebutuhan hidup yang terus meningkat sering kali memaksa kita menghabiskan sebagian besar waktu di tempat kerja. Bahkan, ambisi karier juga menjadi alasan sebagian dari kita rela pergi pagi pulang malam.

Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu munculnya fenomena fatherless atau parentless, terutama di kota-kota besar hari ini, yaitu kondisi ketika peran dan kehadiran ayah atau orang tua sangat minim bahkan tidak ada. Boleh jadi orang tua hadir secara fisik dan tidur bersama anak-anak di rumah, tetapi absen secara psikologis, perhatian, dan kasih sayang.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam Islam, bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarga adalah tindakan mulia. Bahkan, hal itu adalah kewajiban setiap kepala keluarga. Meski demikian, ada satu hal yang perlu kita perhatikan: kesibukan mencari nafkah jangan sampai menyita waktu kita untuk bersama keluarga, memenuhi hak-hak mereka, serta memberikan perhatian dan kasih sayang kepada mereka.

Karena itulah Islam mengajarkan kita untuk seimbang dalam melakukan segala sesuatu. Mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga adalah kewajiban. Akan tetapi, meluangkan waktu bersama keluarga, memberikan kasih sayang dan perhatian, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan pemahaman keagamaan mereka, juga kewajiban orang tua.

Menjaga keluarga dari api neraka

Dalam QS. At-Tahrim ayat 6, Allah swt. berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Latin: Ya ayyuhal ladzina amanu qu anfusakum wa ahlikum naran wa quduhan-nasu wal hijaratu ‘alaiha mala’ikatun ghiladzun syidadun la ya’shunallaha ma amarahum wa yaf’aluna ma yu’marun.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Ayat ini secara tegas memerintahkan kita menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Menjaga diri dari neraka dilakukan dengan menaati aturan Allah. Adapun menjaga keluarga berarti menasihati dan membimbing mereka agar menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Tentu ini membutuhkan bimbingan dan kehadiran kita sebagai orang tua atau kepala keluarga.

Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir juz 28 hlm. 320 menjelaskan bahwa ayat ini menjadi landasan wajibnya menasihati dan memberi bimbingan keagamaan kepada keluarga. Seorang suami wajib mendorong istri dan anaknya serta mengawasi mereka agar senantiasa melakukan perintah Allah dan menjauhi maksiat.

Setiap yang punya hak harus ditunaikan haknya

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Terkait pentingnya keseimbangan ini, sahabat Salman al-Farisi pernah menasihati sahabat Abu Darda yang terlalu fokus beribadah sehingga kurang memperhatikan keluarganya. Beliau berkata:

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

Latin: Inna li rabbika ‘alaika haqqan, wa inna li nafsika ‘alaika haqqan, wa li ahlika ‘alaika haqqan, fa a’thi kulla dzi haqqin haqqah.

Artinya: “Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atas dirimu, dirimu sendiri memiliki hak atas dirimu, dan keluargamu memiliki hak atas dirimu. Maka tunaikanlah hak setiap yang berhak.” (HR. Al-Bukhari)

Nasihat ini diberikan kepada Abu Darda ra. karena ia terlalu bersemangat beribadah sehingga mengabaikan keseimbangan hidupnya. Ketika keduanya menghadap Rasulullah saw. dan menceritakan semuanya, Rasulullah saw. membenarkan Salman ra. Hal ini menunjukkan bahwa syariat mengakui setiap komponen dalam diri kita dan lingkungan sekitar memiliki hak masing-masing yang harus ditunaikan.

Badan kita punya hak untuk beristirahat. Suami dan istri masing-masing memiliki hak. Anak pun memiliki hak. Semua orang yang berinteraksi dengan kita memiliki hak yang harus dipenuhi secara proporsional.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juz 3 hlm. 39 menjelaskan bahwa hak keluarga adalah memperhatikan dan memenuhi segala kebutuhan mereka, baik urusan dunia maupun akhirat. Beliau mengatakan:

(وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا) أَيْ: تَنْظُرَ لَهُمْ فِيمَا لَا بُدَّ لَهُمْ مِنْهُ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Latin: (Wa li ahlika ‘alaika haqqa) ay: tanzhura lahum fima la budda lahum minhu min umuriddunya wal akhirah.

Artinya: “(Dan sesungguhnya keluargamu memiliki hak atas dirimu), yakni kamu memperhatikan segala sesuatu yang mereka butuhkan, baik dari urusan dunia maupun akhirat.”

Mengelola waktu untuk keluarga

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hadits ini membawa pesan yang sangat relevan bagi kehidupan kita. Pekerjaan memang memiliki hak atas diri kita, ia adalah kewajiban. Akan tetapi, keluarga juga memiliki hak, dan tubuh juga memiliki hak untuk beristirahat.

Karena itu kita dituntut mengelola waktu, sehingga jangan sampai sebagian besar waktu kita habis di luar rumah tanpa memberi perhatian dan kasih sayang kepada keluarga.

Sebab, kebaikan dan kesalehan bukan hanya terletak pada kesungguhan seseorang dalam bekerja dan beribadah, melainkan juga pada kemampuannya membagi waktu dan menunaikan hak-hak yang wajib ia penuhi secara proporsional.

Bekerja memang keharusan. Namun, jangan sampai kita lupa akan kewajiban memberi perhatian dan kasih sayang kepada keluarga. Karena itu, di tengah kesibukan kerja dan aktivitas padat lainnya, kita dituntut menyediakan waktu bersama keluarga.

Sebagai suami, mungkin kita tidak bisa selalu berada di rumah sepanjang hari. Akan tetapi, ketika pulang, seyogianya kita menyediakan waktu untuk mendengar cerita istri, menanyakan kabar anak, dan membantu pekerjaan rumah yang masih bisa dilakukan.

Sebagai ayah, barangkali kita tidak bisa menemani anak seharian. Namun, ketika pulang kerja, kita seharusnya menyediakan waktu khusus untuk bermain bersama anak, menemaninya belajar, menanyakan aktivitasnya di sekolah, bahkan masalah yang sedang ia hadapi.

Hal ini tampak sederhana, tetapi pengaruhnya sangat luar biasa, terutama dalam menjaga keharmonisan keluarga.

Penutup

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Karena itu, marilah kita terus bersemangat bekerja mencari nafkah dengan sungguh-sungguh. Namun ingat, tujuan kita mencari nafkah adalah membahagiakan dan memenuhi kebutuhan keluarga. Jangan sampai kebutuhan psikologis dan spiritual keluarga terbengkalai karena kita terlalu sibuk mengejar kebutuhan material mereka.

Semoga kita diberi taufik dan hidayah oleh Allah, serta keluarga kita dijadikan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Amin ya rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ؛ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

Latin: Barakallahu li wa lakum fil qur’anil karim, wa nafa’ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wadz-dzikril hakim, wa taqabbala minni wa minkum tilawatah, innahu huwas-sami’ul ‘alim.

Artinya: Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an yang mulia, memberi manfaat kepadaku dan kalian dengan ayat-ayat dan peringatan yang bijaksana di dalamnya, serta menerima bacaan Al-Qur’an dariku dan dari kalian. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَالْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.

Latin: Alhamdulillahi hamdan katsiran kama amar. Asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, irghaman liman jahada bihi wa kafar. Wa asyhadu anna sayyidana Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, sayyidul insi wal basyar. Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa ashhabihi ma ittashalat ‘ainun binazhar wa udzunun bikhabar.

Artinya: Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak sebagaimana yang Dia perintahkan. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai pukulan bagi orang yang mengingkari dan kufur kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa junjungan kami, Nabi Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya, pemimpin seluruh umat manusia. Ya Allah, limpahkan shalawat, salam, dan berkah kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya, selama mata masih memandang dan telinga masih mendengar kabar.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

Latin: Amma ba’du: fa ya ‘ibadallah, ittaqullaha fima amar, wantahu ‘amma naha wa zajar. Wa’lamu annallaha amarakum bi amrin bada’a fihi binafsihi wa tsanna bimala’ikatihil musabbihati biqudsih. Fa qala ta’ala: Innallaha wa mala’ikatahu yushalluna ‘alan nabiyy, ya ayyuhal ladzina amanu shallu ‘alaihi wa sallimu taslima.

Artinya: Selanjutnya, wahai hamba-hamba Allah, bertakwalah kepada Allah dalam apa yang Dia perintahkan, dan jauhilah apa yang Dia larang dan cegah. Ketahuilah, Allah memerintahkan kalian suatu perintah yang Dia mulai dari diri-Nya sendiri, lalu diikuti para malaikat-Nya yang bertasbih menyucikan-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya” (QS. Al-Ahzab: 56).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِيهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

Latin: Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, kama shallaita wa sallamta wa barakta ‘ala sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali sayyidina Ibrahima fil ‘alamin, innaka hamidun majid. Wardha Allahumma ‘anil khulafa’ir rasyidina sadatina Abi Bakrin wa ‘Umara wa ‘Utsmana wa ‘Aliyy, wa ‘an baqiyyatish shahabati wat-tabi’ina wa tabi’ihim bi ihsanin ila yaumiddin. Allahummaghfir lil mu’minina wal mu’minat, wal muslimina wal muslimat, al-ahya’i minhum wal amwat, innaka sami’un qaribun mujibud da’awat.

Artinya: Ya Allah, limpahkan shalawat, salam, dan berkah kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau limpahkan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya di seluruh alam. Sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, ridhailah para khulafaur rasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta seluruh sahabat, tabi’in, dan pengikut mereka dengan baik hingga hari kiamat. Ya Allah, ampunilah orang-orang mukmin dan muslim, laki-laki dan perempuan, yang masih hidup maupun yang telah wafat. Sungguh Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُورِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Latin: Allahumma a’izzal islama wal muslimin, wa adzillasy-syirka wal musyrikin, wanshur man nashara-d-din, wakhdzul man khadzalal muslimin, wa dammir a’da’ad-din, wa a’li kalimatika ila yaumiddin. Allahumma aminna fi duurina wa ashlih wulata umurina, waj’alillahumma wilayatana fiman khafaka wattaqak. Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj’alna lil muttaqina imama. Rabbana atina fid-dunya hasanatan wa fil akhirati hasanatan wa qina ‘adzaban-nar.

Artinya: Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kemusyrikan dan para pelakunya, tolonglah orang yang menolong agama, biarkan tanpa pertolongan orang yang menelantarkan kaum muslimin, hancurkanlah musuh-musuh agama, dan tinggikanlah kalimat-Mu hingga hari kiamat. Ya Allah, berikanlah rasa aman di rumah-rumah kami, perbaikilah para pemimpin kami, dan jadikanlah kepemimpinan kami berada pada orang yang takut dan bertakwa kepada-Mu. Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Furqan: 74). Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka (QS. Al-Baqarah: 201).

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Latin: ‘Ibadallah! Innallaha ya’murukum bil ‘adli wal ihsani wa ita’i dzil qurba wa yanha ‘anil fahsya’i wal munkari wal baghyi ya’izhukum la’allakum tadzakkarun. Fadzkurullahal ‘azhima yadzkurkum wasykuruhu ‘ala ni’amihi yazidkum, wa ladzikrullahi akbar, wallahu ya’lamu ma tashna’un.

Artinya: Wahai hamba Allah! Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kerabat, serta melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (QS. An-Nahl: 90). Maka ingatlah Allah Yang Maha Agung, niscaya Dia mengingat kalian; bersyukurlah atas nikmat-Nya, niscaya Dia menambah (nikmat) kalian. Sungguh mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya), dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Baca juga