Dakwah

Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat

Khutbah Jumat Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat

Hari Jumat merupakan hari yang mulia dan memiliki keutamaan besar bagi umat Islam. Karena itu, mari kita manfaatkan hari yang penuh keberkahan ini untuk memperbanyak doa, terutama bagi keluarga, kerabat, dan orang-orang saleh yang telah lebih dahulu meninggalkan kita.

Berikut naskah khutbah Jumat berjudul “Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat”. Semoga bermanfaat.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَبْتَغِي بِهَا عَفْوًا وَأَمَلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْهَادِي إِلَى الطَّرِيقِ الْأَقْوَمِ سُبُلًا وَمِلَلًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي لَمْ يَزَلْ بِالْخَيْرِ مُشْتَغِلًا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، صَلَاةً دَائِمَةً لَا تَعْرِفُ فُتُورًا وَلَا مَلَلًا

Latin: Alhamdulillahil ladzi khalaqal mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala. Wa asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, syahadatan nabtaghi biha ‘afwan wa amala. Wa asyhadu anna sayyidana Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, al-hadi ilath-thariqil aqwami subulan wa milala. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad, an-nabiyyil ummiyyil ladzi lam yazal bil khairi musytaghila, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, shalatan da’imatan la ta’rifu futuran wa la malala.

Artinya: Segala puji bagi Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya (lihat QS. Al-Mulk: 2). Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, kesaksian yang dengannya kami mengharap ampunan dan harapan. Aku bersaksi bahwa junjungan kami, Nabi Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya, penunjuk jalan yang paling lurus, baik jalan maupun agama. Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, nabi yang ummi, yang senantiasa sibuk dengan kebaikan, juga kepada keluarga dan seluruh sahabatnya, shalawat yang kekal tanpa jenuh dan bosan.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ مَنْ بِالتَّقْوَى تَسَرْبَلَا. وَقَالَ تَعَالَى: وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Latin: Amma ba’du, fa ya ‘ibadallah, ushikum wa nafsi bitaqwallah, faqad faza man bit-taqwa tasarbala. Wa qala ta’ala: Wal ladzina ja’u min ba’dihim yaquluna rabbanaghfir lana wa li ikhwaninal ladzina sabaquna bil imani wa la taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu rabbana innaka ra’ufur rahim.

Artinya: Selanjutnya, wahai hamba Allah, aku berwasiat kepada kalian dan diriku untuk bertakwa kepada Allah, sungguh beruntung orang yang berpakaian takwa. Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang'” (QS. Al-Hasyr: 10).

Wasiat takwa

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam momentum yang mulia ini, khatib berwasiat kepada kita semua untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. dengan terus berupaya menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Kematian tidak memutus hubungan kita

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kematian adalah akhir kehidupan yang memisahkan kita dari orang-orang yang dicintai. Ada yang lebih dahulu kehilangan orang tuanya, ada yang kehilangan pasangan, saudara, atau orang-orang yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Ketika kematian datang, banyak hal yang dahulu dapat kita lakukan bersama mereka kini tinggal kenangan. Kita tidak lagi dapat berbicara, bersalaman, duduk bersama, atau sekadar mendengar suara mereka.

Namun, Islam mengajarkan bahwa kematian tidak serta-merta mengakhiri hubungan kita dengan orang yang telah mendahului kita. Orang tua boleh jadi telah wafat, tetapi kesempatan berbakti kepada mereka masih terbuka lebar. Saudara dan kerabat yang telah dijemput ajal pun masih bisa kita kasihi dan kita perbuat baik kepadanya.

Meskipun raga tidak dapat berjumpa, ada kebaikan yang dapat disampaikan, ada pahala yang bisa dihadiahkan, dan ada doa yang bisa dipanjatkan untuk mereka. Dalam hadits yang sangat masyhur, Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Latin: Idza matal insanu inqatha’a ‘anhu ‘amaluhu illa min tsalatsah: illa min shadaqatin jariyah, au ‘ilmin yuntafa’u bih, au waladin shalihin yad’u lah.

Artinya: “Apabila manusia meninggal, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Hadits ini mendorong anak agar senantiasa mendoakan keluarganya yang telah meninggal. Doa anak, juga doa kerabat yang saleh, adalah salah satu sumber kebaikan yang terus mengalir bagi orang tua di alam barzakh. Dalam kitab Mirqatul Mafatih juz 1 hlm. 285 ditegaskan:

وَإِنَّمَا ذَكَرَ دُعَاءَهُ تَحْرِيضًا لِلْوَلَدِ عَلَى الدُّعَاءِ لِأَبِيهِ

Latin: Wa innama dzakara du’a’ahu tahridhan lil waladi ‘alad-du’a’i li abih.

Artinya: “Disebutkannya doa anak saleh (sebagai bagian dari amal yang tidak terputus) merupakan dorongan bagi anak agar mendoakan orang tuanya.”

Perintah mendoakan orang beriman yang telah wafat

Perintah mendoakan keluarga dan sesama mukmin yang telah meninggal juga termaktub dalam QS. Al-Hasyr ayat 10. Allah swt. berfirman:

وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Latin: Wal ladzina ja’u min ba’dihim yaquluna rabbanaghfir lana wa li ikhwaninal ladzina sabaquna bil imani wa la taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu rabbana innaka ra’ufur rahim.

Artinya: “Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.'”

Ayat ini menjadi salah satu dalil kemuliaan para sahabat Nabi saw. Pada saat yang sama, ayat ini mengajarkan kita untuk senantiasa mendoakan mereka, sosok-sosok mulia yang telah lebih dahulu mendahului kita.

Dalam kitab Dalilul Falihin Syarah Riyadhis Shalihin juz 7 hlm. 298 disebutkan bahwa ayat ini merupakan pujian Allah kepada orang-orang mukmin yang senantiasa mendoakan ampunan dan kebaikan bagi para pendahulu mereka.

Hari Jumat, waktu yang baik untuk berdoa

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Karena itu, Islam sangat menganjurkan kita untuk selalu mendoakan keluarga, kerabat, dan orang-orang terdahulu yang telah meninggal. Salah satu waktu yang baik untuk mendoakan mereka adalah hari Jumat.

Hari Jumat disebut Sayyidul Ayyam, yang berarti “penghulu segala hari”. Jumat adalah hari yang mulia dan menjadi hari raya mingguan bagi umat Islam.

Bahkan, dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu yang sangat istimewa untuk berdoa. Pada waktu itu, doa yang dipanjatkan memiliki keutamaan besar, permohonan kepada Allah diharapkan dikabulkan, dan dosa yang dimohonkan ampunan dapat diampuni. Waktu istimewa ini dikenal dengan istilah Sa’atul Ijabah, yaitu waktu terkabulnya doa. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

Latin: ‘An Abi Hurairata anna Rasulallahi shallallahu ‘alaihi wa sallama dzakara yaumal jumu’ati faqala fihi sa’atun la yuwafiquha ‘abdun muslimun wa huwa qa’imun yushalli yas’alullaha ta’ala syai’an illa a’thahu iyyah, wa asyara biyadihi yuqallilumha.

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. menyebut hari Jumat lalu bersabda, ‘Pada hari itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim menemuinya dalam keadaan berdiri shalat seraya memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, kecuali Allah mengabulkan permintaannya.’ Beliau memberi isyarat dengan tangannya bahwa waktu itu sangat singkat.” (HR. Bukhari)

Doa dan sedekah untuk yang telah meninggal

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Selain menjadi hari penuh keberkahan dan waktu yang baik untuk berdoa, hari Jumat juga disebut dalam sebuah riwayat sebagai waktu ketika arwah orang-orang yang telah meninggal mengunjungi rumah keluarganya.

Dalam riwayat yang dinisbatkan kepada Imam al-Hakkari dalam kitab Hidayatul Ahya’ ilal Amwat, disebutkan bahwa arwah orang yang telah meninggal mengharapkan doa, istigfar, dan kiriman pahala sedekah dari keluarga mereka yang masih hidup. Dalam riwayat itu digambarkan pula bahwa mereka mendatangi rumah masing-masing dan menyeru keluarganya agar mendoakan serta bersedekah atas nama mereka. Berikut cuplikan riwayatnya:

اهدوا لموتاكم، قلنا: وما نهدي يا رسول الله الموتى؟ قال: الصدقة والدعاء ثم قال رسول الله ﷺ: إن أرواح المؤمنين يأتون كل جمعة إلى سماء الدنيا فيقفون بحذاء دورهم وبيوتهم… الحديث

Latin: Ihdu limautakum. Qulna: wa ma nuhdil mauta ya Rasulallah? Qala: ash-shadaqatu wad-du’a’. Tsumma qala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: inna arwahal mu’minina ya’tuna kulla jumu’atin ila sama’id-dunya, fayaqifuna bihidza’i dawrihim wa buyutihim… al-hadits.

Artinya: “Berilah hadiah kepada orang-orang yang telah meninggal di antara kalian.” Kami bertanya, “Apa yang kami hadiahkan kepada mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Sedekah dan doa.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya arwah orang-orang mukmin datang setiap Jumat ke langit dunia, lalu berdiri di depan rumah-rumah mereka…” (dan seterusnya).

Riwayat di atas mengingatkan kita bahwa orang yang telah meninggal sangat mengharapkan doa dan amal kebaikan dari keluarga yang masih hidup.

Karena itu, mari kita jadikan hari Jumat sebagai kesempatan memperbanyak amal, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk mengenang keluarga dan kerabat yang telah lebih dahulu meninggal. Mari kita doakan mereka, memohonkan ampun atas dosa-dosa mereka, dan bersedekah atas nama mereka. Semoga doa dan sedekah kita menjadi amal yang bermanfaat bagi mereka dan menjadi kebaikan bagi kita yang masih hidup.

Dengan doa yang tulus dan pahala sedekah yang dihadiahkan, kita berharap Allah swt. melimpahkan rahmat dan ampunan kepada mereka di alam kubur.

Semoga kita senantiasa dibimbing Allah swt. untuk terus berbakti kepada kedua orang tua dan tidak melupakan kerabat yang telah meninggal, dengan selalu mendoakan dan memohonkan ampun bagi mereka. Amin ya rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ؛ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

Latin: Barakallahu li wa lakum fil qur’anil karim, wa nafa’ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wadz-dzikril hakim, wa taqabbala minni wa minkum tilawatah, innahu huwas-sami’ul ‘alim.

Artinya: Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an yang mulia, memberi manfaat kepadaku dan kalian dengan ayat-ayat dan peringatan yang bijaksana di dalamnya, serta menerima bacaan Al-Qur’an dariku dan dari kalian. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَالْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.

Latin: Alhamdulillahi hamdan katsiran kama amar. Asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, irghaman liman jahada bihi wa kafar. Wa asyhadu anna sayyidana Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, sayyidul insi wal basyar. Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa ashhabihi ma ittashalat ‘ainun binazhar wa udzunun bikhabar.

Artinya: Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak sebagaimana yang Dia perintahkan. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai pukulan bagi orang yang mengingkari dan kufur kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa junjungan kami, Nabi Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya, pemimpin seluruh umat manusia. Ya Allah, limpahkan shalawat, salam, dan berkah kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya, selama mata masih memandang dan telinga masih mendengar kabar.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

Latin: Amma ba’du: fa ya ‘ibadallah, ittaqullaha fima amar, wantahu ‘amma naha wa zajar. Wa’lamu annallaha amarakum bi amrin bada’a fihi binafsihi wa tsanna bimala’ikatihil musabbihati biqudsih. Fa qala ta’ala: Innallaha wa mala’ikatahu yushalluna ‘alan nabiyy, ya ayyuhal ladzina amanu shallu ‘alaihi wa sallimu taslima.

Artinya: Selanjutnya, wahai hamba-hamba Allah, bertakwalah kepada Allah dalam apa yang Dia perintahkan, dan jauhilah apa yang Dia larang dan cegah. Ketahuilah, Allah memerintahkan kalian suatu perintah yang Dia mulai dari diri-Nya sendiri, lalu diikuti para malaikat-Nya yang bertasbih menyucikan-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya” (QS. Al-Ahzab: 56).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِيهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

Latin: Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, kama shallaita wa sallamta wa barakta ‘ala sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali sayyidina Ibrahima fil ‘alamin, innaka hamidun majid. Wardha Allahumma ‘anil khulafa’ir rasyidina sadatina Abi Bakrin wa ‘Umara wa ‘Utsmana wa ‘Aliyy, wa ‘an baqiyyatish shahabati wat-tabi’ina wa tabi’ihim bi ihsanin ila yaumiddin. Allahummaghfir lil mu’minina wal mu’minat, wal muslimina wal muslimat, al-ahya’i minhum wal amwat, innaka sami’un qaribun mujibud da’awat.

Artinya: Ya Allah, limpahkan shalawat, salam, dan berkah kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau limpahkan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya di seluruh alam. Sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, ridhailah para khulafaur rasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta seluruh sahabat, tabi’in, dan pengikut mereka dengan baik hingga hari kiamat. Ya Allah, ampunilah orang-orang mukmin dan muslim, laki-laki dan perempuan, yang masih hidup maupun yang telah wafat. Sungguh Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُورِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Latin: Allahumma a’izzal islama wal muslimin, wa adzillasy-syirka wal musyrikin, wanshur man nashara-d-din, wakhdzul man khadzalal muslimin, wa dammir a’da’ad-din, wa a’li kalimatika ila yaumiddin. Allahumma aminna fi duurina wa ashlih wulata umurina, waj’alillahumma wilayatana fiman khafaka wattaqak. Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj’alna lil muttaqina imama. Rabbana atina fid-dunya hasanatan wa fil akhirati hasanatan wa qina ‘adzaban-nar.

Artinya: Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kemusyrikan dan para pelakunya, tolonglah orang yang menolong agama, biarkan tanpa pertolongan orang yang menelantarkan kaum muslimin, hancurkanlah musuh-musuh agama, dan tinggikanlah kalimat-Mu hingga hari kiamat. Ya Allah, berikanlah rasa aman di rumah-rumah kami, perbaikilah para pemimpin kami, dan jadikanlah kepemimpinan kami berada pada orang yang takut dan bertakwa kepada-Mu. Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Furqan: 74). Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka (QS. Al-Baqarah: 201).

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Latin: ‘Ibadallah! Innallaha ya’murukum bil ‘adli wal ihsani wa ita’i dzil qurba wa yanha ‘anil fahsya’i wal munkari wal baghyi ya’izhukum la’allakum tadzakkarun. Fadzkurullahal ‘azhima yadzkurkum wasykuruhu ‘ala ni’amihi yazidkum, wa ladzikrullahi akbar, wallahu ya’lamu ma tashna’un.

Artinya: Wahai hamba Allah! Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kerabat, serta melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (QS. An-Nahl: 90). Maka ingatlah Allah Yang Maha Agung, niscaya Dia mengingat kalian; bersyukurlah atas nikmat-Nya, niscaya Dia menambah (nikmat) kalian. Sungguh mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya), dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Baca juga