Khutbah I
Di tengah kondisi ekonomi yang kian tidak menentu, bekerja untuk mencari nafkah yang halal menjadi tantangan tersendiri. Lapangan pekerjaan terbatas, dan batas antara halal dan haram kerap kabur. Sebagian orang akhirnya putus asa, bahkan menempuh jalan yang tidak diridhai agama.
Pembukaan (Muqaddimah)
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.
Latin: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa bihi nasta’inu ‘ala umuriddunya waddin, wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin, nabiyyina Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam, wa ‘ala alihi wa ashhabihi wat-tabi’in wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yaumiddin.
Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Kepada-Nya kita memohon pertolongan atas urusan dunia dan agama. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada nabi dan rasul yang paling mulia, Nabi kita Muhammad saw., juga kepada keluarga, para sahabat, para tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن.
Latin: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, al-malikul haqqul mubin. Wa asyhadu anna sayyidana Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, shadiqul wa’dil amin.
Artinya: Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, Raja Yang Maha Benar lagi Maha Nyata. Aku bersaksi bahwa junjungan kami, Nabi Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya, yang benar janjinya dan dapat dipercaya.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Latin: Amma ba’du, fa ya ayyuhal hadhirun, ittaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna illa wa antum muslimun. Fa qalallahu ta’ala: Huwal ladzi ja’ala lakumul ardha dzalulan famsyu fi manakibiha wa kulu min rizqihi wa ilaihin nusyur.
Artinya: Selanjutnya, wahai hadirin sekalian, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (QS. Ali Imran: 102). Allah Ta’ala berfirman: “Dialah yang menjadikan bumi untukmu dalam keadaan mudah, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya kamu kembali setelah dibangkitkan” (QS. Al-Mulk: 15).
Wasiat takwa
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Pada kesempatan yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada jamaah sekalian untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. Caranya, dengan istiqamah menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Dengan takwa, kita memperoleh kemuliaan dan keselamatan di dunia maupun akhirat. Dengan takwa pula, hidup menjadi lebih mudah dan rezeki datang melimpah, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ath-Thalaq ayat 2-3:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Latin: Wa may yattaqillaha yaj’al lahu makhraja. Wa yarzuqhu min haitsu la yahtasib. Wa may yatawakkal ‘alallahi fa huwa hasbuh.
Artinya: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.”
Kondisi ekonomi dan godaan jalan pintas
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Akhir-akhir ini kita dihadapkan pada kondisi ekonomi yang semakin tidak menentu. Persaingan mendapatkan pekerjaan makin ketat, lowongan makin sempit, dan angka pengangguran meningkat. Harga kebutuhan pokok pun terus naik. Mencari nafkah untuk diri dan keluarga menjadi tidak mudah, apalagi ketika penghasilan tidak sebanding dengan kebutuhan meski sudah bekerja keras.
Ada yang bekerja dari pagi hingga petang, tetapi hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ada pedagang yang harus bertahan di tengah persaingan dan pembeli yang tidak selalu ramai. Ada pula saudara kita yang sudah mengirim lamaran ke banyak tempat dan mengikuti berbagai seleksi, tetapi belum juga mendapat panggilan kerja.
Keadaan seperti ini memicu kegelisahan, kekhawatiran, bahkan keputusasaan. Lebih jauh, desakan ekonomi kadang membuat orang tergoda mengambil jalan pintas, tanpa lagi mempertimbangkan apakah penghasilannya halal atau melanggar ketentuan agama.
Islam mendorong kita terus berusaha
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Islam menuntun kita untuk terus berusaha mencari nafkah dan karunia Allah sebagai bekal kehidupan di dunia. Bumi ini milik Allah, dan rezeki manusia telah disediakan-Nya. Karena itu, jangan sampai kita kehilangan semangat mencari karunia tersebut. Dalam QS. Al-Mulk ayat 15, Allah swt. berfirman:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Latin: Huwal ladzi ja’ala lakumul ardha dzalulan famsyu fi manakibiha wa kulu min rizqihi wa ilaihin nusyur.
Artinya: “Dialah yang menjadikan bumi untukmu dalam keadaan mudah, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya kamu kembali setelah dibangkitkan.”
Ayat ini menunjukkan nikmat Allah berupa kemudahan memperoleh rezeki di bumi. Sayyid Muhammad Thanthawi dalam At-Tafsirul Wasith juz 15 hlm. 19 menjelaskan bahwa ayat ini sekaligus mendorong umat Islam untuk terus bekerja memenuhi kebutuhan hidup.
Senada dengan itu, Syaikh Musthafa al-Maraghi dalam Tafsir al-Maraghi juz 29 hlm. 15 menegaskan bahwa ayat ini mengandung anjuran berniaga dan bekerja:
وَفِي الْآيَةِ إِيمَاءٌ إِلَى نَدْبِ التِّجَارَةِ وَالتَّكَسُّبِ بِجَمِيعِ ضُرُوبِهِ
Latin: Wa fil ayati ima’un ila nadbit-tijarati wat-takassubi bi jami’i dhurubih.
Artinya: “Dalam ayat ini terdapat isyarat berupa anjuran untuk berdagang dan bekerja dengan segala bentuknya.”
Bekerja untuk nafkah keluarga adalah kewajiban
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Perintah berjalan ke segala penjuru bumi dalam ayat tadi mengajarkan kita untuk terus berusaha mencari karunia Allah. Islam tidak pernah mengajarkan umatnya duduk pasrah berpangku tangan. Bahkan, bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri dan nafkah keluarga hukumnya wajib.
Kitab Bariqah Mahmudiyah juz 1 hlm. 141 menjelaskan bahwa bekerja untuk mencukupi kebutuhan diri dan keluarga hukumnya wajib. Jika dilandasi niat baik, yaitu menjalankan kewajiban agama dan memenuhi kebutuhan keluarga, pekerjaan itu bernilai ibadah.
Sebaliknya, orang yang mampu bekerja tetapi sengaja bermalas-malasan dan membiarkan anak istrinya terlantar telah berbuat dosa, karena melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya. Rasulullah saw. bersabda dalam hadits riwayat Abu Dawud dan an-Nasa’i:
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
Latin: Kafa bil mar’i itsman an yudhayyi’a man yaqut.
Artinya: “Cukuplah seseorang dianggap berdosa apabila ia menyia-nyiakan (menelantarkan) orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i)
Teguh pada prinsip agama: carilah yang halal
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Satu hal yang perlu diingat: dalam mencari nafkah, kita harus tetap teguh pada prinsip agama. Jangan sampai usaha kita menabrak batas syariat, dan jangan sampai darah daging kita beserta keluarga tumbuh dari sesuatu yang haram. Dalam riwayat al-Baihaqi, Rasulullah saw. bersabda:
طَلَبُ كَسْبِ الْحَلَالِ فَرِيضَةٌ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ
Latin: Thalabu kasbil halali faridhatun ba’dal faridhah.
Artinya: “Mencari penghasilan yang halal adalah kewajiban setelah kewajiban (ibadah pokok).” (HR. al-Baihaqi)
Hadits ini menjadi acuan agar setiap muslim selektif dalam memilih pekerjaan. Apalagi di zaman yang penuh ketidakjelasan ini, kehati-hatian dalam mencari dan memilih pekerjaan adalah keharusan.
Kitab Mirqatul Mafatih juz 5 hlm. 1903 menjelaskan bahwa mencari pekerjaan halal adalah kewajiban pokok dan fondasi utama sikap wara’ dan ketakwaan seseorang. Salah satu sumber keberkahan hidup adalah harta halal yang kita konsumsi sehari-hari.
Sebaliknya, jika harta yang kita makan dan kita gunakan untuk menafkahi keluarga diperoleh dengan cara yang diharamkan, keberkahan hidup akan hilang. Hidup dipenuhi kegelisahan, harta kehilangan berkahnya, dan doa tidak terkabul selama harta haram itu masih mengalir dalam darah daging kita. Kelak di akhirat, orang yang menghalalkan segala cara demi keuntungan dunia diancam dengan siksaan yang pedih.
Jangan menghalalkan segala cara
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Karena itu, jangan sampai kesulitan ekonomi mendorong kita menghalalkan segala cara. Pedagang tidak boleh mengurangi timbangan demi meraih untung. Pegawai tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan haknya. Siapa pun, dengan profesi apa pun, tidak boleh menjadikan desakan ekonomi sebagai alasan untuk menipu atau berbuat curang yang merugikan orang lain.
Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah swt. agar kita diberi kekuatan untuk terus menunaikan kewajiban, serta kemudahan dalam mencari nafkah yang halal tanpa melanggar batas syariat. Amin ya rabbal ‘alamin.
Penutup Khutbah I
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ؛ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
Latin: Barakallahu li wa lakum fil qur’anil karim, wa nafa’ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wadz-dzikril hakim, wa taqabbala minni wa minkum tilawatah, innahu huwas-sami’ul ‘alim.
Artinya: Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an yang mulia, memberi manfaat kepadaku dan kalian dengan ayat-ayat dan peringatan yang bijaksana di dalamnya, serta menerima bacaan Al-Qur’an dariku dan dari kalian. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Khutbah II
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَالْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.
Latin: Alhamdulillahi hamdan katsiran kama amar. Asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, irghaman liman jahada bihi wa kafar. Wa asyhadu anna sayyidana Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, sayyidul insi wal basyar. Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa ashhabihi ma ittashalat ‘ainun binazhar wa udzunun bikhabar.
Artinya: Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak sebagaimana yang Dia perintahkan. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai pukulan bagi orang yang mengingkari dan kufur kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa junjungan kami, Nabi Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya, pemimpin seluruh umat manusia. Ya Allah, limpahkan shalawat, salam, dan berkah kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya, selama mata masih memandang dan telinga masih mendengar kabar.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
Latin: Amma ba’du: fa ya ‘ibadallah, ittaqullaha fima amar, wantahu ‘amma naha wa zajar. Wa’lamu annallaha amarakum bi amrin bada’a fihi binafsihi wa tsanna bimala’ikatihil musabbihati biqudsih. Fa qala ta’ala: Innallaha wa mala’ikatahu yushalluna ‘alan nabiyy, ya ayyuhal ladzina amanu shallu ‘alaihi wa sallimu taslima.
Artinya: Selanjutnya, wahai hamba-hamba Allah, bertakwalah kepada Allah dalam apa yang Dia perintahkan, dan jauhilah apa yang Dia larang dan cegah. Ketahuilah, Allah memerintahkan kalian suatu perintah yang Dia mulai dari diri-Nya sendiri, lalu diikuti para malaikat-Nya yang bertasbih menyucikan-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya” (QS. Al-Ahzab: 56).
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِيهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Latin: Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, kama shallaita wa sallamta wa barakta ‘ala sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali sayyidina Ibrahima fil ‘alamin, innaka hamidun majid. Wardha Allahumma ‘anil khulafa’ir rasyidina sadatina Abi Bakrin wa ‘Umara wa ‘Utsmana wa ‘Aliyy, wa ‘an baqiyyatish shahabati wat-tabi’ina wa tabi’ihim bi ihsanin ila yaumiddin.
Artinya: Ya Allah, limpahkan shalawat, salam, dan berkah kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau limpahkan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya di seluruh alam. Sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, ridhailah para khulafaur rasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta seluruh sahabat, tabi’in, dan pengikut mereka dengan baik hingga hari kiamat.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Latin: Allahummaghfir lil mu’minina wal mu’minat, wal muslimina wal muslimat, al-ahya’i minhum wal amwat, innaka sami’un qaribun mujibud da’awat. Allahumma a’izzal islama wal muslimin, wa adzillasy-syirka wal musyrikin, wanshur man nashara-d-din, wakhdzul man khadzalal muslimin, wa dammir a’da’ad-din, wa a’li kalimatika ila yaumiddin.
Artinya: Ya Allah, ampunilah orang-orang mukmin dan muslim, laki-laki dan perempuan, yang masih hidup maupun yang telah wafat. Sungguh Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa. Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kemusyrikan dan para pelakunya, tolonglah orang yang menolong agama, biarkan tanpa pertolongan orang yang menelantarkan kaum muslimin, hancurkanlah musuh-musuh agama, dan tinggikanlah kalimat-Mu hingga hari kiamat.
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُورِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Latin: Allahumma aminna fi duurina wa ashlih wulata umurina, waj’alillahumma wilayatana fiman khafaka wattaqak. Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj’alna lil muttaqina imama. Rabbana atina fid-dunya hasanatan wa fil akhirati hasanatan wa qina ‘adzaban-nar.
Artinya: Ya Allah, berikanlah rasa aman di rumah-rumah kami, perbaikilah para pemimpin kami, dan jadikanlah kepemimpinan kami berada pada orang yang takut dan bertakwa kepada-Mu. Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Furqan: 74). Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka (QS. Al-Baqarah: 201).
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Latin: ‘Ibadallah! Innallaha ya’murukum bil ‘adli wal ihsani wa ita’i dzil qurba wa yanha ‘anil fahsya’i wal munkari wal baghyi ya’izhukum la’allakum tadzakkarun. Fadzkurullahal ‘azhima yadzkurkum, wasykuruhu ‘ala ni’amihi yazidkum, wa ladzikrullahi akbar, wallahu ya’lamu ma tashna’un.
Artinya: Wahai hamba Allah! Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kerabat, serta melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (QS. An-Nahl: 90). Maka ingatlah Allah Yang Maha Agung, niscaya Dia mengingat kalian. Bersyukurlah atas nikmat-Nya, niscaya Dia menambah (nikmat) kalian. Sungguh mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya), dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.




