Udara yang kita hirup setiap hari semestinya menjadi sumber kehidupan, bukan ancaman bagi kesehatan. Namun, kenyataan di sekitar kita menunjukkan persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Asap kendaraan bermotor, pembakaran sampah, aktivitas industri, hingga kebakaran hutan dan lahan dapat mencemari udara yang dibutuhkan manusia untuk bernapas.
Berikut teks khutbah Jumat berjudul “Khutbah Jumat: Hak atas Udara Bersih untuk Menjaga Kesehatan Pernapasan”. Semoga bermanfaat.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.
Latin: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa bihi nasta’inu ‘ala umuriddunya waddin, wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin, nabiyyina Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam, wa ‘ala alihi wa ashhabihi wat-tabi’in wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yaumiddin.
Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Kepada-Nya kita memohon pertolongan atas urusan dunia dan agama. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada nabi dan rasul yang paling mulia, Nabi kita Muhammad saw., juga kepada keluarga, para sahabat, para tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن.
Latin: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, al-malikul haqqul mubin. Wa asyhadu anna sayyidana Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, shadiqul wa’dil amin.
Artinya: Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, Raja Yang Maha Benar lagi Maha Nyata. Aku bersaksi bahwa junjungan kami, Nabi Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya, yang benar janjinya dan dapat dipercaya.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: وَالْاَرْضَ وَضَعَهَا لِلْاَنَامِ ۙ ١٠ فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّالنَّخْلُ ذَاتُ الْاَكْمَامِ ۖ ١١
Latin: Amma ba’du fa ya ayyuhal hadhirun. Ittaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna illa wa antum muslimun. Fa qalallahu ta’ala: Wal ardha wadha’aha lil anam. Fiha fakihatun wan-nakhlu dzatul akmam.
Artinya: Selanjutnya, wahai hadirin sekalian, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (QS. Ali Imran: 102). Allah Ta’ala berfirman: “Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya). Di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang” (QS. Ar-Rahman: 10-11).
Syukur atas nikmat yang tak terhitung
Ma’asyiral Jamaah Jumat hafidzakumullah,
Pada kesempatan Jumat kali ini, khatib mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah sekaligus menguatkan syukur atas nikmat yang tak terhitung yang telah dianugerahkan kepada kita. Allah menegaskan bahwa jika kita mencoba menghitung nikmat-Nya, kita pasti tidak akan sanggup. Allah berfirman:
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ١٨
Latin: Wa in ta’uddu ni’matallahi la tuhshuha, innallaha la ghafurur rahim.
Artinya: “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di antara sekian banyak nikmat Allah yang kita rasakan setiap hari, ada satu nikmat yang hampir tidak pernah kita sadari, padahal tanpanya kehidupan manusia terancam. Nikmat itu adalah udara, khususnya udara bersih yang kita hirup untuk mempertahankan hidup.
Cobalah kita renungkan sejenak. Manusia membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, tetapi tanpa makanan tubuh masih dapat bertahan selama jangka waktu tertentu. Demikian pula air; meski sangat dibutuhkan, manusia masih dapat bertahan sementara waktu tanpa meminumnya. Namun, kebutuhan terhadap udara jauh lebih mendesak. Dalam hitungan menit tanpa oksigen yang memadai, fungsi vital tubuh terganggu dan nyawa manusia terancam.
Setiap hari kita menghirup udara tanpa membayar sedikit pun untuk setiap tarikan napas. Allah menyediakan nikmat ini bagi manusia tanpa membedakan status sosial, kekayaan, jabatan, maupun kedudukan. Orang kaya dan orang miskin, pejabat dan rakyat biasa, semuanya membutuhkan udara untuk hidup.
Akan tetapi, nikmat yang begitu mendasar ini sering luput dari perhatian. Kita baru menyadari betapa berharganya udara ketika kualitasnya memburuk, asap memenuhi lingkungan, atau gangguan pernapasan mulai menyerang. Ironisnya, berbagai aktivitas manusia justru mencemari udara yang menjadi sumber kehidupan itu.
Karena itu, menjaga udara bersih bukan sekadar urusan kesehatan atau persoalan teknis lingkungan. Lebih dari itu, ia berkaitan dengan rasa syukur kepada Allah, tanggung jawab moral terhadap sesama, dan kewajiban kita untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi.
Polusi udara di Indonesia
Ma’asyiral Jamaah Jumat hafidzakumullah,
Laporan Air Quality Life Index (AQLI) berjudul Polusi Udara Indonesia dan Dampaknya terhadap Usia Harapan Hidup, yang dirilis pada September 2021 dengan data tahun 2019, menyebutkan bahwa rata-rata orang Indonesia diperkirakan dapat kehilangan 2,5 tahun usia harapan hidupnya akibat paparan polusi udara.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa lebih dari 93 persen dari 262 juta penduduk Indonesia tinggal di wilayah dengan tingkat partikel halus PM2.5 yang melampaui pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Buruknya kualitas udara ini antara lain disebabkan oleh kerusakan lingkungan, seperti kebakaran hutan dan asap kendaraan.
Bumi untuk seluruh makhluk
Islam, sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, telah memberi tuntunan agar manusia menjaga dan memelihara bumi. Alam semesta bukan sesuatu yang boleh diperlakukan sesuka hati. Bumi, air, udara, tumbuhan, dan berbagai makhluk hidup adalah ciptaan Allah yang keberadaannya memiliki tujuan dan manfaat. Allah swt. berfirman dalam QS. Ar-Rahman ayat 10-11:
وَالْاَرْضَ وَضَعَهَا لِلْاَنَامِ ۙ ١٠ فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّالنَّخْلُ ذَاتُ الْاَكْمَامِ ۖ ١١
Latin: Wal ardha wadha’aha lil anam. Fiha fakihatun wan-nakhlu dzatul akmam.
Artinya: “Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya). Di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa bumi adalah tempat hidup bagi makhluk-makhluk Allah. Bumi menyediakan berbagai sumber daya yang menopang kehidupan, termasuk tumbuhan, air, dan lingkungan yang memungkinkan manusia serta makhluk lain hidup dan berkembang.
Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi menjelaskan bahwa bumi tidak hanya diperuntukkan bagi manusia. Makhluk-makhluk Allah yang lain juga berhak hidup dan memperoleh manfaat dari alam.
الأَنَامُ النَّاسُ عَنِ ابْنِ عَبَّاس. الْحَسَنُ: الجِنُّ وَالْإِنْسُ. الضَّحَّاكُ: كُلُّ مَا دَبَّ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ، وَهَذَا عَامٌّ
Latin: Al-anamun nasu ‘an Ibni ‘Abbas. Al-Hasan: al-jinnu wal ins. Adh-Dhahhak: kullu ma dabba ‘ala wajhil ardh, wa hadza ‘amm.
Artinya: “Al-anam adalah manusia menurut Ibnu Abbas. Menurut Al-Hasan, jin dan manusia. Ad-Dhahhak berpendapat bahwa al-anam adalah segala sesuatu yang melata di atas bumi (manusia, jin, dan binatang), dan pendapat ini lebih umum.”
Tanggung jawab menjaga keseimbangan alam
Ma’asyiral Jamaah Jumat hafidzakumullah,
Oleh karena itu, kedudukan kita sebagai pengelola bumi harus disertai tanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Kita boleh memanfaatkan kekayaan bumi, tetapi bukan berarti bebas mengeksploitasinya tanpa batas. Rasulullah mengajarkan kita untuk tidak melakukan sesuatu yang membahayakan. Rasulullah saw. bersabda:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
Latin: La dharara wa la dhirar.
Artinya: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah)
Dengan kesadaran ini, kita berharap dapat terus merasakan udara yang berkualitas dan terhindar dari berbagai penyakit pernapasan. Kita harus bersyukur karena setiap hari dapat menghirup udara dengan leluasa tanpa mengeluarkan biaya. Rasulullah saw. bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Latin: Ni’matani maghbunun fihima katsirun minan nas: ash-shihhatu wal faragh.
Artinya: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)
Dalam Islam, menjaga kesehatan diri memiliki kedudukan penting. Allah swt. berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 195:
وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ١٩٥
Latin: Wa la tulqu bi aidikum ilat-tahlukah, wa ahsinu, innallaha yuhibbul muhsinin.
Artinya: “Dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tanganmu sendiri, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
Tubuh kita adalah amanah dari Allah. Mata, telinga, tangan, kaki, jantung, dan paru-paru adalah anggota tubuh yang kelak harus kita pertanggungjawabkan penggunaannya. Maka, menjaga kesehatan pernapasan bukan sekadar urusan medis. Di dalamnya terdapat nilai syukur, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Ada hubungan yang sangat erat antara menjaga lingkungan dan menjaga kesehatan pernapasan. Ketika kita tidak membakar hutan, sesungguhnya kita sedang melindungi paru-paru orang lain. Ketika kita menanam pohon dan mengurangi pencemaran udara, kita turut berikhtiar menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi generasi mendatang.
Doa kesehatan
Mari kita terus berikhtiar menjaga kesehatan tubuh dan berdoa sebagaimana diajarkan Rasulullah saw.:
اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Latin: Allahumma ‘afini fi badani, Allahumma ‘afini fi sam’i, Allahumma ‘afini fi bashari, la ilaha illa anta.
Artinya: “Ya Allah, sehatkanlah badanku. Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku. Ya Allah, sehatkanlah penglihatanku. Tidak ada tuhan selain Engkau.” (HR. Abu Dawud)
Semoga Allah swt. memberi hidayah kepada kita semua untuk menjadi pribadi yang senantiasa menjaga lingkungan dan mewujudkan udara yang sehat dan berkualitas bagi keberlangsungan hidup di dunia. Amin ya rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Latin: Barakallahu li wa lakum fil qur’anil ‘azhim, wa nafa’ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wadz-dzikril hakim, wa taqabbalallahu minni wa minkum tilawatah, innahu huwas-sami’ul ‘alim. Aqulu qawli hadza wa astaghfirullahal ‘azhima li wa lakum wa li sa’iril muslimina wal muslimat, fastaghfiruh, innahu huwal ghafurur rahim.
Artinya: Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an yang agung, memberi manfaat kepadaku dan kalian dengan ayat-ayat dan peringatan yang bijaksana di dalamnya, serta menerima bacaan Al-Qur’an dariku dan dari kalian. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Aku ucapkan perkataanku ini dan aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung untukku, untuk kalian, dan untuk seluruh muslimin dan muslimat. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِتِّحَادِ وَالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Latin: Alhamdulillahil ladzi amarana bil ittihadi wal i’tishami bihablillahil matin. Asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, iyyahu na’budu wa iyyahu nasta’in. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, al-mab’utsu rahmatan lil ‘alamin. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa ashhabihi ajma’in. Ittaqullaha mastatha’tum wa sari’u ila maghfirati rabbil ‘alamin. Innallaha wa mala’ikatahu yushalluna ‘alan nabiyy, ya ayyuhal ladzina amanu shallu ‘alaihi wa sallimu taslima. Wa shallallahu ‘ala sayyidina wa maulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.
Artinya: Segala puji bagi Allah yang memerintahkan kita untuk bersatu dan berpegang teguh pada tali Allah yang kokoh. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya; hanya kepada-Nya kami menyembah dan hanya kepada-Nya kami memohon pertolongan. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam. Ya Allah, limpahkan shalawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Bertakwalah kepada Allah semampu kalian dan bersegeralah menuju ampunan Tuhan semesta alam. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya (QS. Al-Ahzab: 56). Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan dan pelindung kami, Nabi Muhammad, serta keluarga dan sahabatnya.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Latin: Allahummaghfir lil mu’minina wal mu’minat, wal muslimina wal muslimat, al-ahya’i minhum wal amwat, innaka sami’un qaribun mujibud da’awat, wa ya qadhiyal hajat, birahmatika ya arhamar rahimin.
Artinya: Ya Allah, ampunilah orang-orang mukmin dan muslim, laki-laki dan perempuan, yang masih hidup maupun yang telah wafat. Sungguh Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa. Wahai Pemenuh segala hajat, dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Latin: Allahumma inna na’udzu bika min ‘adzabi jahannam, wa na’udzu bika min ‘adzabil qabr, wa na’udzu bika min fitnatil masihid dajjal, wa na’udzu bika min fitnatil mahya wal mamat. Allahumma inna na’udzu bika minal hammi wal hazan, wa na’udzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa na’udzu bika minal jubni wal bukhl, wa na’udzu bika min ghalabatid daini wa qahrir rijal. Rabbana atina fid-dunya hasanatan wa fil akhirati hasanatan wa qina ‘adzaban-nar.
Artinya: Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari azab Jahanam, azab kubur, fitnah Dajjal, serta fitnah kehidupan dan kematian. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, dari lilitan utang dan tekanan orang lain. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Latin: ‘Ibadallah, innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsani wa ita’i dzil qurba wa yanha ‘anil fahsya’i wal munkari wal baghyi ya’izhukum la’allakum tadzakkarun. Fadzkurullahal ‘azhima yadzkurkum wad’uhu yastajib lakum wa ladzikrullahi akbar.
Artinya: Wahai hamba Allah, sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kerabat, serta melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (QS. An-Nahl: 90). Maka ingatlah Allah Yang Maha Agung, niscaya Dia mengingat kalian; berdoalah kepada-Nya, niscaya Dia mengabulkan doa kalian. Sungguh mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya).




