Dakwah

Khutbah Jumat: Pentingnya Menjaga Privasi Anak di Media Sosial

Khutbah Jumat Pentingnya Menjaga Privasi Anak di Media Sosial

Salah satu tanggung jawab besar orang tua terhadap anak adalah menjaga dan melindungi mereka. Tanggung jawab tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan hidup dan pendidikan, tetapi juga dengan kehormatan, keamanan, dan privasi mereka, khususnya di era media sosial seperti sekarang.

Berikut naskah khutbah Jumat berjudul “Khutbah Jumat: Pentingnya Menjaga Privasi Anak di Media Sosial”. Semoga bermanfaat.

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَظْهَرَ لَنَا ثَمَرَ الرَّوْضِ مِنْ كِمَامِهِ، وَأَسْبَغَ عَلَيْنَا بِفَضْلِهِ مَلَابِسَ إِنْعَامِهِ، وَبَصَّرَنَا مِنْ شَرْعِهِ بِحَلَالِهِ وَحَرَامِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُؤَيَّدُ بِمُعْجِزَاتِهِ الْعِظَامِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْغُرِّ الْكِرَامِ.

Latin: Alhamdulillahil ladzi azhhara lana tsamaraur raudhi min kimamih, wa asbagha ‘alaina bifadhlihi malabisa in’amih, wa bashsharana min syar’ihi bihalalihi wa haramih. Asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, dzul jalali wal ikram, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhul mu’ayyadu bimu’jizatihil ‘izham. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa ashhabihil ghurril kiram.

Artinya: Segala puji bagi Allah yang menampakkan kepada kita buah-buahan taman dari kelopaknya, yang dengan karunia-Nya melimpahkan kepada kita pakaian nikmat-Nya, dan yang memberi kita pandangan tentang syariat-Nya berupa halal dan haram. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Pemilik keagungan dan kemuliaan. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang dikuatkan dengan mukjizat-mukjizat yang agung. Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya yang mulia lagi bercahaya.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Latin: Amma ba’du: fa ya ‘ibadal karim, fa inni ushikum bitaqwallahil hakim, al-qa’ili fi kitabihil qur’anil ‘azhim: Ya ayyuhal ladzina amanu qu anfusakum wa ahlikum nara.

Artinya: Selanjutnya, wahai hamba-hamba Yang Maha Mulia, aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah Yang Maha Bijaksana, yang berfirman dalam kitab-Nya, Al-Qur’an yang agung: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6).

Wasiat takwa

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mari kita awali khutbah ini dengan ucapan syukur, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, atas segala nikmat dan karunia Allah, sehingga pada hari yang penuh berkah ini kita masih diberi kesempatan berkumpul dan menunaikan shalat Jumat.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Di tengah kehidupan yang penuh ujian, godaan, dan keadaan yang dapat membuat kita lalai, takwa adalah bekal yang sangat kita butuhkan. Dengan takwa, kita mampu mengendalikan diri dan memilih jalan yang Allah ridhai. Karena itu, mari kita perkuat ketakwaan dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Media sosial dan risiko bagi anak

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Hari ini media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Berbagai momen bersama keluarga mudah dibagikan, termasuk aktivitas anak ketika bermain, belajar, berwisata, atau merayakan sesuatu. Namun di balik kebiasaan itu, kita perlu menyadari bahwa media sosial juga dapat dipakai untuk melakukan kejahatan terhadap anak.

Pemantauan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada Januari-April 2021 mencatat 35 kasus eksploitasi seksual, eksploitasi ekonomi, dan pekerja anak, dengan 234 anak menjadi korban. KPAI menyebut 60 persen kasus yang terungkap menggunakan media sosial.

Data ini memang berasal dari tahun 2021, tetapi memberi pelajaran penting bagi kita semua bahwa kehidupan anak di ruang digital membutuhkan perhatian serius. Foto anak, nama lengkap, sekolah, alamat rumah, lokasi keberadaan, dan kebiasaan sehari-hari yang dibagikan di media sosial dapat tersebar luas di luar kendali orang tua. Di sinilah pentingnya menjaga privasi anak.

Anak adalah amanah yang harus dilindungi

Secara umum, prinsip menjaga diri dan keluarga, termasuk anak, telah ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an. Allah swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Latin: Ya ayyuhal ladzina amanu qu anfusakum wa ahlikum nara.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini memang berbicara tentang menjaga diri dan keluarga dari api neraka, bukan secara khusus tentang privasi anak di media sosial. Namun di dalamnya terdapat prinsip bahwa keluarga adalah amanah yang harus dijaga dan dilindungi, termasuk anak. Dalam kajian maqashid syariah, prinsip ini dikenal dengan istilah hifzhul kulliyyat, yaitu menjaga kemaslahatan pokok yang menjadi perhatian syariat.

Salah satu poin utamanya adalah menjaga keselamatan jiwa, dengan memastikan setiap individu terlindungi dari segala bentuk bahaya yang mengancam keselamatan, kehormatan, dan kemaslahatannya. Anak termasuk di dalamnya. Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani menjelaskan hal ini dalam kitab Ats-Tsimarul Yani’ah fi Riyadhil Badi’ah hlm. 30:

وَمِنْهُ حِفْظُ الْكُلِّيَّاتِ وَهِيَ الدِّيْنُ وَالنَّفْسُ وَالنَّسَبُ وَالْمَالُ وَالْعِرْضُ وَالْعَقْلُ… وَحِفْظُ النَّفْسِ يَكُوْنُ بِصِيَانَتِهَا عَمَّا يَضُرُّهَا، وَالْمُرَادُ بِالنَّفْسِ هُنَا النَّفْسُ الْعَاقِلَةُ الْمُحْتَرَمَةُ فَيَدْخُلُ الصَّغِيْرُ وَالْمَجْنُونُ

Latin: Wa minhu hifzhul kulliyyat, wa hiyad-dinu wan-nafsu wan-nasabu wal malu wal ‘irdhu wal ‘aql… wa hifzhun-nafsi yakunu bishiyanatiha ‘amma yadhurruha, wal muradu bin-nafsi huna an-nafsul ‘aqilatul muhtaramah, fayadkhulush-shaghiru wal majnun.

Artinya: “Di antaranya (yang wajib dilaksanakan) adalah menjaga hal-hal pokok, yaitu agama, jiwa, keturunan, harta, kehormatan, dan akal… Memelihara jiwa dilakukan dengan menjaganya dari segala sesuatu yang membahayakannya. Yang dimaksud ‘jiwa’ di sini adalah jiwa manusia yang berakal dan dimuliakan, sehingga mencakup anak kecil dan orang gila.”

Jika menjaga jiwa berarti menjauhkannya dari segala hal yang membahayakan, maka di zaman sekarang hal itu mencakup kehidupan anak di media sosial. Informasi pribadi yang tersebar dapat disalahgunakan untuk eksploitasi seksual, perundungan, pelecehan, bahkan mengancam keselamatan anak.

Berhati-hati sebelum mengunggah

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Karena itu, orang tua perlu berhati-hati sebelum mengunggah sesuatu tentang anak. Tidak semua hal yang kita miliki sebagai orang tua harus diketahui semua orang. Foto anak berseragam sekolah mungkin tampak biasa, tetapi jika disertai nama sekolah, lokasi, hingga jadwal sekolah, informasi itu sudah menjadi bagian dari identitas dan privasi anak.

Demikian pula foto anak yang sedang menangis, sakit, tidur, atau berganti pakaian. Bagi orang tua mungkin hanya candaan, tetapi bagi anak, foto itu bisa memalukan ketika ia dewasa. Bahkan setelah foto dihapus, bisa jadi sudah disimpan, disebarkan, atau digunakan orang lain.

Hal ini selaras dengan prinsip perlindungan hak manusia yang bertujuan menjaga kepentingan dan kemaslahatan setiap orang, baik yang berkaitan dengan kesehatan, anak, harta, maupun keamanan. Syekh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili menjelaskan dalam Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh jilid IV hlm. 370:

حَقُّ الْإِنْسَانِ أَوِ الْعَبْدِ: وَهُوَ مَا يُقْصَدُ مِنْهُ حِمَايَةُ مَصْلَحَةِ الشَّخْصِ، سَوَاءٌ أَكَانَ الْحَقُّ عَامًّا كَالْحِفَاظِ عَلَى الصِّحَّةِ وَالْأَوْلَادِ وَالْأَمْوَالِ وَتَحْقِيْقِ الْأَمْنِ

Latin: Haqqul insani awil ‘abd: wa huwa ma yuqshadu minhu himayatu mashlahatisy-syakhsh, sawa’un a kanal haqqu ‘amman kal-hifzhi ‘alash-shihhati wal awladi wal amwali wa tahqiqil amn.

Artinya: “Hak manusia atau hamba adalah sesuatu yang tujuannya melindungi kemaslahatan seseorang, baik hak yang bersifat umum, seperti menjaga kesehatan, anak-anak, harta, dan terwujudnya rasa aman.”

Penutup

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Dengan demikian, menjaga privasi anak di media sosial adalah bagian dari tanggung jawab orang tua dalam melindunginya. Tidak semua momen tentang anak harus dibagikan kepada khalayak umum. Sebelum mengunggah sesuatu tentang mereka, pertimbangkan dahulu manfaat dan risikonya, sebab apa yang bagi kita hanya unggahan bisa menjadi bagian dari kehidupan pribadi anak yang terbawa hingga dewasa.

Demikian khutbah Jumat tentang pentingnya menjaga privasi anak di media sosial. Semoga membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Latin: Barakallahu li wa lakum, wa nafa’ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wadz-dzikril hakim, wa taqabbala minni wa minkum jami’a a’malina innahu huwal hakimul ‘alim. Aqulu qawli hadza wa astaghfirullaha li wa lakum wa lil muslimin, fastaghfiruh innahu huwal ghafurur rahim.

Artinya: Semoga Allah memberkahi aku dan kalian, memberi manfaat kepadaku dan kalian dengan ayat-ayat dan peringatan yang bijaksana di dalamnya, serta menerima dariku dan dari kalian seluruh amal kita. Sesungguhnya Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Aku ucapkan perkataanku ini dan aku memohon ampun kepada Allah untukku, untuk kalian, dan untuk kaum muslimin. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِلٰهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

Latin: Alhamdulillahi hamdan kama amar. Asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, ilahun lam yazal ‘ala kulli syai’in wakila. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu wa habibuhu wa khalilih, akramul awwalina wal akhirin, al-mab’utsu rahmatan lil ‘alamin. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa ashhabihi wa man kana lahum minat-tabi’in, shalatan da’imatan bidawamis-samawati wal aradhin.

Artinya: Segala puji bagi Allah, pujian sebagaimana yang Dia perintahkan. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Tuhan yang senantiasa menjadi pelindung atas segala sesuatu. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba, utusan, kekasih, dan khalil-Nya, manusia paling mulia dari generasi terdahulu dan terkemudian, yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam. Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat, dan para tabi’in yang mengikuti mereka, shalawat yang kekal sepanjang langit dan bumi.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Latin: Amma ba’du: fa ya ayyuhal hadhirun, ittaqullaha haqqa tuqatihi wa dzarul fawahisya ma zhahara minha wa ma bathan. Wa hafizhu ‘alath-tha’ati wa hudhuril jum’ati wal jama’ati wash-shaumi wa jami’il ma’murati wal wajibat. Wa’lamu annallaha amarakum bi amrin bada’a binafsih, wa tsanna bimala’ikatihil musabbihati biqudsih. Innallaha wa mala’ikatahu yushalluna ‘alan nabiyy, ya ayyuhal ladzina amanu shallu ‘alaihi wa sallimu taslima.

Artinya: Selanjutnya, wahai hadirin, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan tinggalkanlah perbuatan keji, yang tampak maupun yang tersembunyi. Jagalah ketaatan, kehadiran dalam shalat Jumat dan shalat berjamaah, puasa, serta semua perintah dan kewajiban. Ketahuilah, Allah memerintahkan kalian suatu perintah yang Dia mulai dari diri-Nya sendiri, lalu diikuti para malaikat-Nya yang bertasbih menyucikan-Nya. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya” (QS. Al-Ahzab: 56).

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Latin: Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, kama shallaita ‘ala sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali sayyidina Ibrahim, wa barik ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, kama barakta ‘ala sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali sayyidina Ibrahima fil ‘alamin, innaka hamidun majid. Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat wal mu’minina wal mu’minat, al-ahya’i minhum wal amwat. Allahummad-fa’ ‘annal bala’a wal ghala’a wal waba’a wal fahsya’a wal munkara wal baghya was-suyufal mukhtalifata wasy-syada’ida wal mihan, ma zhahara minha wa ma bathan, min baladina hadza khashshatan wa min buldanil muslimina ‘ammah, innaka ‘ala kulli syai’in qadir.

Artinya: Ya Allah, limpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau limpahkan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, dan limpahkan berkah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau limpahkan berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya di seluruh alam. Sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, yang masih hidup maupun yang telah wafat. Ya Allah, hindarkanlah dari kami bencana, kemahalan harga, wabah, perbuatan keji, kemungkaran, permusuhan, berbagai bentuk peperangan, kesulitan, dan cobaan, yang tampak maupun yang tersembunyi, dari negeri kami ini khususnya dan dari negeri-negeri kaum muslimin umumnya. Sungguh Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Latin: ‘Ibadallah, innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsani wa ita’i dzil qurba wa yanha ‘anil fahsya’i wal munkari wal baghyi, ya’izhukum la’allakum tadzakkarun. Fadzkurullahal ‘azhima yadzkurkum wa ladzikrullahi akbar.

Artinya: Wahai hamba Allah, sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kerabat, serta melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (QS. An-Nahl: 90). Maka ingatlah Allah Yang Maha Agung, niscaya Dia mengingat kalian. Sungguh mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya).

Baca juga