Dakwah

Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan

Khutbah Jumat Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan

Perundungan atau bullying sangat dilarang dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah melarang dengan tegas perilaku perundungan, baik verbal maupun nonverbal.

Berikut teks khutbah Jumat berjudul “Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan”. Semoga bermanfaat.

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالطَّاعَةِ وَالْعِبَادَةِ، وَنَهَانَا عَنِ الْغَفْلَةِ وَالتَّفْرِيطِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Latin: Alhamdulillah. Alhamdulillahil ladzi amarana bith-tha’ati wal ‘ibadah, wa nahana ‘anil ghaflati wat-tafrith. Asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna sayyidana Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, shalatan wa salaman mutalazimaini ila yaumiddin.

Artinya: Segala puji bagi Allah. Segala puji bagi Allah yang memerintahkan kita untuk taat dan beribadah, serta melarang kita dari kelalaian dan sikap menyia-nyiakan. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa junjungan kami, Nabi Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkan shalawat, salam, dan berkah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, shalawat dan salam yang senantiasa menyertai hingga hari kiamat.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا

Latin: Amma ba’du, fa ya ayyuhal hadhirun, ittaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna illa wa antum muslimun. Qalallahu ta’ala fil qur’anil ‘azhim. A’udzu billahi minasy-syaithanir rajim, bismillahir rahmanir rahim: Wal ladzina yu’dzunal mu’minina wal mu’minati bighairi maktasabu faqadihtamalu buhtanan wa itsman mubina.

Artinya: Selanjutnya, wahai hadirin sekalian, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (QS. Ali Imran: 102). Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an yang agung. Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: “Orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

Wasiat takwa

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt.,

Segala puji dan syukur hanya milik Allah semata. Dialah yang memberi kita nikmat iman dan Islam, sehingga dalam keadaan yakin dan sadar kita berkumpul menunaikan shalat Jumat siang ini dengan mengharap ridha-Nya.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw., juga kepada keluarga dan sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya. Amin ya rabbal ‘alamin.

Khatib juga berwasiat kepada jamaah sekalian dan diri pribadi agar selalu meningkatkan takwa kepada Allah swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Perundungan masih menjadi ancaman

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt.,

Fenomena bullying atau perundungan masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Kasus terbaru, seorang murid sekolah dasar di Pemalang, Jawa Tengah, meninggal dunia dan diduga menjadi korban perundungan serta kekerasan oleh kakak kelasnya di sekolah, sebagaimana diberitakan sejumlah media.

Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI) juga mencatat 100 kasus kekerasan di satuan pendidikan sepanjang Januari hingga September 2026. Sebanyak 36 kasus di antaranya, atau 36 persen, adalah kekerasan fisik.

Perundungan adalah perilaku yang sangat dilarang dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah swt. melarang umat-Nya menyakiti, menghina, merendahkan, atau melakukan kekerasan terhadap orang lain, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Perilaku tersebut menyakiti hati dan merugikan orang lain. Allah swt. berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 58:

وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا

Latin: Wal ladzina yu’dzunal mu’minina wal mu’minati bighairi maktasabu faqadihtamalu buhtanan wa itsman mubina.

Artinya: “Orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.”

Ayat yang baru saja khatib sampaikan memerintahkan kita menjauhi perundungan. Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Marah Labid juz 2 hlm. 261 menjelaskan bahwa orang yang menyakiti orang lain, baik dengan perbuatan maupun ucapan, akan menanggung beban dosa yang berat. Simak keterangan beliau berikut:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِقَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا أَيْ بِغَيْرِ جِنَايَةٍ يَسْتَحِقُّوْنَ بِهَا الْأَذِيَّةَ فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا أَيْ زُوْرًا وَإِثْمًا مُبِيْنًا، أَيْ ذَنْبًا ظَاهِرًا مُوْجِبًا لِلْعِقَابِ فِي الْآخِرَةِ

Latin: Wal ladzina yu’dzunal mu’minina wal mu’minati biqaulin au fi’lin bighairi maktasabu, ay bighairi jinayatin yastahiqquna biha al-adziyyah, faqadihtamalu buhtanan, ay zuran, wa itsman mubina, ay dzanban zhahiran mujiban lil ‘iqabi fil akhirah.

Artinya: “Orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat dengan ucapan atau perbuatan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, yakni tanpa pelanggaran yang membuat mereka pantas disakiti, sungguh mereka telah menanggung kebohongan, yakni kepalsuan, dan dosa yang nyata, yakni dosa yang jelas dan mewajibkan hukuman di akhirat.”

Peran pemerintah

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt.,

Untuk mengatasi perundungan, terutama di kalangan anak-anak, diperlukan kerja sama antara orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Nirwasita Zada Paramesti dkk., dalam artikel berjudul Peran Negara, Masyarakat, dan Keluarga untuk Menanggulangi Bullying dalam Perspektif Hukum Perlindungan Anak, menyebutkan perlunya integrasi peran pemerintah, masyarakat, dan keluarga dalam mencegah dan menangani kasus perundungan.

Pertama, peran pemerintah dalam menciptakan lingkungan bebas perundungan terletak pada pembentukan kebijakan, penegakan hukum, pendidikan dan pencegahan, serta perlindungan dan rehabilitasi bagi korban. Negara bertindak melalui berbagai lembaga dan badan pemerintah untuk menjamin anak-anak terlindungi dari segala bentuk kekerasan, termasuk perundungan di lingkungan pendidikan.

Negara, dalam hal ini pemerintah, berkewajiban melindungi rakyatnya melalui kebijakan yang dibuat demi kemaslahatan masyarakat. Termasuk di dalamnya kebijakan untuk menciptakan lingkungan bebas perundungan. Ibnu Asyur menjelaskan peran pemerintah dalam tafsirnya At-Tahrir wat-Tanwir juz 5 hlm. 97:

فَأُولُو الْأَمْرِ مِنَ الْأُمَّةِ وَمِنَ الْقَوْمِ هُمُ الَّذِينَ يُسْنِدُ النَّاسُ إِلَيْهِمْ تَدْبِيرَ شُؤُونِهِمْ وَيَعْتَمِدُونَ فِي ذَلِكَ عَلَيْهِمْ، فَيَصِيرُ الْأَمْرُ كَأَنَّهُ مِنْ خَصَائِصِهِمْ

Latin: Fa ulul amri minal ummati wa minal qaumi humul ladzina yusnidun-nasu ilaihim tadbira syu’unihim wa ya’tamiduna fi dzalika ‘alaihim, fayashirul amru ka’annahu min khasha’ishihim.

Artinya: “Ulil amri dari umat dan kaum adalah mereka yang diserahi urusan oleh masyarakat untuk mengatur dan mengelola urusan mereka, dan masyarakat bersandar kepada mereka dalam hal itu, sehingga urusan tersebut seakan-akan menjadi bagian dari kekhususan mereka.”

Peran masyarakat

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt.,

Kedua, selain pemerintah, dibutuhkan pula peran masyarakat setempat dalam menciptakan lingkungan bebas perundungan. Peran masyarakat dalam menanggulangi perundungan, terutama pada anak, dijelaskan dalam Pasal 72 ayat (3) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Di antara peran masyarakat adalah memberi informasi melalui sosialisasi dan edukasi tentang hak anak, meningkatkan kesadaran akan bahaya perundungan, serta memberi pemahaman tentang tanda-tanda perundungan dan cara menanganinya dengan tepat.

Masyarakat juga dapat berperan aktif mengambil langkah hukum, misalnya melaporkan tindakan perundungan yang terlihat, agar kasusnya diselesaikan dan korban terlindungi.

Peran keluarga

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt.,

Ketiga, peran keluarga. Keluarga, khususnya orang tua, memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan bebas perundungan. Di antaranya dengan memberi pendidikan tentang bahaya perundungan, pentingnya menghargai orang lain, dan nasihat baik lainnya sebagai upaya menjaga keluarga dari perbuatan buruk. Allah swt. berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Latin: Ya ayyuhal ladzina amanu qu anfusakum wa ahlikum naran wa quduhan-nasu wal hijaratu ‘alaiha mala’ikatun ghiladzun syidadun la ya’shunallaha ma amarahum wa yaf’aluna ma yu’marun.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Demikian khutbah Jumat tentang pentingnya peran pemerintah, masyarakat, dan keluarga dalam menciptakan lingkungan bebas perundungan. Semoga kita dan keluarga kita dijauhkan dari perbuatan buruk yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Amin ya rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Latin: Barakallahu li wa lakum fil qur’anil ‘azhim, wa nafa’ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wadz-dzikril hakim, wa taqabbala minni wa minkum tilawatah, innahu huwas-sami’ul ‘alim. Wa astaghfirullahal ‘azhima li wa lakum wa li sa’iril muslimina wal muslimat, fa ya fauzal mustaghfirin wa ya najatat-ta’ibin.

Artinya: Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an yang agung, memberi manfaat kepadaku dan kalian dengan ayat-ayat dan peringatan yang bijaksana di dalamnya, serta menerima bacaan Al-Qur’an dariku dan dari kalian. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung untukku, untuk kalian, dan untuk seluruh muslimin dan muslimat. Beruntunglah orang-orang yang memohon ampun, dan selamatlah orang-orang yang bertobat.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَهَدَانَا إِلَى طَرِيقِهِ الْمُسْتَقِيمِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Latin: Alhamdulillah. Alhamdulillahil ladzi an’ama ‘alaina bini’matil imani wal islam, wa hadana ila thariqihil mustaqim. Wa asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna sayyidana wa nabiyyana Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Artinya: Segala puji bagi Allah. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahi kita nikmat iman dan Islam serta menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa junjungan dan nabi kami, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkan shalawat, salam, dan berkah kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيهِمْ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Latin: Amma ba’du. Fa ya ayyuhan nas, ushikum wa nafsi bitaqwallah, faqad fazal muttaqun. Fa qalallahu ta’ala: Innallaha wa mala’ikatahu yushalluna ‘alan nabiyy, ya ayyuhal ladzina amanu shallu ‘alaihi wa sallimu taslima. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, kama shallaita ‘ala sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali sayyidina Ibrahim, wa barik ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, kama barakta ‘ala sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali sayyidina Ibrahima fil ‘alamin, innaka hamidun majid. Allahumma wardha ‘anil khulafa’ir rasyidin, wa ‘an ashhabi nabiyyika ajma’in, wat-tabi’in wa tabi’it-tabi’in wa tabi’ihim ila yaumiddin.

Artinya: Selanjutnya, wahai manusia, aku berwasiat kepada kalian dan diriku untuk bertakwa kepada Allah, sungguh beruntunglah orang-orang yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya” (QS. Al-Ahzab: 56). Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau limpahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, dan limpahkan berkah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau limpahkan berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya di seluruh alam. Sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, ridhailah para khulafaur rasyidin, seluruh sahabat nabi-Mu, para tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para pengikut mereka hingga hari kiamat.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْأَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Latin: Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat wal mu’minina wal mu’minat. Allahummad-fa’ ‘annal ghala’a wal waba’a wath-tha’una wal amradha wal fitana ma la yadfa’uhu ghairuka ‘an baladina hadza Indunisiyyata khashshatan wa ‘an sa’iri biladil muslimina ‘ammatan ya rabbal ‘alamin. Rabbana atina fid-dunya hasanatan wa fil akhirati hasanatan wa qina ‘adzaban-nar.

Artinya: Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat. Ya Allah, hindarkanlah dari kami kemahalan harga, wabah, tha’un, penyakit, dan fitnah, yang tidak ada yang dapat menghindarkannya selain Engkau, dari negeri kami Indonesia ini secara khusus dan dari seluruh negeri kaum muslimin secara umum, wahai Tuhan semesta alam. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka (QS. Al-Baqarah: 201).

عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Latin: ‘Ibadallah innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsani wa ita’i dzil qurba wa yanha ‘anil fahsya’i wal munkari wal baghyi ya’izhukum la’allakum tadzakkarun. Fadzkurullahal ‘azhima yadzkurkum wasykuruhu ‘ala ni’amihi yazidkum wa ladzikrullahi akbar.

Artinya: Wahai hamba Allah, sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kerabat, serta melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (QS. An-Nahl: 90). Maka ingatlah Allah Yang Maha Agung, niscaya Dia mengingat kalian; bersyukurlah atas nikmat-Nya, niscaya Dia menambah (nikmat) kalian. Sungguh mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya).

Baca juga