Salah satu ilmu yang sangat penting dipelajari oleh setiap Muslim adalah ilmu akidah. Terlebih pada zaman ketika berbagai informasi, pemikiran, dan pertanyaan tentang agama begitu mudah kita temukan. Tanpa fondasi akidah yang kuat, seseorang dapat mengalami kebingungan ketika berhadapan dengan pertanyaan tentang keberadaan Tuhan, bahkan terjebak dalam keraguan berkepanjangan atau sikap agnostik.
Berikut teks khutbah Jumat berjudul “Memperkuat Akidah di Tengah Munculnya Keraguan tentang Tuhan”. Semoga bermanfaat.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الْمُبْدِئِ الْمُعِيْدِ الْفَعَّالِ لِمَا يُرِيْدُ الْهَادِيْ صَفْوَةَ الْعَبِيْدِ إِلَى الْمَنْهَجِ الرَّشِيْدِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
Latin: Alhamdulillah. Alhamdulillahil mubdi’il mu’idil fa”ali lima yurid, al-hadi shafwatal ‘abidi ilal manhajir rasyid. Asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna sayyidana Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, shalatan wa salaman mutalazimaini ila yaumiddin.
Artinya: Segala puji bagi Allah. Segala puji bagi Allah Yang Memulai dan Mengembalikan (makhluk), Yang Maha Berbuat apa yang Dia kehendaki, Yang menunjukkan hamba-hamba pilihan kepada jalan yang lurus. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa junjungan kami, Nabi Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkan shalawat, salam, dan berkah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, shalawat dan salam yang senantiasa menyertai hingga hari kiamat.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ ۘ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
Latin: Amma ba’du, fa ya ayyuhal hadhirun, ittaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna illa wa antum muslimun. Qalallahu ta’ala fil qur’anil ‘azhim. A’udzu billahi minasy-syaithanir rajim, bismillahir rahmanir rahim: Wa la tad’u ma’allahi ilahan akhar, la ilaha illa huw, kullu syai’in halikun illa wajhah, lahul hukmu wa ilaihi turja’un.
Artinya: Selanjutnya, wahai hadirin sekalian, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (QS. Ali Imran: 102). Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an yang agung. Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: “Janganlah engkau menyembah tuhan yang lain bersama Allah. Tidak ada tuhan selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali zat-Nya. Segala putusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.” (QS. Al-Qashash: 88)
Wasiat takwa
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt.,
Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah swt. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, siang ini kita masih diberi kesempatan berkumpul dan melaksanakan shalat Jumat secara berjamaah.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., kepada keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.
Pada kesempatan yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada seluruh jamaah: marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Pentingnya ilmu akidah di zaman ini
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt.,
Salah satu ilmu yang sangat penting dipelajari oleh setiap Muslim adalah ilmu akidah atau ilmu tauhid. Ilmu inilah yang membantu kita memahami dasar-dasar keimanan, mengenal Allah dengan benar, dan membangun keyakinan di atas landasan yang kokoh.
Hal ini semakin penting pada zaman sekarang. Kita hidup di tengah arus informasi yang sangat deras. Melalui internet dan media sosial, kita dapat menjumpai berbagai pemikiran, pertanyaan, kritik, bahkan keraguan tentang agama dan keberadaan Tuhan.
Di antara fenomena yang berkembang adalah agnostisisme, yaitu sikap yang meragukan atau menyatakan ketidakpastian tentang apakah keberadaan Tuhan dapat diketahui secara pasti.
Bagi seorang Muslim, hadirnya pertanyaan-pertanyaan semacam ini seharusnya tidak membuat kita takut berpikir. Sebaliknya, keadaan ini perlu mendorong kita untuk lebih serius mempelajari dasar-dasar keimanan. Iman tidak cukup hanya diwarisi. Iman juga perlu dipahami, dipelajari, direnungkan, dan dikuatkan dengan ilmu.
Prinsip tauhid dalam Al-Qur’an
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt.,
Dalam Al-Qur’an, Allah swt. menegaskan prinsip tauhid di banyak ayat. Salah satunya dalam QS. Al-Qashash ayat 88:
وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ ۘ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
Latin: Wa la tad’u ma’allahi ilahan akhar, la ilaha illa huw, kullu syai’in halikun illa wajhah, lahul hukmu wa ilaihi turja’un.
Artinya: “Janganlah engkau menyembah tuhan yang lain bersama Allah. Tidak ada tuhan selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali zat-Nya. Segala putusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.”
Ayat ini menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Seluruh yang ada di alam ini fana, sedangkan Allah swt. adalah Zat Yang Mahakekal. Kepada-Nya pula seluruh manusia akan kembali. Imam ath-Thabari dalam Jami’ul Bayan menjelaskan:
وَلَا تَعْبُدْ يَا مُحَمَّدُ مَعَ مَعْبُوْدِكَ الَّذِيْ لَهُ عِبَادَةُ كُلِّ شَيْءٍ مَعْبُوْدًا آخَرَ سِوَاهُ. وَقَوْلُهُ: (لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ) يَقُوْلُ: لَا مَعْبُوْدَ تَصْلُحُ لَهُ الْعِبَادَةُ إِلَّا اللهُ الَّذِيْ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
Latin: Wa la ta’bud ya Muhammadu ma’a ma’budikal ladzi lahu ‘ibadatu kulli syai’in ma’budan akhara siwah. Wa qauluhu: (la ilaha illa huw) yaqulu: la ma’buda tashluhu lahul ‘ibadatu illallahul ladzi kullu syai’in halikun illa wajhah.
Artinya: “Wahai Muhammad, janganlah engkau menyembah sesembahan lain selain Dia bersama Sesembahanmu, yang kepada-Nya ibadah segala sesuatu ditujukan. Firman-Nya, ‘Tidak ada tuhan selain Dia’, berarti tidak ada sesembahan yang layak disembah kecuali Allah, yang segala sesuatu akan binasa kecuali zat-Nya.”
Ilmu akidah dan dalil-dalilnya
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt.,
Ayat tersebut juga mengingatkan kita tentang pentingnya memahami tauhid secara benar. Di sinilah ilmu akidah berperan sangat penting. Ilmu akidah tidak hanya mengajarkan apa yang harus kita yakini, tetapi juga membantu kita memahami dasar dan argumentasi dari keyakinan itu, baik berdasarkan dalil naqli yang bersumber dari wahyu maupun dalil aqli yang dapat dipahami melalui akal sehat. Syekh Ibrahim bin Muhammad al-Baijuri dalam Tuhfatul Murid ‘ala Jauharatit Tauhid menjelaskan:
هُوَ عِلْمٌ يَقْتَدِرُ بِهِ عَلَى إِثْبَاتِ الْعَقَائِدِ الدِّيْنِيَّةِ مُكْتَسَبٌ مِنْ أَدِلَّتِهَا الْيَقِيْنِيَّةِ
Latin: Huwa ‘ilmun yaqtadiru bihi ‘ala itsbatil ‘aqa’idid-diniyyati muktasabun min adillatihal yaqiniyyah.
Artinya: “Ilmu tauhid adalah ilmu yang dengannya seseorang mampu menetapkan keyakinan-keyakinan keagamaan berdasarkan dalil-dalil yang meyakinkan.”
Dari penjelasan ini kita memahami bahwa akidah Islam bukan sekadar keyakinan yang diterima tanpa dasar. Para ulama sejak dahulu mengembangkan pembahasan tauhid dengan dalil-dalil wahyu sekaligus argumentasi rasional.
Karena itu, ketika seseorang menghadapi pertanyaan seperti: Apakah Tuhan benar-benar ada? Bagaimana kita mengetahui keberadaan-Nya? Mengapa kita harus mempercayai wahyu? Atau bagaimana memahami sifat-sifat Allah? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu perlu dihadapi dengan ilmu, bukan sekadar dengan emosi.
Akidah lima puluh
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt.,
Dalam tradisi ilmu tauhid, para ulama juga mengajarkan pembahasan yang dikenal dengan akidah lima puluh. Pembahasan ini mencakup dua puluh sifat wajib bagi Allah, dua puluh sifat mustahil bagi Allah, satu sifat jaiz bagi Allah, empat sifat wajib bagi para rasul, empat sifat mustahil bagi para rasul, dan satu sifat jaiz bagi para rasul.
Tujuan mempelajarinya bukan sekadar menghafal istilah, tetapi membangun pemahaman tentang siapa Allah yang kita sembah dan bagaimana kita mengenal para rasul yang membawa petunjuk-Nya. Syekh al-Baijuri menjelaskan ruang lingkup dan buah ilmu tauhid:
وَمَوْضُوْعُهُ: ذَاتُ اللهِ تَعَالَى مِنْ حَيْثُ مَا يَجِبُ لَهُ وَمَا يَسْتَحِيْلُ وَمَا يَجُوْزُ، وَذَاتُ الرُّسُلِ كَذَلِكَ، وَالْمُمْكِنُ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ يُتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى وُجُوْدِ صَانِعِهِ، وَالسَّمْعِيَّاتُ مِنْ حَيْثُ اعْتِقَادُهَا. وَثَمَرَتُهُ: مَعْرِفَةُ اللهِ بِالْبَرَاهِيْنِ الْقَطْعِيَّةِ وَالْفَوْزُ بِالسَّعَادَةِ الْأَبَدِيَّةِ
Latin: Wa maudhu’uhu: dzatullahi ta’ala min haitsu ma yajibu lahu wa ma yastahilu wa ma yajuz, wa dzatur rusuli kadzalik, wal mumkinu min haitsu innahu yutawashshalu bihi ila wujudi shani’ih, was-sam’iyyatu min haitsu i’tiqaduha. Wa tsamaratuhu: ma’rifatullahi bil barahinil qath’iyyati wal fauzu bis-sa’adatil abadiyyah.
Artinya: “Objek pembahasan ilmu tauhid adalah Zat Allah swt. dari sisi sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi-Nya; demikian pula Zat para rasul. Ilmu ini juga membahas perkara-perkara mumkin sebagai jalan untuk mengetahui keberadaan Penciptanya, serta perkara-perkara sam’iyyat dari sisi keyakinan terhadapnya. Buahnya adalah mengenal Allah dengan dalil-dalil yang pasti dan memperoleh kebahagiaan yang kekal.”
Penutup
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt.,
Dari sini kita memahami bahwa mempelajari ilmu akidah sangat penting, terlebih ketika kita hidup di zaman yang penuh pertanyaan dan keraguan.
Kita tidak perlu menjauhi pertanyaan. Yang perlu kita lakukan adalah membekali diri dengan ilmu agar mampu menjawabnya dengan benar. Apabila akidah dibangun di atas pemahaman yang kuat, insya Allah seseorang tidak mudah goyah ketika berhadapan dengan keraguan. Ia mengetahui apa yang diyakininya sekaligus memahami mengapa ia meyakininya.
Pemahaman seperti inilah yang diharapkan melahirkan keimanan yang semakin kokoh, ketenangan hati, dan kesungguhan dalam beribadah kepada Allah swt.
Semoga Allah swt. memberi kita ilmu yang bermanfaat, menguatkan iman dalam hati kita, menjauhkan kita dari keraguan yang menyesatkan, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mengenal dan menyembah-Nya dengan penuh keyakinan. Amin ya rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Latin: Barakallahu li wa lakum fil qur’anil ‘azhim, wa nafa’ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wadz-dzikril hakim, wa taqabbala minni wa minkum tilawatah, innahu huwas-sami’ul ‘alim. Wa astaghfirullahal ‘azhima li wa lakum wa li sa’iril muslimina wal muslimat, fa ya fauzal mustaghfirin wa ya najatat-ta’ibin.
Artinya: Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an yang agung, memberi manfaat kepadaku dan kalian dengan ayat-ayat dan peringatan yang bijaksana di dalamnya, serta menerima bacaan Al-Qur’an dariku dan dari kalian. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung untukku, untuk kalian, dan untuk seluruh muslimin dan muslimat. Beruntunglah orang-orang yang memohon ampun, dan selamatlah orang-orang yang bertobat.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَهَدَانَا إِلَى طَرِيقِهِ الْمُسْتَقِيمِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Latin: Alhamdulillah. Alhamdulillahil ladzi an’ama ‘alaina bini’matil imani wal islam, wa hadana ila thariqihil mustaqim. Wa asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna sayyidana wa nabiyyana Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Artinya: Segala puji bagi Allah. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahi kita nikmat iman dan Islam serta menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa junjungan dan nabi kami, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkan shalawat, salam, dan berkah kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya.
أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
Latin: Amma ba’du. Fa ya ayyuhan nas, ushikum wa nafsi bitaqwallah, faqad fazal muttaqun. Fa qalallahu ta’ala: Innallaha wa mala’ikatahu yushalluna ‘alan nabiyy, ya ayyuhal ladzina amanu shallu ‘alaihi wa sallimu taslima. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, kama shallaita ‘ala sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali sayyidina Ibrahim, wa barik ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, kama barakta ‘ala sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali sayyidina Ibrahima fil ‘alamin, innaka hamidun majid.
Artinya: Selanjutnya, wahai manusia, aku berwasiat kepada kalian dan diriku untuk bertakwa kepada Allah, sungguh beruntunglah orang-orang yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya” (QS. Al-Ahzab: 56). Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau limpahkan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, dan limpahkan berkah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau limpahkan berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya di seluruh alam. Sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيهِمْ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْأَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Latin: Allahumma wardha ‘anil khulafa’ir rasyidin, wa ‘an ashhabi nabiyyika ajma’in, wat-tabi’in wa tabi’it-tabi’in wa tabi’ihim ila yaumiddin. Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat wal mu’minina wal mu’minat. Allahummad-fa’ ‘annal ghala’a wal waba’a wath-tha’una wal amradha wal fitana ma la yadfa’uhu ghairuka ‘an baladina hadza Indunisiyyata khashshatan wa ‘an sa’iri biladil muslimina ‘ammatan ya rabbal ‘alamin. Rabbana atina fid-dunya hasanatan wa fil akhirati hasanatan wa qina ‘adzaban-nar.
Artinya: Ya Allah, ridhailah para khulafaur rasyidin, seluruh sahabat nabi-Mu, para tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para pengikut mereka hingga hari kiamat. Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat. Ya Allah, hindarkanlah dari kami kemahalan harga, wabah, tha’un, penyakit, dan fitnah, yang tidak ada yang dapat menghindarkannya selain Engkau, dari negeri kami Indonesia ini secara khusus dan dari seluruh negeri kaum muslimin secara umum, wahai Tuhan semesta alam. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka (QS. Al-Baqarah: 201).
عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Latin: ‘Ibadallah innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsani wa ita’i dzil qurba wa yanha ‘anil fahsya’i wal munkari wal baghyi ya’izhukum la’allakum tadzakkarun. Fadzkurullahal ‘azhima yadzkurkum wasykuruhu ‘ala ni’amihi yazidkum wa ladzikrullahi akbar.
Artinya: Wahai hamba Allah, sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kerabat, serta melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (QS. An-Nahl: 90). Maka ingatlah Allah Yang Maha Agung, niscaya Dia mengingat kalian; bersyukurlah atas nikmat-Nya, niscaya Dia menambah (nikmat) kalian. Sungguh mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya).




