Al-Quran & Hadits

Tafsir Surah Qaf Lengkap: Arab, Latin, dan Terjemahan

Qaf (Qaf)
Qaf (Qaf)

Pernahkah kita bertanya-tanya, apa yang terjadi setelah kematian? Surah Qaf menjawabnya dengan gambaran yang kuat: dari keraguan orang-orang yang menolak hari kebangkitan, kedekatan Allah yang lebih dekat dari urat leher, hingga janji surga bagi hamba yang bertobat. Mari kita baca dan renungkan ayat demi ayatnya bersama-sama.

Profil Singkat Surah Qaf

Surah Qaf adalah surah ke-50 dalam Al-Quran, tergolong surah Makkiyyah, dan terdiri dari 45 ayat. Namanya diambil dari huruf Qaf di awal surah. Tema utamanya adalah penegasan tentang kebangkitan setelah mati, pengawasan malaikat atas setiap ucapan manusia, serta peringatan tentang hari perhitungan. Diriwayatkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم sering membacanya dalam khutbah Jumat dan salat hari raya agar umat selalu mengingat akhirat. Surah ini juga bagian dari Al-Quran Online yang bisa kamu baca lengkap di Islamipedia.

Keraguan terhadap Hari Kebangkitan (Ayat 1-15)

Surah dibuka dengan sumpah demi Al-Quran yang mulia, lalu menggambarkan keheranan kaum kafir terhadap seruan tentang kebangkitan.

Ayat 1-5: Keheranan dan Pengingkaran

قۤ ۗوَالْقُرْاٰنِ الْمَجِيْدِ ۖ

Qâf, wal-qur’ânil-majîd

(1) Qaf. Demi Al-Qur’an yang mulia.

بَلْ عَجِبُوْٓا اَنْ جَاۤءَهُمْ مُّنْذِرٌ مِّنْهُمْ فَقَالَ الْكٰفِرُوْنَ هٰذَا شَيْءٌ عَجِيْبٌ ۚ

Bal ‘ajibû an jâ’ahum mundzirum min-hum fa qâlal-kâfirûna hâdzâ syai’un ‘ajîb

(2) (Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, “Ini adalah suatu yang sangat ajaib.”

ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا ۚ ذٰلِكَ رَجْعٌۢ بَعِيْدٌ

A idzâ mitnâ wa kunnâ turâbâ, dzâlika raj’um ba’îd

(3) Apakah apabila kami telah mati dan sudah menjadi tanah (akan kembali lagi)? Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.

قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنْقُصُ الْاَرْضُ مِنْهُمْ ۚوَعِنْدَنَا كِتٰبٌ حَفِيْظٌ

Qad ‘alimnâ mâ tanqushul-ardhu min-hum, wa ‘indanâ kitâbun hafîzh

(4) Sungguh, Kami telah mengetahui apa yang ditelan bumi dari (tubuh) mereka, sebab pada Kami ada kitab (catatan) yang terpelihara baik.

بَلْ كَذَّبُوْا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاۤءَهُمْ فَهُمْ فِيْٓ اَمْرٍ مَّرِيْجٍ

Bal kadzdzabû bil-haqqi lammâ jâ’ahum fa hum fî amrim marîj

(5) Bahkan mereka telah mendustakan kebenaran ketika (kebenaran itu) datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau.

Ayat 6-11: Tanda Kekuasaan Allah di Alam Semesta

Allah mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, hujan, dan tumbuh-tumbuhan sebagai bukti bahwa menghidupkan kembali yang telah mati adalah perkara mudah bagi-Nya.

اَفَلَمْ يَنْظُرُوْٓا اِلَى السَّمَاۤءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنٰهَا وَزَيَّنّٰهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوْجٍ

A fa lam yanzhurû ilas-samâ’i fauqahum kaifa banaînâhâ wa zayyannâhâ wa mâ lahâ min furûj

(6) Maka tidakkah mereka memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana cara Kami membangunnya dan menghiasinya dan tidak terdapat retak-retak sedikit pun?

وَالْاَرْضَ مَدَدْنٰهَا وَاَلْقَيْنَا فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍۙ

Wal-ardha madadnâhâ wa alqainâ fîhâ rawâsiya wa ambatnâ fîhâ min kulli zaujim bahîj

(7) Dan bumi yang Kami hamparkan dan Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan di atasnya tanam-tanaman yang indah.

تَبْصِرَةً وَّذِكْرٰى لِكُلِّ عَبْدٍ مُّنِيْبٍ

Tabshiratan wa dzikrâ likulli ‘abdim munîb

(8) Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (tunduk kepada Allah).

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً مُّبٰرَكًا فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ جَنّٰتٍ وَّحَبَّ الْحَصِيْدِۙ

Wa nazzalnâ minas-samâ’i mâ’am mubârakan fa ambatnâ bihî jannâtiw wa habbal-hashîd

(9) Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen.

وَالنَّخْلَ بٰسِقٰتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيْدٌۙ

Wan-nakhla bâsiqâtil lahâ thal’un nadhîd

(10) Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun.

رِّزْقًا لِّلْعِبَادِۙ وَاَحْيَيْنَا بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًاۗ كَذٰلِكَ الْخُرُوْجُ

Rizqal lil-‘ibâdi wa ahyainâ bihî baldatam maitâ, kadzâlikal-khurûj

(11) (sebagai) rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan (air) itu negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (dari kubur).

Ayat 12-15: Pelajaran dari Umat Terdahulu

Allah mengingatkan bahwa banyak umat sebelum mereka juga mendustakan para rasul, dan akhirnya ancaman Allah berlaku atas mereka.

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوْحٍ وَّاَصْحٰبُ الرَّسِّ وَثَمُوْدُ

Kadzdzabat qablahum qaumu nûhiw wa ashhâbur-rassi wa tsamûd

(12) Sebelum mereka, kaum Nuh, penduduk Rass dan Samud telah mendustakan (rasul-rasul).

وَعَادٌ وَّفِرْعَوْنُ وَاِخْوَانُ لُوْطٍۙ

Wa ‘âduw wa fir’aunu wa ikhwânu lûth

(13) Dan (demikian juga) kaum ‘Ad, kaum Fir‘aun dan kaum Lut.

وَّاَصْحٰبُ الْاَيْكَةِ وَقَوْمُ تُبَّعٍۗ كُلٌّ كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ وَعِيْدِ

Wa ashhâbul-aikati wa qaumu tubba’, kullun kadzdzabar-rusula fa haqqa wa’îd

(14) Dan (juga) penduduk Aikah serta kaum Tubba‘. Semuanya telah mendustakan rasul-rasul maka berlakulah ancaman-Ku (atas mereka).

اَفَعَيِيْنَا بِالْخَلْقِ الْاَوَّلِۗ بَلْ هُمْ فِيْ لَبْسٍ مِّنْ خَلْقٍ جَدِيْدٍ

A fa ‘ayînâ bil-khalqil-awwal, bal hum fî labsim min khalqin jadîd

(15) Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? (Sama sekali tidak) bahkan mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru.

Allah Dekat dan Malaikat Mencatat (Ayat 16-29)

Bagian ini mengingatkan bahwa tidak ada satu pun yang luput dari pengawasan Allah, mulai dari bisikan hati, ucapan lisan, hingga saat sakaratul maut dan hari penghisaban.

Ayat 16-18: Lebih Dekat daripada Urat Leher

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖوَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ

Wa laqad khalaqnal-insâna wa na’lamu mâ tuwaswisu bihî nafsuh, wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil-warîd

(16) Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.

اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيْدٌ

Idz yatalaqqal-mutalaqqiyâni ‘anil-yamîni wa ‘anisy-syimâli qa’îd

(17) (Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri.

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

Mâ yalfizhu min qaulin illâ ladaihi raqîbun ‘atîd

(18) Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).

Ayat 19-23: Sakaratul Maut dan Hari Kiamat

وَجَاۤءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۗذٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيْدُ

Wa jâ’at sakratul-mauti bil-haqq, dzâlika mâ kunta minhu tahîd

(19) Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.

وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِۗ ذٰلِكَ يَوْمُ الْوَعِيْدِ

Wa nufikha fish-shûr, dzâlika yaumul-wa’îd

(20) Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari yang diancamkan.

وَجَاۤءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّعَهَا سَاۤىِٕقٌ وَّشَهِيْدٌ

Wa jâ’at kullu nafsim ma’ahâ sâ’iquw wa syahîd

(21) Setiap orang akan datang bersama (malaikat) penggiring dan (malaikat) saksi.

لَقَدْ كُنْتَ فِيْ غَفْلَةٍ مِّنْ هٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاۤءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيْدٌ

Laqad kunta fî ghaflatim min hâdzâ fa kasyafnâ ‘angka ghithâ’aka fa basharukal-yauma hadîd

(22) Sungguh, kamu dahulu lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan tutup (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam.

وَقَالَ قَرِيْنُهٗ هٰذَا مَا لَدَيَّ عَتِيْدٌۗ

Wa qâla qarînuhû hâdzâ mâ ladayya ‘atîd

(23) Dan (malaikat) yang menyertainya berkata, “Inilah (catatan perbuatan) yang ada padaku.”

Ayat 24-29: Putusan bagi Para Pendusta

اَلْقِيَا فِيْ جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيْدٍ

Alqiyâ fî jahannama kulla kaffârin ‘anîd

(24) (Allah berfirman), “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka Jahanam semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala.

مَنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُّرِيْبٍۙ

Mannâ’il lil-khairi mu’tadim murîb

(25) Yang sangat enggan melakukan kebajikan, melampaui batas dan bersikap ragu-ragu.

الَّذِيْ جَعَلَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ فَاَلْقِيٰهُ فِى الْعَذَابِ الشَّدِيْدِ

Alladzî ja’ala ma’allâhi ilâhan âkhara fa alqiyâhu fil-‘adzâbisy-syadîd

(26) Yang mempersekutukan Allah dengan tuhan lain, maka lemparkanlah dia ke dalam azab yang keras.”

۞ قَالَ قَرِيْنُهٗ رَبَّنَا مَآ اَطْغَيْتُهٗ وَلٰكِنْ كَانَ فِيْ ضَلٰلٍۢ بَعِيْدٍ

Qâla qarînuhû rabbanâ mâ athghaituhû wa lâkin kâna fî dhalâlim ba’îd

(27) (Setan) yang menyertainya berkata (pula), “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh.”

قَالَ لَا تَخْتَصِمُوْا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ اِلَيْكُمْ بِالْوَعِيْدِ

Qâla lâ takhtashimû ladayya wa qad qaddamtu ilaikum bil-wa’îd

(28) (Allah) berfirman, “Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, dan sungguh, dahulu Aku telah memberikan ancaman kepadamu.

مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَآ اَنَا۠ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ

Mâ yubaddalul-qaulu ladayya wa mâ ana bizhallâmil lil-‘abîd

(29) Keputusan-Ku tidak dapat diubah dan Aku tidak menzalimi hamba-hamba-Ku.”

Gambaran Neraka dan Surga (Ayat 30-35)

Setelah menggambarkan pengadilan, Al-Quran menampilkan dua akhir yang berbeda: Jahanam yang terus meminta tambahan, dan surga yang didekatkan kepada orang-orang bertakwa.

Ayat 30: Jahanam

يَوْمَ نَقُوْلُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَـْٔتِ وَتَقُوْلُ هَلْ مِنْ مَّزِيْدٍ

Yauma naqûlu lijahannama halimtala’ti wa taqûlu hal mim mazîd

(30) (Ingatlah) pada hari (ketika) Kami bertanya kepada Jahanam, “Apakah kamu sudah penuh?” Ia menjawab, “Masih adakah tambahan?”

Ayat 31-35: Surga bagi Orang Bertakwa

وَاُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِيْنَ غَيْرَ بَعِيْدٍ

Wa uzlifatil-jannatu lil-muttaqîna ghaira ba’îd

(31) Sedangkan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tidak jauh (dari mereka).

هٰذَا مَا تُوْعَدُوْنَ لِكُلِّ اَوَّابٍ حَفِيْظٍۚ

Hâdzâ mâ tû’adûna likulli awwâbin hafîzh

(32) (Kepada mereka dikatakan), “Inilah nikmat yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang senantiasa bertobat (kepada Allah) dan memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya).

مَنْ خَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاۤءَ بِقَلْبٍ مُّنِيْبٍۙ

Man khasyiyar-rahmâna bil-ghaibi wa jâ’a biqalbim munîb

(33) (Yaitu) orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih sekalipun tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat.

ادْخُلُوْهَا بِسَلٰمٍ ۗذٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُوْدِ

Udkhulûhâ bisalâm, dzâlika yaumul-khulûd

(34) masuklah ke (dalam surga) dengan aman dan damai. Itulah hari yang abadi.”

لَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَا وَلَدَيْنَا مَزِيْدٌ

Lahum mâ yasyâ’ûna fîhâ wa ladainâ mazîd

(35) Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada Kami ada tambahannya.

Peringatan, Kesabaran, dan Zikir (Ayat 36-45)

Surah ditutup dengan peringatan dari kisah umat yang binasa, penegasan kekuasaan Allah, serta bimbingan agar bersabar, bertasbih, dan terus mengingatkan manusia dengan Al-Quran.

Ayat 36-38: Pelajaran dari Umat yang Binasa

وَكَمْ اَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِّنْ قَرْنٍ هُمْ اَشَدُّ مِنْهُمْ بَطْشًا فَنَقَّبُوْا فِى الْبِلَادِۗ هَلْ مِنْ مَّحِيْصٍ

Wa kam ahlaknâ qablahum min qarnin hum asyaddu min-hum bathsyan fa naqqabû fil-bilâd, hal min mahîsh

(36) Dan betapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, (padahal) mereka lebih hebat kekuatannya daripada mereka (umat yang belakangan) ini. Mereka pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah tempat pelarian (dari kebinasaan bagi mereka)?

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِمَنْ كَانَ لَهٗ قَلْبٌ اَوْ اَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيْدٌ

Inna fî dzâlika ladzikrâ limang kâna lahû qalbun au alqas-sam’a wa huwa syahîd

(37) Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍۖ وَّمَا مَسَّنَا مِنْ لُّغُوْبٍ

Wa laqad khalaqnas-samâwâti wal-ardha wa mâ bainahumâ fî sittati ayyâmiw wa mâ massanâ min lughûb

(38) Dan sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami tidak merasa letih sedikit pun.

Ayat 39-40: Perintah Bersabar dan Bertasbih

فَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوْبِ

Fashbir ‘alâ mâ yaqûlûna wa sabbih bihamdi rabbika qabla thulû’isy-syamsi wa qablal-ghurûb

(39) Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam.

وَمِنَ الَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَاَدْبَارَ السُّجُوْدِ

Wa minal-laili fa sabbihhu wa adbâras-sujûd

(40) Dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam hari dan setiap selesai salat.

Ayat 41-45: Hari Keluar dari Kubur dan Tugas Memberi Peringatan

وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِنْ مَّكَانٍ قَرِيْبٍ

Wastami’ yauma yunâdil-munâdi mim makânin qarîb

(41) Dan dengarkanlah (seruan) pada hari (ketika) penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat.

يَوْمَ يَسْمَعُوْنَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ۗذٰلِكَ يَوْمُ الْخُرُوْجِ

Yauma yasma’ûnash-shaihata bil-haqq, dzâlika yaumul-khurûj

(42) (Yaitu) pada hari (ketika) mereka mendengar suara dahsyat dengan sebenarnya. Itulah hari keluar (dari kubur).

اِنَّا نَحْنُ نُحْيٖ وَنُمِيْتُ وَاِلَيْنَا الْمَصِيْرُۙ

Innâ nahnu nuhyî wa numîtu wa ilainal-mashîr

(43) Sungguh, Kami yang menghidupkan dan mematikan dan kepada Kami tempat kembali (semua makhluk).

يَوْمَ تَشَقَّقُ الْاَرْضُ عَنْهُمْ سِرَاعًا ۗذٰلِكَ حَشْرٌ عَلَيْنَا يَسِيْرٌ

Yauma tasyaqqaqul-ardhu ‘anhum sirâ’â, dzâlika hasyrun ‘alainâ yasîr

(44) (Yaitu) pada hari (ketika) bumi terbelah, mereka keluar dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami.

نَحْنُ اَعْلَمُ بِمَا يَقُوْلُوْنَ وَمَآ اَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَبَّارٍۗ فَذَكِّرْ بِالْقُرْاٰنِ مَنْ يَّخَافُ وَعِيْدِ

Nahnu a’lamu bimâ yaqûlûna wa mâ anta ‘alaihim bijabbâr, fa dzakkir bil-qur’âni may yakhâfu wa’îd

(45) Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan engkau (Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada siapa pun yang takut kepada ancaman-Ku.

Pelajaran dari Surah Qaf

  • Kebangkitan setelah kematian adalah hal yang mudah bagi Allah, sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang tandus dengan hujan.
  • Allah lebih dekat dari urat leher dan mengetahui bisikan hati, sehingga kita perlu menjaga niat dan ucapan.
  • Dua malaikat selalu mencatat setiap perkataan, maka berhati-hatilah dengan lisan.
  • Kelalaian di dunia akan tersingkap pada hari kiamat, jadi gunakan waktu untuk bertobat dan beramal saleh.
  • Surga disiapkan bagi hamba yang takut kepada Allah sekalipun tidak melihat-Nya dan datang dengan hati yang bertobat.
  • Bersabar dan memperbanyak tasbih di pagi, petang, malam, dan setelah salat adalah penguat hati di tengah ujian.
  • Al-Quran adalah sarana memberi peringatan, dan kita bertugas menyampaikan dengan lembut tanpa memaksa.

Kesimpulan

Surah Qaf mengajak kita berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan merenungkan perjalanan yang pasti datang: kematian, kebangkitan, dan pertanggungjawaban. Di balik peringatan yang tegas, ada harapan besar bagi hamba yang kembali kepada Allah dengan hati yang tunduk. Semoga bacaan dan renungan ini menambah ketakwaan kita dan menjadikan Al-Quran sebagai peringatan yang hidup. Baca juga kumpulan Doa & Dzikir untuk memperkuat amalan harian.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Baca juga

Lihat Kisah Para Nabi

Kunjungi Kisah Para Nabi