Saudaraku seiman, umrah dapat dilakukan dalam waktu singkat, tetapi setiap langkahnya sarat makna. Agar umrah sah dan bernilai, kita perlu mengenal urutan dan adabnya sejak sebelum berangkat. Artikel ini menguraikan tata cara umrah secara berurutan, dengan mengikuti pendapat yang umum dipakai di Indonesia.
Persiapan sebelum berangkat
- Menuntut ilmu. Ikutilah bimbingan manasik dari pembimbing yang terpercaya, dan praktikkan dengan simulasi bila ada.
- Memperbaiki niat dan bertobat. Lunasi utang dan mintalah maaf kepada orang yang pernah kita zalimi.
- Menjaga kesehatan dan kebugaran. Thawaf dan sa’i memerlukan stamina, jadi biasakan berjalan kaki beberapa pekan sebelumnya.
- Mengurus dokumen dan perjalanan melalui penyelenggara resmi. Aturan visa, administrasi, dan ketentuan lainnya dapat berubah, sehingga selalu rujuk Kementerian Agama dan penyelenggara yang berizin.
1. Ihram dan niat di miqat
Ihram adalah niat memasuki ibadah umrah dan merupakan rukun. Ihram harus dimulai dari miqat. Rasulullah ﷺ menetapkan beberapa miqat, di antaranya Dzul Hulaifah (Bir Ali) bagi penduduk Madinah, Al-Juhfah, Qarnul Manazil, Yalamlam, dan Dzatu ‘Irq (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas). Jamaah dari Indonesia yang langsung menuju Makkah biasanya berniat ihram di atas pesawat ketika sejajar miqat sesuai arahan pembimbing.
Sebelum niat dianjurkan:
- Mandi dan membersihkan diri, memotong kuku, serta merapikan rambut.
- Laki-laki memakai dua helai kain ihram tanpa jahitan, tanpa penutup kepala. Perempuan memakai pakaian yang menutup aurat dan tidak memakai cadar maupun sarung tangan.
- Boleh memakai wewangian di badan sebelum niat. Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa ia memberi wewangian kepada Rasulullah ﷺ sebelum ihram (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
- Sholat sunnah dua rakaat bila tidak pada waktu terlarang.
Niat umrah diucapkan dengan lafaz: Labbaika ‘umratan (aku penuhi panggilan-Mu untuk umrah). Setelah niat, berlakulah larangan-larangan ihram yang dibahas pada artikel tersendiri.
2. Membaca talbiyah
Setelah niat, perbanyak talbiyah dengan suara jelas bagi laki-laki dan lirih bagi perempuan, hingga memulai thawaf. Lafaz dan artinya dibahas pada artikel tentang doa haji dan umrah.
3. Thawaf tujuh putaran
Sesampainya di Masjidil Haram, lakukan thawaf mengelilingi Ka’bah:
- Syarat: suci dari hadas dan najis, serta menutup aurat.
- Titik awal dan akhir: garis sejajar Hajar Aswad. Ka’bah berada di sebelah kiri jamaah.
- Jumlah: tujuh putaran penuh, tanpa memotong di tengah dan tidak melewati Hijr Ismail.
- Sunnah laki-laki: idhtiba’ (membuka bahu kanan) dan raml (berjalan cepat dengan langkah pendek) pada tiga putaran pertama, jika kondisi memungkinkan.
- Dzikir dan doa: bebas berdoa dengan bahasa yang dipahami. Di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad dianjurkan membaca doa sapu jagat.
Saat sejajar Hajar Aswad, menyentuh atau menciumnya bila mudah, atau cukup memberi isyarat dengan tangan sambil bertakbir. Jangan berdesak-desakan karena dapat menyakiti orang lain.
4. Sholat dua rakaat dan minum zamzam
Setelah thawaf, disunnahkan sholat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim bila memungkinkan, atau di bagian lain masjid bila ramai. Kemudian minumlah air zamzam sepuasnya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa air zamzam sesuai dengan niat orang yang meminumnya (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh sejumlah ulama).
5. Sa’i antara Shafa dan Marwah
Sa’i adalah berjalan tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah, mengenang perjuangan Hajar mencari air untuk putranya, Ismail.
- Mulai dari Shafa, selesai di Marwah. Perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali, dan kembalinya dihitung kedua. Dengan demikian sa’i berakhir di Marwah pada hitungan ketujuh.
- Disunnahkan berjalan lebih cepat bagi laki-laki di antara dua tanda lampu hijau.
- Disunnahkan berdoa dan berdzikir di Shafa dan Marwah.
- Sa’i dilakukan setelah thawaf, dan tidak disyaratkan suci dari hadas, meski lebih utama dalam keadaan suci.
6. Tahallul
Setelah sa’i, umrah ditutup dengan tahallul, yaitu mencukur atau memendekkan rambut. Bagi laki-laki mencukur gundul lebih utama, meski memendekkan juga sah. Bagi perempuan cukup memotong ujung rambut sepanjang satu ruas jari. Dengan tahallul, larangan ihram berakhir dan umrah selesai.
Kesalahan yang sering terjadi
- Memulai thawaf bukan dari garis sejajar Hajar Aswad.
- Menghitung putaran thawaf dan sa’i secara keliru. Gunakan penghitung atau catatan.
- Tergesa-gesa dan berdesakan sehingga menyakiti jamaah lain.
- Lupa bahwa larangan ihram masih berlaku sebelum tahallul.
Penutup
Umrah bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati menuju Allah. Pelajari tata caranya, jalani dengan sabar, dan perbanyak doa. Semoga Allah menerima umrah kita dan menjadikannya penghapus dosa.




