Saudaraku yang dirahmati Allah, begitu seorang jamaah berniat ihram, ia memasuki keadaan khusus yang disertai sejumlah larangan. Larangan ini bukan untuk menyulitkan, melainkan melatih kita menundukkan hawa nafsu, hidup sederhana, dan memusatkan hati hanya kepada Allah. Mengenali larangan ihram sejak awal membantu kita menjaga ibadah dan menghindari denda.
Makna ihram
Ihram adalah niat memasuki ibadah haji atau umrah. Dalam keadaan ini seseorang meninggalkan sebagian kebiasaan yang halal di luar ihram, seperti memakai wewangian, memotong rambut, dan memakai pakaian biasa. Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 197 bahwa siapa yang telah menetapkan niat untuk berhaji, tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan selama haji.
Larangan khusus laki-laki
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang pakaian orang yang berihram. Beliau menjawab bahwa ia tidak memakai gamis, sorban, celana, burnus, dan khuf (sepatu yang menutup mata kaki). Jika tidak mendapatkan sandal, ia boleh memakai khuf yang dipotong di bawah mata kaki (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dengan demikian bagi laki-laki:
- Tidak memakai pakaian berjahit yang membentuk badan, seperti kemeja, kaos, dan celana.
- Tidak menutup kepala dengan penutup yang menempel, seperti peci atau sorban.
- Tidak memakai sepatu yang menutup mata kaki. Gunakan sandal.
Larangan khusus perempuan
Dalam hadits yang sama, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa perempuan yang berihram tidak memakai cadar penutup wajah dan sarung tangan (HR. Al-Bukhari). Perempuan tetap wajib menutup aurat dengan pakaian yang longgar dan menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
Larangan bagi laki-laki dan perempuan
- Memakai wewangian pada badan, pakaian ihram, maupun sabun dan produk berwangi, setelah berniat ihram.
- Memotong atau mencabut rambut dan kuku.
- Berburu atau membunuh hewan darat yang halal dimakan, serta membantu orang lain melakukannya.
- Akad nikah, menikahkan, dan meminang. Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang berihram tidak boleh menikah, tidak boleh menikahkan, dan tidak boleh meminang (HR. Muslim).
- Berhubungan suami istri dan segala pendahulunya yang membangkitkan syahwat.
- Berbuat maksiat dan bertengkar. Larangan ini selalu berlaku, tetapi lebih ditekankan selama ihram.
Hal-hal yang dibolehkan
Banyak jamaah ragu dan akhirnya menyulitkan diri sendiri. Berikut yang pada umumnya dibolehkan:
- Mandi, membersihkan badan, dan mengganti kain ihram.
- Memakai cincin, jam tangan, kacamata, dan sabuk atau ikat pinggang untuk menyimpan uang.
- Berteduh di bawah payung, tenda, atau atap. Dalam riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ dinaungi dengan kain ketika melempar jumrah.
- Memakai sandal dan membawa tas.
- Mengobati luka atau berobat bila sakit.
- Makan dan minum, serta bercermin.
Bila ragu terhadap suatu hal, tanyakan kepada pembimbing agar tidak keliru.
Bagaimana jika melanggar?
Konsekuensi pelanggaran berbeda-beda, bergantung jenisnya dan apakah dilakukan dengan sengaja atau karena uzur seperti lupa, sakit, atau terpaksa.
Allah memberi gambaran dalam QS. Al-Baqarah ayat 196 tentang fidyah bagi yang mencukur rambut karena sakit atau gangguan: berpuasa, bersedekah, atau menyembelih hewan. Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ menjelaskannya sebagai berpuasa tiga hari, memberi makan enam orang miskin, atau menyembelih seekor kambing (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Para ulama menerapkan prinsip serupa pada beberapa larangan lain seperti memakai wangi atau menutup kepala.
Berhubungan suami istri sebelum tahallul awal dan berburu memiliki konsekuensi yang lebih berat dan rinci. Karena itu segera hubungi pembimbing atau petugas resmi bila terjadi pelanggaran, dan jangan menunda.
Tips menjaga diri dari pelanggaran
- Siapkan sandal, kain ihram cadangan, serta sabun dan sampo tanpa wewangian sebelum berniat ihram.
- Pasang pengingat sederhana di tas atau gelang tentang larangan penting.
- Jaga lisan dan emosi, terutama di tempat yang ramai dan lelah.
- Catat nomor pembimbing atau ketua rombongan untuk bertanya cepat.
Penutup
Larangan ihram adalah latihan ketaatan. Dengan menahan diri dari hal yang biasanya halal, kita belajar bahwa seorang hamba hanya mengikuti perintah Tuhannya. Semoga Allah menjaga haji dan umrah kita dari pelanggaran dan menerimanya.




