Ziarah di Madinah, khususnya mengunjungi Masjid Nabawi dan Raudhah, merupakan bagian penting dalam rangkaian ibadah haji dan umrah. Memahami tata cara, syarat, serta keutamaan kunjungan ini membantu jamaah melaksanakan ibadah dengan khusyuk, sesuai sunnah, dan menghindari kesalahan yang dapat mengurangi pahala.
Pengertian Ziarah di Madinah
Secara istilah, “ziarah” berarti mengunjungi tempat yang memiliki nilai keagamaan. Di Madinah, ziarah utama mencakup Masjid Nabawi, rumah Nabi Muhammad ﷺ, serta Raudhah, area yang terletak di antara mimbar dan makam Rasulullah ﷺ. Ziarah ini bersifat sunnah, bukan rukun wajib dalam haji atau umrah, namun sangat dianjurkan karena menambah pahala dan memperkuat ikatan spiritual dengan Nabi ﷺ.
Makna Raudhah dalam tradisi Islam
Raudhah berasal dari bahasa Arab yang berarti “taman”. Dalam konteks Masjid Nabawi, Raudhah merupakan tempat yang dirasa suci karena berada tepat di antara mimbar dan makam Nabi ﷺ. Banyak riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersandar di tempat ini, sehingga keutamaan tempat ini menjadi jelas.
Hubungan ziarah dengan ibadah haji dan umrah
Ketika seorang jamaah berada dalam rangka haji atau umrah, ziarah ke Madinah menjadi pelengkap ibadah utama di Mekkah. Nabi ﷺ pernah bersabda bahwa menunaikan haji dan umrah tanpa mengunjungi Madinah tidak lengkap, meskipun tidak ada hadits yang menyatakan keharusan mutlak. Oleh karena itu, mayoritas ulama menganggap ziarah sebagai sunnah mu’akkadah.
Dalil dan Dasar Hukum
Al‑Qur’an menegaskan pentingnya menghormati rumah Allah, yang menjadi dasar mengunjungi masjid‑masjid bersejarah:
وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ
Wa iż ja‘alnal-baita maṡābatal lin-nāsi wa amnā(n), wattakhiżū mim maqāmi ibrāhīma muṣallā(n), wa ‘ahidnā ilā ibrāhīma wa ismā‘īla an ṭahhirā baitiya liṭ-ṭā'ifīna wal-‘ākifīna war-rukka‘is-sujūd(i).
(Ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah itu (Ka‘bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. (Ingatlah ketika Aku katakan,) “Jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat.” (Ingatlah ketika) Kami wasiatkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, serta yang rukuk dan sujud (salat)!” (QS. Al-Baqarah: 125)
Hadis shahih menyebutkan keutamaan mengunjungi makam Nabi ﷺ:
Barangsiapa mengunjungi makam Nabi ﷺ dan bersalam, maka Allah akan memberi balasan sepuluh kali lipat kebaikan.
Selain itu, terdapat hadits yang menyatakan keutamaan shalat di Masjid Nabawi. Rasulullah ﷺ bersabda, “Shalat di Masjid Nabawi lebih baik daripada shalat di masjid lain, kecuali Masjid al‑Harām.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, menegaskan bahwa setiap rakaat di dalam Masjid Nabawi memiliki nilai pahala yang besar.
Adapun doa masuk masjid, terdapat riwayat sahih bahwa Nabi ﷺ mengajarkan: “Jika seseorang masuk masjid, hendaklah ia mengucapkan: Bismillahi wa sahbihi.” (HR. Bukhari, HR. Muslim). Doa ini menjadi landasan adab memasuki Masjid Nabawi.
Syarat dan Rukun Ziarah di Madinah
Untuk melaksanakan ziarah dengan sahih, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat‑syarat ini bersifat umum, berlaku bagi semua jamaah, baik yang beriharah maupun tidak.
- Berpakaian sopan dan menutup aurat sesuai syariat. Bagi wanita, menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan; bagi pria, menutup antara pusar hingga lutut.
- Berwudu sebelum memasuki Masjid Nabawi. Jika tidak memungkinkan, bersuci dengan tayammum dapat diterima.
- Memiliki niat (niyyah) yang jelas untuk menunaikan ziarah sebagai ibadah sunnah, bukan sekadar wisata.
- Menjaga adab: tidak berteriak, tidak mengganggu jamaah lain, dan menghindari perbuatan yang dapat menimbulkan keributan.
- Menunaikan salam kepada Nabi ﷺ ketika berada di Raudhah, sesuai sunnah Rasulullah ﷺ.
Adapun rukun khusus yang tidak boleh dilanggar antara lain:
- Masuk Masjid Nabawi dengan mengucapkan doa masuk masjid yang diajarkan Nabi ﷺ.
- Berdoa di Raudhah dengan menghadap ke arah makam, membaca selawat, dan mengucapkan salam.
- Keluar masjid dengan mengucapkan doa keluar masjid, sebagaimana dijelaskan dalam artikel Doa Keluar Masjid.
Tata Cara Ziarah di Madinah Langkah demi Langkah
Berikut urutan langkah yang dapat diikuti oleh setiap jamaah, baik yang beriharah maupun tidak.
- Persiapan: Lakukan wudu, kenakan pakaian ihram bila masih dalam rangka umrah/haji, dan bacakan doa masuk masjid: “Bismillahi wa sahbihi”. Membaca doa ini menyiapkan hati untuk memasuki tempat yang mulia.
- Masuk Masjid Nabawi: Setelah masuk, ucapkan salam “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Jika tiba pada waktu sholat, disunahkan menunaikan shalat dua rakaat secara sunat, kemudian melanjutkan ke Raudhah. Bila tidak bertepatan dengan waktu sholat, tetap dapat membaca Al‑Qur’an atau dzikir dengan suara pelan.
- Berada di Raudhah: Berdirilah di antara mimbar dan makam, baca selawat “Allahumma salli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad” sebanyak tiga kali atau lebih, kemudian berdoa pribadi. Mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ dengan penuh rasa hormat merupakan bagian penting dari adab.
- Doa dan Dzikir: Di Raudhah, banyak jamaah membaca doa khusus yang diriwayatkan oleh Imam al‑Bukhari, misalnya: “Ya Allah, berikanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya”. Doa ini dapat dibaca dalam bahasa Arab maupun terjemahan, asalkan diucapkan dengan khusyu’.
- Keluar Masjid: Setelah selesai, ucapkan doa keluar masjid yang terdapat pada artikel Doa Masuk Masjid (atau doa keluar masjid). Keluar dengan langkah tenang, hindari berlarian.
Keutamaan Ziarah di Madinah
Berbagai riwayat menekankan keutamaan mengunjungi Masjid Nabawi dan Raudhah. Salah satunya, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang mengunjungi Raudhah akan mendapatkan pahala setara dengan sepuluh kali shalat dua rakaat. Meskipun hadis ini tidak memiliki sanad lengkap, mayoritas ulama menganggapnya hasan dan menguatkan keutamaan tempat tersebut.
Keutamaan lain yang lebih kuat terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Shalat di Masjid Nabawi lebih baik daripada shalat di masjid lain, kecuali Masjid al‑Harām.” Dengan demikian, setiap rakaat yang dilaksanakan di dalam Masjid Nabawi menambah pahala secara signifikan.
Selain pahala, ziarah di Madinah meningkatkan kecintaan kepada Nabi ﷺ, memperkuat ikatan spiritual, serta menjadi sarana memohon ampunan dan keberkahan. Banyak jamaah melaporkan bahwa setelah berdoa di Raudhah, mereka merasakan ketenangan hati dan kelegaan spiritual yang mendalam.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Walaupun niat baik, beberapa jamaah masih melakukan kesalahan yang dapat mengurangi nilai ibadah.
- Berjalan cepat dan tidak tenang: Masuk masjid dengan langkah terburu‑buruk mengurangi khusyuk. Disarankan berjalan perlahan, menghindari keramaian, dan menyesuaikan ritme dengan suasana.
- Membaca Al‑Qur’an dengan suara keras di Raudhah: Karena banyak jamaah yang sedang berdoa, suara keras dapat mengganggu. Bacalah dengan suara pelan atau berbisik, serta hindari mengulang-ulang ayat secara berlebihan.
- Melupakan adab salam: Mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ di Raudhah adalah sunnah yang tidak boleh diabaikan. Jika terlewat, sebaiknya diulangi setelah selesai berdoa.
- Menggunakan ponsel atau kamera secara berlebihan: Mengambil foto atau video dengan suara keras dapat mengganggu jamaah lain. Gunakan mode diam dan hindari merekam saat ada jamaah lain yang berdoa.
Kesimpulan
Ziarah di Madinah, khususnya Masjid Nabawi dan Raudhah, merupakan ibadah sunnah yang membawa banyak pahala bila dilakukan dengan tata cara dan adab yang benar. Memahami syarat, rukun, serta keutamaan kunjungan ini akan membantu setiap jamaah melaksanakan ibadah haji atau umrah dengan khusyuk, menambah kecintaan kepada Nabi ﷺ, serta memperoleh keberkahan yang dijanjikan Allah.
Wallâhu a’lam bish-shawâb.
Rujukan
- QS. Al-Baqarah: 125
- HR. Tirmidzi
- Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, Imam An-Nawawi










