Al-Quran & Hadits

Tafsir Surat Al-Furqan Ayat 20: Mengapa Para Rasul Hidup seperti Manusia Biasa?

Tafsir Surat Al Furqan Ayat 20 Mengapa Para Rasul Hidup seperti Manusia Biasa

Di luar status kenabian dan kerasulan, para nabi dan rasul pun tidak terlepas dari sifat manusiawi.

Dalam ilmu tauhid, para rasul memiliki sifat jaiz, yaitu sifat-sifat kemanusiaan yang tidak mengurangi kemuliaan dan kedudukan mereka sebagai utusan Allah. Para rasul tetap membutuhkan makan, minum, tidur, dan bekerja, bahkan bisa jatuh sakit sebagaimana manusia pada umumnya.

Sifat ini juga ada pada Nabi Muhammad saw. Meski diangkat sebagai utusan Allah, beliau tetap menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk makan dan mencari nafkah. Hal ini dijelaskan dalam Surat Al-Furqan ayat 20:

وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّآ اِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَسْوَاقِ ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً ۗ اَتَصْبِرُوْنَ ۚ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيْرًاࣖ

Wa mā arsalnā qablaka minal mursalīna illā innahum laya’kulūnaṭ ṭa’āma wa yamsyūna fil aswāq, wa ja’alnā ba’ḍakum li ba’ḍin fitnatan, ataṣbirūn, wa kāna rabbuka baṣīrā.

Artinya: “Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Nabi Muhammad), melainkan mereka pasti menyantap makanan dan berjalan di pasar. Kami menjadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat.”

Jawaban Allah atas Hinaan Kaum Musyrik

Menurut Imam at-Thabari, ayat ini adalah jawaban Allah atas cemoohan orang-orang musyrik yang mempersoalkan kerasulan Nabi Muhammad saw. Pertanyaan mereka direkam dalam Surat Al-Furqan ayat 7. Mereka menganggap seorang rasul semestinya berbeda dari manusia biasa, sehingga heran melihat Nabi makan dan berjalan di pasar.

Lewat ayat ini, Allah menegaskan bahwa para rasul sebelum beliau juga menjalani kehidupan seperti manusia lainnya. Imam at-Thabari menuturkan:

وهذا احتجاج من الله تعالى ذكره لنبيه على مشركي قومه الذين قالوا: (مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الأسْوَاقِ) وجواب لهم عنه يقول لهم جلّ ثناؤه: وما أنكر يا محمد هؤلاء القائلون: ما لهذا الرسول يأكل الطعام، ويمشي في الأسواق، من أكلك الطعام، ومشيك في الأسواق، وأنت لله رسول، فقد علموا أنا ما أرسلنا قبلك من المرسلين إلا إنهم ليأكلون الطعام ويمشون في الأسواق، كالذي تأكل أنت وتمشي، فليس لهم عليك بما قالوا من ذلك حجة.

Wa hādzā iḥtijājun minallāhi ta’ālā dzikruhu li nabiyyihi ‘alā musyrikī qawmihi alladzīna qālū: (mā li hādzar rasūli ya’kuluṭ ṭa’āma wa yamsyī fil aswāq), wa jawābun lahum ‘anhu, yaqūlu lahum jalla tsanā’uhu: wa mā ankara yā Muḥammad hā’ulā’il qā’ilūna: mā li hādzar rasūli ya’kuluṭ ṭa’āma wa yamsyī fil aswāq, min aklikaṭ ṭa’āma, wa masyyika fil aswāq, wa anta lillāhi rasūl, faqad ‘alimū annā mā arsalnā qablaka minal mursalīna illā innahum laya’kulūnaṭ ṭa’āma wa yamsyūna fil aswāq, kalladzī ta’kulu anta wa tamsyī, falaisa lahum ‘alaika bimā qālū min dzālika ḥujjah.

Artinya: “Ini adalah argumentasi dari Allah Swt untuk membela Nabi-Nya terhadap orang-orang musyrik dari kaumnya yang berkata, ‘Mengapa rasul ini makan makanan dan berjalan di pasar-pasar?’ Sekaligus ini jawaban Allah kepada mereka. Allah berfirman: ‘Apa yang mereka ingkari darimu, wahai Muhammad? Mereka berkata, mengapa rasul ini makan dan berjalan di pasar, padahal engkau adalah utusan Allah? Sungguh mereka telah mengetahui bahwa Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu melainkan mereka pasti makan dan berjalan di pasar, sebagaimana engkau makan dan berjalan. Maka tidak ada hujjah bagi mereka atas ucapan mereka terhadapmu.'” (Imam at-Thabari, Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, [Makkah: Darut Tarbiyah wat Turats, t.t.], juz XIX, halaman 252).

Senada dengan itu, Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa ucapan kaum musyrik tersebut membuat Rasulullah bersedih. Dengan mengutip Ibnu Abbas, beliau menyebutkan bahwa ayat ini turun untuk menenangkan hati Nabi sekaligus menjawab pengingkaran mereka.

Al-Qurthubi juga menerangkan bahwa maksud wa yamsyūna fil aswāq (berjalan di pasar) adalah mencari penghidupan di dunia. Beliau berkata:

أَيْ يَبْتَغُونَ الْمَعَايِشَ فِي الدُّنْيَا

Ay yabtaghūnal ma’āyisya fid dunyā.

Artinya: “Maksudnya, mereka mencari penghidupan di dunia.” (Imam al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, [Kairo: Darul Kutub Al-Mishriyah, 1964 M], juz XIII, halaman 12–13).

Dengan demikian, makan dan mencari nafkah adalah bagian dari kehidupan para rasul, dan keduanya sama sekali tidak mengurangi kedudukan mereka sebagai utusan Allah.

Sisi Kemanusiaan Rasul sebagai Ujian Kenabian

Selain menjelaskan sifat kemanusiaan para rasul, Surat Al-Furqan ayat 20 juga menggambarkan ujian yang mereka hadapi saat menyampaikan risalah. Hal ini tampak pada firman Allah wa ja’alnā ba’ḍakum li ba’ḍin fitnah, yang berarti Allah menjadikan sebagian manusia sebagai ujian bagi sebagian yang lain.

Dalam konteks kenabian, para rasul diuji lewat sikap kaumnya yang mengingkari kerasulan mereka. Sebagian kaum bahkan meminta mukjizat tertentu sebagai syarat untuk menerima ajaran yang dibawa. Syekh Nawawi Banten menjelaskan:

وَجَعَلْنا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أي وجعلنا كل أمة كافرة فتنة لرسولها المبعوث إليها كأن يقول بعض الكفار لبعض الأنبياء آتنا معجزة كمعجزة بني فلان أَتَصْبِرُونَ يا معشر الأنبياء على ما تسمعون من أقاويلهم الخارجة من حدود الإنصاف، فالمعنى جرت سنتنا على ابتلاء المرسلين بأممهم بإيذائهم لهم لنعلم صبرهم

Wa ja’alnā ba’ḍakum li ba’ḍin fitnatan, ay wa ja’alnā kulla ummatin kāfiratan fitnatan li rasūlihal mab’ūtsi ilaihā, ka’an yaqūla ba’ḍul kuffāri li ba’ḍil anbiyā’: ātinā mu’jizatan ka mu’jizati banī fulān. Ataṣbirūna yā ma’syaral anbiyā’ ‘alā mā tasma’ūna min aqāwīlihimul khārijati min ḥudūdil inṣāf, fal ma’nā jarat sunnatunā ‘alā ibtilā’il mursalīna bi umamihim bi īdzā’ihim lahum li na’lama ṣabrahum.

Artinya: “‘Kami menjadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain’, maksudnya Kami menjadikan setiap umat yang kafir sebagai cobaan bagi rasul yang diutus kepada mereka. Misalnya, sebagian orang kafir berkata kepada sebagian nabi, ‘Datangkanlah kepada kami mukjizat seperti mukjizat kaum fulan.’ ‘Maukah kamu bersabar’, wahai para nabi, atas ucapan-ucapan mereka yang keluar dari batas kewajaran? Maknanya, telah menjadi ketetapan Kami untuk menguji para rasul melalui umat mereka, dengan gangguan yang ditimpakan kepada para rasul, agar Kami mengetahui (secara nyata) kesabaran mereka.” (Syekh Nawawi Banten, Marah Labid, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1417 H], juz II, halaman 130).

Penjelasan Syekh Nawawi menunjukkan bahwa penolakan dan hinaan dari kaumnya merupakan bagian dari ujian yang harus dihadapi para rasul. Mereka dituntut tetap bersabar di tengah berbagai tuduhan yang tidak beralasan.

Walhasil, Surat Al-Furqan ayat 20 menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw dan para rasul terdahulu tetap memiliki sifat kemanusiaan, seperti makan, bekerja, dan mencari nafkah, tanpa berkurang sedikit pun kemuliaan mereka sebagai utusan Allah.

Ayat ini juga mengajarkan pentingnya sabar dalam menghadapi penolakan dan penghinaan. Sebagaimana para rasul diuji lewat sikap kaumnya, setiap Muslim perlu belajar menghadapi ujian hidup dengan sabar dan tetap berpegang pada kebenaran. Wallahu a’lam.

Baca juga