Akhlaq & Tasawuf

Dalil dan Hadits Tentang Bahaya Nafsu Syahwat

Dalil dan Hadits Tentang Bahaya Nafsu Syahwat
Dalil dan Hadits Tentang Bahaya Nafsu Syahwat

Hawa nafsu dan syahwat adalah penyakit hati yang sangat berbahaya bagi seorang muslim. Dalam Al-Quran, Allah Ta’ala mencela hawa nafsu beserta para pengikutnya, dan menjelaskan berbagai akibat buruk yang ditimbulkannya. Memahami bahayanya sejak dini akan membantu kita lebih waspada dan menjaga hati agar tetap lurus di jalan Allah.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda tentang hal yang beliau khawatirkan menimpa umatnya:

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَفُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْهَوَى

Inna mimmâ akhsyâ ‘alaikum syahawâtil-ghayyi fî buthûnikum wa furûjikum wa mudhillâtil-hawâ

Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan menimpa kalian adalah syahwat yang menyesatkan pada perut dan kemaluan, serta hawa nafsu yang menyimpangkan dari jalan yang lurus.

Berikut ini bahaya-bahaya hawa nafsu yang disebutkan Allah dalam Al-Quran.

1. Pengikut Hawa Nafsu Diserupakan dengan Anjing

Allah Ta’ala menyebutkan bahwa orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya bagaikan anjing yang menjulurkan lidahnya. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf: 175-176:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِيْ ءَاتَيْنَاهُ ءَايَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِيْنَ

Watlu ‘alaihim naba’al-ladzî âtainâhu âyâtinâ fansalakha minhâ fa atba’ahusy-syaithânu fa kâna minal-ghâwîn

(175) Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang yang sesat.

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Wa lau syi’nâ larafa’nâhu bihâ wa lâkinnahû akhlada ilal-ardhi wattaba’a hawâh, fa matsaluhû kamatsalil-kalbi in tahmil ‘alaihi yalhats au tatruk-hu yalhats, dzâlika matsalul-qaumil-ladzîna kadzdzabû bi’âyâtinâ, faqshushil-qashasha la’allahum yatafakkarûn

(176) Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerupakan orang yang diajarkan ilmu dan Al-Quran namun tidak mau mengamalkannya dan mengikuti hawa nafsunya, seperti anjing yang termasuk hewan yang paling dungu dan sangat rakus.

Semangatnya hanya berkutat pada perut dan kemaluannya. Di antara bukti kerakusannya, ia senantiasa berjalan dengan moncong hidungnya ke tanah. Bangkai lebih ia sukai daripada daging yang segar, dan jika ia menemukan bangkai yang cukup untuk seratus anjing, ia tidak akan memberi peluang anjing lain untuk makan bersamanya karena sangat rakus dan bakhil.

Ini adalah penyerupaan bagi orang yang lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada akhirat, padahal ia memiliki ilmu yang banyak. Anjing yang menjulurkan lidahnya mengandung rahasia yang indah: orang yang lepas dari ayat-ayat Allah dan lebih mengikuti hawa nafsunya disebabkan keserakahannya terhadap dunia, sehingga hatinya terputus dari Allah dan negeri akhirat.

Disesatkan di atas Ilmu

Allah berfirman dalam QS. Al-Jatsiyah: 23:

أَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللهِ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ

Afara’aita manittakhadza ilâhahû hawâhu wa adhallahullâhu ‘alâ ‘ilmiw wa khatama ‘alâ sam’ihî wa qalbihî wa ja’ala ‘alâ basharihî ghisyâwah, famay yahdîhi mim ba’dillâh, afalâ tadzakkarûn

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

Artinya ia hanya mau melakukan perintah hawa nafsunya saja: apa yang ia pandang baik dilakukannya, dan apa yang menurutnya buruk ditinggalkannya. Ayat ini dapat dijadikan dalil yang membantah pendapat Mu’tazilah yang berpendapat bahwa akal berdiri sendiri dalam menilai baik dan buruk. Adapun “Allah menyesatkannya di atas ilmu” memiliki dua makna: pertama, Allah menyesatkannya karena Allah mengetahui bahwa ia berhak mendapatkannya; kedua, Allah menyesatkannya setelah tegak hujjah kepadanya.

2. Yang Paling Sesat di Dunia

Allah berfirman dalam QS. Al-Qashash: 50:

فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَآءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِى الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Fa il lam yastajîbû laka fa’lam annamâ yattabi’ûna ahwâ’ahum, wa man adhallu mimmanittaba’a hawâhu bighairi hudam minallâh, innallâha lâ yahdil-qaumazh-zhâlimîn

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata:

Ini adalah manusia yang paling sesat. Ia ditawari hidayah dan jalan lurus yang akan menyampaikannya kepada Allah dan negeri kemuliaan, namun ia tidak mau menerima dan tidak pula menoleh kepadanya. Sementara hawa nafsunya menyerunya kepada jalan menuju kebinasaan dan kesengsaraan, ia justru mengikutinya dan meninggalkan hidayah.

Adakah orang yang lebih sesat daripada orang dengan sifat seperti ini? Permusuhan dan kebenciannya kepada kebenaran membuatnya terus berada dalam kesesatan, sehingga Allah tidak memberi hidayah kepadanya.

3. Tidak Berhak Menjadi Panutan

Allah berfirman dalam QS. Al-Kahfi: 28:

وَلاَتُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Wa lâ tuthi’ man aghfalnâ qalbahû ‘an dzikrinâ wattaba’a hawâhu wa kâna amruhû furuthâ

Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.

Dalam ayat ini Allah melarang Rasul-Nya menaati orang yang memiliki tiga sifat:

  • Lalai dari mengingat Allah, sehingga Allah membuatnya semakin lalai dari mengingat-Nya sebagai balasan perbuatannya.
  • Mengikuti hawa nafsunya, menuruti semua titah syahwatnya dan berusaha meraihnya walaupun di dalamnya ada kebinasaan dan kerugian.
  • Urusannya sia-sia, meremehkan batasan-batasan Allah dan syariat-Nya, sehingga tidak layak menjadi panutan dalam kehidupan manusia.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang berhak ditaati dan menjadi imam bagi manusia adalah orang yang hatinya dipenuhi kecintaan kepada Allah dan lisannya senantiasa basah dengan zikir kepada-Nya. Ia mengikuti keridhaan Rabb-nya dan lebih mengutamakan-Nya daripada hawa nafsunya. Ia juga menjaga waktunya, istiqamah dalam perbuatannya, serta mengajak manusia kepada hidayah yang Allah berikan kepadanya.”

4. Sifat Orang yang Zalim

Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum: 29:

بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَآءَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ فَمَن يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللهُ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ

Balittaba’alladzîna zhalamû ahwâ’ahum bighairi ‘ilm, famay yahdî man adhallallâh, wa mâ lahum min nâshirîn

Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti keinginannya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah? Dan tidak ada seorang penolong pun bagi mereka.

5. Menyesatkan Pelakunya dari Jalan Allah

Allah berfirman kepada Nabi Dawud ‘alaihissalam dalam QS. Shad: 26:

يٰدَاوٗدُ اِنَّا جَعَلْنٰكَ خَلِيْفَةً فِى الْاَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَضِلُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۢبِمَا نَسُوْا يَوْمَ الْحِسَابِ ࣖ

Yâ dâwûdu innâ ja’alnâka khalîfatan fil-ardhi fahkum bainan-nâsi bil-haqqi wa lâ tattabi’il-hawâ fa yudhillaka ‘an sabîlillâh, innalladzîna yadhilluna ‘an sabîlillâhi lahum ‘adzâbun syadîdum bimâ nasû yaumal-hisâb

(Allah berfirman), “Wahai Dawud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Hati yang Hitam Tidak Mengenal yang Ma’ruf

Amat berat kerusakan yang ditimbulkan oleh hawa nafsu dan syahwat. Keduanya merusak agama dan dunia, bahkan merusak tatanan kehidupan manusia, karena hati menjadi hitam kelam sehingga tidak lagi mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits:

وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ

Wal-âkharu aswadu murbâddan kal-kûzi mujakhkhiyan lâ ya’rifu ma’rûfan wa lâ yunkiru munkaran illâ mâ usyriba min hawâhu

…dan hati yang hitam seperti cangkir yang terbalik; tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar, kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya. (HR. Muslim)

Pelajaran dari Bahaya Hawa Nafsu

  • Ilmu tanpa amal dan tanpa kendali atas hawa nafsu bisa menjerumuskan pemiliknya.
  • Menuruti hawa nafsu sama saja dengan menjadikannya sebagai tuhan selain Allah.
  • Orang yang paling sesat adalah yang menolak hidayah karena lebih memilih keinginannya.
  • Panutan yang layak adalah orang yang hatinya penuh cinta kepada Allah dan lisannya basah dengan zikir.
  • Hawa nafsu bisa menyesatkan siapa pun, bahkan seorang pemimpin sekalipun, sehingga kita perlu selalu bersikap adil dan berpegang pada kebenaran.
  • Hati yang dikuasai hawa nafsu kehilangan kemampuan membedakan yang ma’ruf dan yang mungkar.

Kesimpulan

Hawa nafsu dan syahwat yang tidak dikendalikan dapat membuat hati keras, melalaikan dari zikir, dan menjauhkan manusia dari petunjuk Allah. Ayat-ayat Al-Quran menggambarkannya dengan perumpamaan yang keras agar kita mau berpikir dan waspada. Mari kita memohon kepada Allah agar dijaga dari keburukan hawa nafsu, membiasakan zikir, memperbanyak ilmu yang diamalkan, dan menjaga hati agar tetap hidup dan bersih.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Baca juga

Lihat Kisah Para Nabi

Kunjungi Kisah Para Nabi