Agama Islam merupakan agama yang mengajarkan umat manusia untuk menyembah Allah SWT, mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ, serta menjalani kehidupan berdasarkan Al-Qur’an dan sunah. Dalam mempelajari Islam, sebagian orang mungkin pernah mendengar pertanyaan, agama Islam ada 2 apa saja?
Pertanyaan tersebut bisa merujuk pada beberapa hal, termasuk kelompok besar dalam sejarah umat Islam yang dikenal sebagai Sunni dan Syiah. Namun, penting untuk dipahami bahwa Islam pada dasarnya adalah satu agama. Sunni dan Syiah merupakan dua kelompok besar dalam sejarah perkembangan umat Islam, bukan dua agama yang berbeda.
Untuk memahami persoalan ini dengan benar, mari kita pelajari pengertian Islam, sejarah munculnya Sunni dan Syiah, perbedaan keduanya, serta dalil yang berkaitan dengan persatuan umat Islam.
Apakah Agama Islam Ada 2?
Secara mendasar, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah Islam. Umat Islam memiliki sumber ajaran utama yang sama, yaitu Al-Qur’an, serta menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan dalam menjalankan agama.
Akan tetapi, sepanjang sejarah, umat Islam mengalami perkembangan pemikiran, tradisi keilmuan, dan perbedaan pandangan dalam sejumlah persoalan. Salah satu pembagian yang sering dikenal masyarakat adalah Sunni dan Syiah.
Kedua kelompok tersebut memiliki sejarah perkembangan yang berbeda, terutama berkaitan dengan persoalan kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ pada tahun 632 M.
Oleh karena itu, apabila pertanyaan “agama Islam ada 2 apa saja?” dimaksudkan sebagai kelompok besar dalam sejarah Islam, jawaban yang sering disebut adalah:
- Islam Sunni (Ahlusunah waljamaah).
- Islam Syiah.
Meskipun demikian, umat Islam tidak hanya terdiri atas dua kelompok tersebut. Ada pula berbagai mazhab fikih, aliran teologi, dan tradisi keagamaan. Mazhab fikih seperti Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, misalnya, merupakan mazhab hukum Islam dalam tradisi Sunni, bukan agama yang berbeda.
1. Islam Sunni (Ahlusunah waljamaah)
Islam Sunni merupakan kelompok terbesar dalam umat Islam di dunia. Istilah Sunni berkaitan dengan sunah Nabi Muhammad ﷺ, yakni tuntunan dan teladan beliau dalam menjalankan agama.
Dalam tradisi Sunni, sumber ajaran Islam meliputi Al-Qur’an dan sunah Rasulullah ﷺ. Para ulama juga menggunakan metode keilmuan Islam untuk memahami dalil dan menetapkan hukum, termasuk ijmak dan qiyas dalam kerangka usul fikih.
Sejarah Singkat Islam Sunni
Perkembangan Sunni berkaitan dengan sejarah kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ. Abu Bakar ash-Shiddiq kemudian menjadi khalifah pertama, disusul Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Seiring berjalannya waktu, tradisi keilmuan Sunni berkembang melalui para ulama hadis, ahli fikih, ahli tafsir, dan cendekiawan Muslim. Empat mazhab fikih Sunni yang terkenal adalah Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
Di Indonesia, banyak umat Islam mengikuti mazhab Syafi’i dalam persoalan fikih. Namun, mengikuti mazhab tertentu tidak berarti menjadikan mazhab tersebut sebagai agama tersendiri.
Ciri Umum Tradisi Sunni
Beberapa ciri umum tradisi Sunni meliputi:
- Menjadikan Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad ﷺ sebagai sumber utama ajaran.
- Mengakui kedudukan para sahabat Nabi sebagai generasi penting dalam penyampaian ajaran Islam.
- Memiliki tradisi keilmuan dalam bidang tafsir, hadis, fikih, dan akidah.
- Mengenal berbagai mazhab fikih, di antaranya Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
Ciri-ciri tersebut merupakan gambaran umum. Dalam praktiknya, terdapat keragaman pandangan di antara ulama dan komunitas Sunni.
2. Islam Syiah
Syiah merupakan kelompok besar dalam sejarah Islam yang memiliki pandangan khusus mengenai kepemimpinan umat setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ. Dalam tradisi Syiah, kedudukan Ali bin Abi Thalib dan keluarga Nabi atau Ahlulbait memiliki peran yang sangat penting.
Istilah Syiah berasal dari kata Arab syi’ah yang secara umum dapat berarti golongan atau pengikut. Dalam sejarah Islam, istilah tersebut berkembang menjadi sebutan bagi kelompok yang memiliki pandangan tertentu mengenai kepemimpinan Ali dan keturunannya.
Sejarah Singkat Islam Syiah
Setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ, muncul perbedaan pandangan mengenai siapa yang paling berhak memimpin umat Islam. Sebagian umat mendukung kepemimpinan Abu Bakar, sedangkan kelompok yang kemudian berkembang menjadi tradisi Syiah menekankan kedudukan Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbait.
Dalam perkembangan berikutnya, Syiah memiliki beragam cabang. Dua tradisi yang dikenal luas adalah Syiah Dua Belas Imam atau Itsna Asyariyah dan Ismailiyah. Ada pula Zaidiyah yang mempunyai sejarah dan pandangan tersendiri.
Setiap cabang memiliki perbedaan dalam memahami kepemimpinan, otoritas keagamaan, dan sejumlah persoalan teologi serta hukum Islam. Karena itu, Syiah tidak dapat dipahami sebagai kelompok yang sepenuhnya seragam.
Ciri Umum Tradisi Syiah
Beberapa ciri umum dalam tradisi Syiah, khususnya Syiah Dua Belas Imam, meliputi:
- Memberikan kedudukan khusus kepada Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbait.
- Memahami konsep imamah sebagai bagian penting dari ajaran kepemimpinan keagamaan.
- Memiliki tradisi hadis, fikih, dan pemikiran teologi yang berkembang melalui ulama-ulamanya.
- Memiliki praktik keagamaan dan tradisi peringatan tertentu yang dapat berbeda dari komunitas Muslim lainnya.
Perlu diingat bahwa pandangan dan praktik keagamaan berbeda-beda menurut cabang, wilayah, dan komunitas Syiah.
Perbedaan Islam Sunni dan Syiah
Perbedaan Sunni dan Syiah terutama berhubungan dengan sejarah kepemimpinan setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ. Seiring perkembangan sejarah, terdapat pula perbedaan dalam beberapa persoalan teologi, sumber otoritas keagamaan, dan praktik ibadah.
Berikut gambaran umumnya:
| Aspek | Sunni | Syiah |
|---|---|---|
| Sumber utama ajaran | Al-Qur’an dan sunah Nabi | Al-Qur’an dan ajaran Nabi, dengan tradisi otoritas keagamaan yang khas |
| Pandangan tentang kepemimpinan | Khalifah dipilih melalui proses yang berkembang dalam sejarah umat | Kedudukan Ali dan konsep imamah memiliki peran penting, dengan pemahaman berbeda menurut cabang |
| Tradisi fikih | Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali, dan tradisi lainnya | Memiliki tradisi fikih tersendiri, termasuk fikih Ja’fari |
| Tradisi keagamaan | Beragam menurut mazhab dan wilayah | Beragam menurut cabang dan wilayah |
| Jumlah pengikut | Mayoritas umat Islam di dunia | Minoritas umat Islam di dunia |
Tabel tersebut merupakan ringkasan umum, bukan gambaran lengkap seluruh pandangan setiap individu atau komunitas.
Apakah Sunni dan Syiah Menyembah Tuhan yang Berbeda?
Tidak. Sunni dan Syiah sama-sama mengidentifikasi diri sebagai Muslim dan menyembah Allah SWT. Keduanya mengakui Al-Qur’an sebagai kitab suci dan Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasul Allah.
Namun, terdapat perbedaan dalam penafsiran sejumlah ajaran, kedudukan otoritas keagamaan, serta beberapa praktik dan persoalan sejarah. Perbedaan tersebut perlu dipelajari melalui sumber yang dapat dipercaya, bukan hanya berdasarkan informasi yang beredar di media sosial.
Dalil Al-Qur’an tentang Persatuan Umat Islam
Al-Qur’an mengajarkan umat Islam untuk berpegang teguh pada agama Allah dan tidak terpecah belah. Salah satu ayat yang sering dijadikan pengingat mengenai persatuan adalah Surah Ali ‘Imran ayat 103.
Surah Ali ‘Imran Ayat 103
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Wa’tashimū bihablillāhi jamī’an wa lā tafarraqū.
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
Sumber: Al-Qur’an, Surah Ali ‘Imran ayat 103, petikan bagian awal ayat.
Ayat ini mengingatkan umat Islam agar menjaga persatuan, berpegang pada petunjuk Allah, dan menghindari perpecahan yang merusak persaudaraan.
Persatuan tidak berarti bahwa seluruh perbedaan pandangan harus dihilangkan. Sebaliknya, perbedaan perlu dibahas dengan ilmu, sikap adil, dan akhlak yang baik.
Dalil tentang Persaudaraan Sesama Muslim
Allah SWT juga menegaskan pentingnya persaudaraan di antara orang-orang beriman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10.
Surah Al-Hujurat Ayat 10
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Innamal-mu’minūna ikhwatun fa-aṣliḥū baina akhawaikum wattaqullāha la’allakum turḥamūn.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Sumber: Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat ayat 10.
Ayat tersebut mengajarkan bahwa perselisihan harus dihadapi dengan upaya perdamaian. Dalam kehidupan bermasyarakat, umat Islam hendaknya menghindari penghinaan, fitnah, dan tindakan kekerasan terhadap orang lain hanya karena perbedaan pandangan.
Apakah Islam Juga Memiliki Pembagian Islam, Iman, dan Ihsan?
Selain Sunni dan Syiah, ada pembahasan lain yang mungkin dimaksud ketika seseorang bertanya tentang pembagian agama Islam, yaitu Islam, iman, dan ihsan.
Ketiganya bukan dua agama yang berbeda, melainkan konsep penting dalam memahami ajaran Islam.
1. Islam
Islam berkaitan dengan ketundukan kepada Allah SWT dan pelaksanaan amalan lahiriah, seperti syahadat, salat, zakat, puasa Ramadan, dan haji bagi yang mampu.
2. Iman
Iman berkaitan dengan keyakinan kepada Allah, malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir yang baik maupun yang buruk.
3. Ihsan
Ihsan adalah beribadah kepada Allah dengan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi hamba-Nya. Konsep ini mendorong seorang Muslim untuk memperbaiki kualitas ibadah, keikhlasan, dan akhlaknya.
Ketiga konsep tersebut dijelaskan dalam hadis Jibril yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Hadis tersebut menerangkan pertanyaan tentang Islam, iman, dan ihsan sebagai bagian dari penjelasan agama.
Dengan demikian, apabila pertanyaan “agama Islam ada 2 apa saja?” sebenarnya bermaksud menanyakan pokok-pokok ajaran agama, penting untuk membedakan pembahasan Islam, iman, dan ihsan dari pembahasan Sunni dan Syiah.
Bagaimana Sikap yang Benar terhadap Perbedaan dalam Islam?
Perbedaan pandangan merupakan bagian dari perjalanan sejarah dan perkembangan pemikiran umat Islam. Agar perbedaan tidak menimbulkan permusuhan, ada beberapa sikap yang perlu diterapkan.
1. Mempelajari Agama dari Sumber Tepercaya
Pelajari Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan ulama yang memiliki kompetensi. Hindari mengambil kesimpulan hanya dari potongan video, unggahan media sosial, atau informasi yang tidak jelas sumbernya.
2. Menghindari Penghinaan dan Fitnah
Perbedaan keyakinan atau pandangan tidak membenarkan penghinaan, penyebaran fitnah, maupun kekerasan. Diskusi keagamaan sebaiknya dilakukan dengan adab dan argumentasi yang jelas.
3. Memahami Sejarah secara Proporsional
Sejarah Sunni dan Syiah berkaitan dengan peristiwa yang kompleks. Memahaminya memerlukan sumber sejarah yang beragam dan kehati-hatian dalam menilai tokoh maupun peristiwa masa lalu.
4. Menjaga Persaudaraan dan Kehidupan Bermasyarakat
Umat Islam perlu menjaga keamanan, menghormati hak orang lain, dan mengutamakan kedamaian. Perbedaan pendapat seharusnya tidak menjadi alasan untuk menyebarkan kebencian atau melakukan tindakan yang merugikan sesama.
Kesimpulan
Jadi, jawaban atas pertanyaan “agama Islam ada 2 apa saja?” bergantung pada maksud pertanyaannya. Jika yang dimaksud adalah dua kelompok besar dalam sejarah umat Islam, kelompok yang sering disebut adalah Sunni dan Syiah.
Namun, Islam tetap merupakan satu agama. Sunni dan Syiah adalah tradisi besar dalam sejarah umat Islam yang mempunyai perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan dan sejumlah persoalan keagamaan. Keduanya memiliki keragaman internal yang tidak dapat disederhanakan hanya dengan satu gambaran.
Sementara itu, Islam, iman, dan ihsan merupakan tiga konsep penting untuk memahami ajaran agama, bukan tiga agama atau dua kelompok yang sama dengan Sunni dan Syiah.
Dengan mempelajari sumber yang tepercaya, memahami sejarah secara adil, serta menjaga akhlak dan persaudaraan, umat Islam dapat menyikapi perbedaan dengan lebih bijaksana.
Wallahu a’lam bish-shawab.









