Sirah & Sejarah Islam

Kisah Nabi Ilyas dalam Al-Qur’an dan Alkitab

Kisah Nabi Ilyas dalam Al Qur'an dan Alkitab

Dalam sejarah para nabi, ada nama-nama yang disebut ringkas di satu kitab, tetapi diceritakan panjang lebar di kitab lain. Nabi Ilyas adalah salah satunya. Al-Qur’an menyebutnya singkat namun penuh makna, sedangkan Alkitab (Perjanjian Lama) menuturkan kisahnya secara rinci: dari kekeringan besar, mukjizat api di Gunung Karmel, hingga kepergiannya yang dramatis ke langit. Tokoh yang dalam bahasa Ibrani bernama Eliyahu (artinya “Yahweh/TUHAN adalah Allah-ku”) ini dikenal sebagai Elia dalam bahasa Indonesia untuk tradisi Kristen, dan Ilyas dalam tradisi Islam.

Artikel ini membahas kisah Nabi Ilyas dari kedua sumber, lalu membandingkan persamaan dan perbedaannya.

Latar Belakang: Masa Kemerosotan Iman

Baik Al-Qur’an maupun Alkitab menempatkan Ilyas di tengah kaum yang menyimpang dari tauhid. Menurut Alkitab, ia hidup pada abad ke-9 SM di Kerajaan Israel Utara. Raja Ahab, yang menikah dengan Izebel, putri raja Sidon, mendorong penyembahan Baal di seluruh negeri. Izebel bahkan memburu para nabi TUHAN, sementara ratusan nabi Baal mendapat tempat terhormat di istana.

Baal adalah dewa kesuburan dan hujan dalam kepercayaan bangsa Kanaan. Karena itu, pertentangan antara Ilyas dan para penyembah Baal bukan sekadar soal ritual, melainkan soal siapa sesungguhnya yang menguasai langit, hujan, dan kehidupan.

Nabi Ilyas dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menyebut Ilyas di dua tempat.

Pertama, dalam Surah Al-An’am (6:85). Ilyas disebut bersama Zakariya, Yahya, dan Isa sebagai bagian dari orang-orang yang saleh. Penyebutan ini menegaskan kedudukannya sebagai hamba pilihan Allah.

وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ ۖ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ

“(Dan) Zakariya, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-An’am [6]: 85)

Kedua, dalam Surah Ash-Shaffat (37:123-132). Di sinilah kisahnya dituturkan lebih jelas, meski ringkas. Intinya sebagai berikut:

وَإِنَّ إِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ ﴿١٢٣﴾ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿١٢٤﴾ أَتَدْعُونَ بَعْلًا وَتَذَرُونَ أَحْسَنَ الْخَالِقِينَ ﴿١٢٥﴾ اللَّهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ ﴿١٢٦﴾ فَكَذَّبُوهُ فَإِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ ﴿١٢٧﴾ إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ ﴿١٢٨﴾ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ ﴿١٢٩﴾ سَلَامٌ عَلَىٰ إِلْ يَاسِينَ ﴿١٣٠﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١٣١﴾ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ ﴿١٣٢﴾

Terjemahan : Sungguh, Ilyas benar-benar termasuk para rasul. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyeru Ba’l dan meninggalkan sebaik-baik Pencipta, yaitu Allah, Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yang terdahulu?” Mereka mendustakannya, maka sungguh mereka akan dihadirkan (untuk diazab), kecuali hamba-hamba Allah yang tulus. Kami abadikan untuk Ilyas (nama baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. “Salam sejahtera bagi Ilyasin.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. (QS. Ash-Shaffat [37]: 123-132)

Catatan: kata Ilyasin di ayat 130 dibaca sebagian qari sebagai Ali Yasin. Banyak mufasir memahaminya sebagai nama lain dari Ilyas. Untuk teks terjemahan resmi, rujuklah Al-Qur’an dan Terjemahnya terbitan Kementerian Agama RI.

  • Allah menegaskan bahwa Ilyas adalah salah seorang rasul.
  • Ia menegur kaumnya: mengapa mereka tidak bertakwa, mengapa mereka menyeru Ba’l dan meninggalkan Allah, sebaik-baik Pencipta, Tuhan mereka dan Tuhan nenek moyang mereka?
  • Kaumnya mendustakannya, sehingga mereka akan dihadirkan untuk menerima azab, kecuali hamba-hamba Allah yang tulus.
  • Allah mengabadikan namanya dengan sebutan baik bagi generasi sesudahnya, dan salam sejahtera dilimpahkan kepadanya.
  • Ia termasuk golongan muhsinin (orang yang berbuat kebaikan) dan hamba-hamba yang beriman.

Perlu dicatat bahwa Al-Qur’an tidak menyebut Raja Ahab, kekeringan, atau Gunung Karmel. Fokusnya adalah pesan inti dakwah Ilyas, yaitu seruan kembali kepada tauhid dan penolakan terhadap penyembahan Ba’l.

Penambahan dari Tradisi Tafsir

Para mufasir dan penulis kisah para nabi (Qishashul Anbiya) melengkapi kisah ini dengan riwayat-riwayat tambahan. Banyak di antaranya menyebut bahwa Ilyas diutus kepada bani Israil di daerah Ba’labak (kota yang namanya dikaitkan dengan Ba’l), pada masa seorang raja yang menyembah berhala. Sebagian riwayat menggambarkan kekeringan sebagai hukuman bagi kaum yang menolak, serta doa Ilyas agar kaumnya kembali ke jalan yang benar. Riwayat-riwayat ini sangat mirip dengan narasi Alkitab, dan sebagian ulama menilai sebagian di antaranya berasal dari tradisi Israiliyyat sehingga perlu disikapi dengan hati-hati. Sebagian ulama juga pernah membahas apakah Ilyas sama dengan Nabi Idris, tetapi pendapat ini tidak disepakati.

Bagaimana dengan Hadits?

Tidak ada hadits sahih yang menuturkan kisah Nabi Ilyas secara rinci. Karena itu, rincian seperti kekeringan, Raja Ahab, atau Ba’labak berasal dari riwayat para mufasir dan sejarawan, bukan dari sabda Nabi Muhammad ﷺ yang sahih. Imam Ibnu Katsir membahasnya dalam Tafsir dan Al-Bidayah wan Nihayah, dan banyak ulama menilai sebagian riwayat tentang Ilyas, termasuk kisah pertemuannya dengan Nabi Khidir setiap tahun, lemah sanadnya sehingga tidak dapat dijadikan dasar akidah.

Yang dapat dijadikan pegangan adalah hadits umum tentang kesatuan ajaran para nabi, yang tepat menggambarkan kesamaan dakwah Ilyas dengan nabi-nabi lain:

الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

“Para nabi itu bersaudara satu ayah, ibu mereka berbeda-beda, tetapi agama mereka satu.” (HR. Bukhari no. 3443 dan Muslim no. 2365, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; terjemahan bebas)

Nabi Elia dalam Alkitab

Kisah Elia terutama terdapat dalam 1 Raja-raja pasal 17 sampai 2 Raja-raja pasal 2. Alur ceritanya kaya dan dramatis.

1. Kekeringan dan Perlindungan di Tengah Krisis

Elia muncul tiba-tiba di hadapan Raja Ahab dan menyatakan bahwa tidak akan ada embun atau hujan beberapa tahun lamanya, kecuali ia sendiri yang menyatakannya. Setelah itu TUHAN menyuruhnya bersembunyi di tepi sungai Kerit. Di sana burung-burung gagak membawakan roti dan daging kepadanya setiap pagi dan petang.

Ketika sungai mengering, Elia diperintahkan pergi ke Sarfat (Sarepta), dekat Sidon. Di sana ia bertemu seorang janda miskin yang hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak. Atas perintah Elia, sang janda tetap membuatkan roti untuknya terlebih dahulu. Sejak itu, tepung dan minyak di rumahnya tidak habis sampai hujan turun kembali. Ketika anak janda itu jatuh sakit dan meninggal, Elia berdoa kepada TUHAN dan anak itu dihidupkan kembali.

2. Pertandingan di Gunung Karmel

Puncak kisahnya terjadi pada tahun ketiga kekeringan. Elia menantang Ahab untuk mengumpulkan seluruh Israel dan para nabi Baal di Gunung Karmel. Ia bertanya kepada rakyat berapa lama lagi mereka akan bimbang di antara dua pendapat.

Tantangannya sederhana: kedua pihak menyiapkan korban bakaran tanpa menyalakan api. Allah yang menjawab dengan api itulah Allah yang benar. Para nabi Baal berseru dari pagi hingga petang, menari, bahkan melukai diri, tetapi tidak ada jawaban. Elia kemudian menyiapkan mezbah TUHAN, membasahi korban dan kayunya dengan air hingga berlimpah, lalu berdoa dengan tenang. Api dari langit pun menyambar dan menghanguskan korban, kayu, batu, bahkan air di parit. Rakyat bersujud dan berseru bahwa TUHAN-lah Allah. Setelah itu, para nabi Baal dibunuh di lembah Kison, dan Elia berdoa hingga hujan lebat akhirnya turun.

3. Lari, Putus Asa, dan Suara yang Lembut

Ancaman Izebel membuat Elia ketakutan. Ia melarikan diri ke padang gurun sampai Bersyeba, lalu berharap mati di bawah pohon arar. Namun malaikat membangunkannya, memberinya makan dan minum, dan menguatkannya menempuh perjalanan empat puluh hari ke Gunung Horeb.

Di sana Elia mengalami pengalaman rohani yang terkenal: angin besar, gempa, dan api lewat, tetapi TUHAN tidak ada di dalamnya. Allah hadir dalam suara yang sayup-sayup dan lembut. Pada kesempatan itu Allah mengutusnya mengurapi Hazael sebagai raja Aram, Yehu sebagai raja Israel, dan Elisa sebagai nabi penggantinya.

4. Kebun Anggur Nabot dan Nubuat Keadilan

Dalam pasal 21, Elia menegur Ahab yang bersekongkol dengan Izebel merampas kebun anggur milik Nabot dengan membunuhnya. Elia menubuatkan kehancuran keluarga Ahab. Bagian ini menunjukkan bahwa misi Elia bukan hanya soal ibadah, tetapi juga keadilan sosial dan pembelaan terhadap orang lemah.

5. Diangkat ke Langit

Kisah Elia ditutup secara luar biasa. Dalam 2 Raja-raja 2, ketika ia berjalan bersama Elisa, muncul kereta berapi dengan kuda-kuda berapi yang memisahkan keduanya, dan Elia naik ke langit dalam angin badai. Jubahnya jatuh dan diambil Elisa sebagai tanda pewarisan tugas kenabian.

Elia dalam Harapan Akhir Zaman

Karena akhir hidupnya yang tidak lazim, tradisi Yahudi menantikan kembalinya Elia. Kitab Maleakhi (4:5) menyebut bahwa TUHAN akan mengutus nabi Elia sebelum datangnya hari TUHAN. Dalam Perjanjian Baru, Yesus menyebut Yohanes Pembaptis sebagai Elia yang akan datang, dalam arti pelayanan dan roh kenabiannya (Matius 11:14; Lukas 1:17). Elia juga tampil bersama Musa dalam peristiwa Transfigurasi, ketika Yesus menampakkan kemuliaan-Nya di atas gunung (Matius 17:1-8).

Persamaan dan Perbedaan

Persamaan utama

  • Ilyas/Elia adalah nabi yang diutus kepada bani Israil.
  • Inti dakwahnya sama: menolak penyembahan Baal dan menyerukan penyembahan hanya kepada Allah yang Esa.
  • Keduanya menggambarkan kaum yang mendustakan, dan nabi yang tetap setia meski sendirian.
  • Kedudukannya sangat dihormati di kedua tradisi.

Perbedaan penting

  • Kedalaman narasi. Al-Qur’an memberi ringkasan teologis, sedangkan Alkitab menyajikan kisah berlapis dengan tokoh, tempat, dan peristiwa.
  • Peristiwa akhir. Alkitab secara eksplisit menyebut Elia diangkat ke langit. Al-Qur’an tidak menyebut hal itu pada Ilyas; sebagian riwayat tafsir membahasnya, tetapi tidak ada kesepakatan.
  • Pandangan teologis. Dalam Islam, Ilyas adalah salah satu nabi dan rasul, tanpa harapan eskatologis khusus yang melekat padanya. Dalam Yudaisme dan Kristen, Elia memiliki peran nubuat tentang kedatangan akhir zaman.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

  1. Keteguhan dalam kebenaran. Ilyas/Elia berdiri melawan arus, bahkan ketika penguasa dan mayoritas rakyat menentangnya.
  2. Tauhid sebagai inti pesan. Seruan untuk meninggalkan berhala dan kembali kepada Tuhan Yang Esa adalah benang merah semua nabi.
  3. Kejujuran tentang kelemahan manusia. Alkitab menunjukkan nabi yang sempat takut dan lelah, lalu dikuatkan kembali. Ini menjadi pengingat bahwa keteguhan bukan berarti tanpa rasa takut.
  4. Iman dan keadilan berjalan bersama. Elia membela rakyat kecil dari kezaliman penguasa, bukan hanya mengurus soal ritual.
  5. Kelembutan Allah dalam kesunyian. Pesan di Gunung Horeb mengajarkan bahwa Allah dapat dijumpai bukan hanya dalam peristiwa dahsyat, tetapi juga dalam ketenangan hati.

Penutup

Kisah Nabi Ilyas atau Elia memperlihatkan bagaimana satu tokoh dapat dihormati oleh beberapa tradisi iman dengan penekanan yang berbeda. Al-Qur’an menyoroti misi dan keteladanannya secara ringkas, sementara Alkitab menyajikan perjalanan hidupnya secara utuh dan dramatis. Keduanya bertemu pada satu pesan: iman yang murni kepada Tuhan Yang Esa, keberanian menyuarakan kebenaran, dan keyakinan bahwa kesetiaan pada-Nya tidak pernah sia-sia.

Catatan: Artikel ini bersifat informatif dan membandingkan dua tradisi. Untuk kajian lebih dalam, rujuklah Al-Qur’an dan tafsirnya (misalnya Tafsir Ibnu Katsir) serta Alkitab (1 Raja-raja 17 – 2 Raja-raja 2).

Baca juga