Sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk para rasul.
Tafsir QS. As-Saffat Ayat 123
Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa Ilyas adalah seorang rasul yang diutus Allah. Menurut ath-thabari, Ilyas adalah putra Yasin bin Finhas bin 'Iyzar bin Nabi Harun saudara Nabi Musa. Masa kenabiannya setelah kenabian Nabi Sulaiman. Ia diutus Allah kepada Bani Israil ketika kaumnya itu tidak lagi menyembah Allah, tetapi menyembah berhala. Raja-raja mereka juga mendukung agama berhala tersebut, bahkan membangun tempat-tempat khusus penyembelihan hewan untuk dipersembahkan kepada berhala tersebut.
124
اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖٓ اَلَا تَتَّقُوْنَ
Iż qāla liqaumihī alā tattaqūn(a).
(Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu tidak bertakwa?
Tafsir QS. As-Saffat Ayat 124
Nabi Ilyas memperingatkan kaumnya agar bertakwa kepada Allah, yaitu mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa adalah inti ajaran para nabi sampai Nabi Muhammad. Bila mereka takwa mereka akan bahagia di dunia dan di akhirat, tetapi bila tetap kafir maka mereka akan ditimpa azab yang dahsyat dari Allah.
Apakah kamu terus menyeru Ba‘l dan meninggalkan sebaik-baik pencipta,
Tafsir QS. As-Saffat Ayat 125
Nabi Ilyas meminta mereka agar meninggalkan penyembahan patung yang mereka beri nama Ba'l. Menurut sebagian ulama Ba'l adalah nama patung orang-orang Funisia pada zaman sebelum masehi. Ada pula yang mengatakan bahwa Ba'l adalah nama patung yang disembah penduduk kota Ba'labak di barat Damaskus. Nabi Ilyas mengecam mereka, mengapa mereka menyembah patung itu, karena patung itu tidak mencipta bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Yang patut dijadikan Tuhan dan disembah adalah yang mencipta bukan patung Ba'l yang tidak bisa berbuat apa-apa tersebut.
Allah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yang terdahulu?”
Tafsir QS. As-Saffat Ayat 126
Nabi Ilyas menegaskan bahwa Tuhan yang Maha Pencipta itu adalah Allah. Allah-lah yang menciptakan mereka dan nenek moyang mereka. Karena itu Allah-lah Tuhan mereka yang sebenarnya dan juga Tuhan nenek moyang mereka, yaitu Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishak dan Nabi Yakub. Sebelum meninggal, Nabi Yakub telah menerima janji dari anak-anaknya bahwa mereka hanya akan mempertuhankan Allah, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur'an:
Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Yakub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab, "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya." (al-Baqarah/2: 133)
Dengan penyembahan patung Ba'l itu berarti bahwa mereka telah melanggar ikrar nenek moyang mereka tersebut.
127
فَكَذَّبُوْهُ فَاِنَّهُمْ لَمُحْضَرُوْنَۙ
Fakażżabūhu fa'innahum lamuḥḍarūn(a).
Mereka kemudian mendustakannya (Ilyas). Sesungguhnya mereka akan diseret (ke neraka),
Tafsir QS. As-Saffat Ayat 127
Ayat ini menerangkan bahwa kaum Nabi Ilyas menentang Nabi Ilyas. Mereka memandang Nabi Ilyas berbohong dengan dakwah yang disampaikannya. Oleh karena itu, mereka menolak untuk kembali kepada agama tauhid. Karena tetap memilih syirik dan tidak kembali ke agama tauhid itu, maka selama di dunia mereka dibiarkan, tetapi di akhirat nanti mereka akan diseret dengan paksa ke dalam neraka.
Mereka yang mengerjakan kebaikan dengan ikhlas dihindarkan dari neraka. Mereka disebut al-mukhlishin 'orang yang ikhlas. Setelah keikhlasan mereka dalam beramal begitu kuatnya sehingga sudah menjadi sifatnya, maka Allah menyambut keikhlasan itu sehingga ia dijadikan-Nya sebagai orang yang telah diterima sepenuhnya keikhlasannya. Orang itu disebut al-mukhlashin 'orang yang diikhlaskan-Nya. Dalam Al-Qur'an orang itulah yang tidak mempan digoda oleh setan sebagaimana diakui setan itu sendiri:
Ia (Iblis) berkata, "Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka." (al-hijr/15: 39-40)
128
اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ
Illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn(a).
kecuali hamba-hamba Allah yang terpilih (karena keikhlasannya).
Tafsir QS. As-Saffat Ayat 128
Ayat ini menerangkan bahwa kaum Nabi Ilyas menentang Nabi Ilyas. Mereka memandang Nabi Ilyas berbohong dengan dakwah yang disampaikannya. Oleh karena itu, mereka menolak untuk kembali kepada agama tauhid. Karena tetap memilih syirik dan tidak kembali ke agama tauhid itu, maka selama di dunia mereka dibiarkan, tetapi di akhirat nanti mereka akan diseret dengan paksa ke dalam neraka.
Mereka yang mengerjakan kebaikan dengan ikhlas dihindarkan dari neraka. Mereka disebut al-mukhlishin 'orang yang ikhlas. Setelah keikhlasan mereka dalam beramal begitu kuatnya sehingga sudah menjadi sifatnya, maka Allah menyambut keikhlasan itu sehingga ia dijadikan-Nya sebagai orang yang telah diterima sepenuhnya keikhlasannya. Orang itu disebut al-mukhlashin 'orang yang diikhlaskan-Nya. Dalam Al-Qur'an orang itulah yang tidak mempan digoda oleh setan sebagaimana diakui setan itu sendiri:
Ia (Iblis) berkata, "Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka." (al-hijr/15: 39-40)
129
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۙ
Wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn(a).
Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,
Tafsir QS. As-Saffat Ayat 129
Ayat ini menjelaskan kemuliaan yang diberikan Allah kepada Nabi Ilyas atas perjuangannya yang tidak kenal lelah dalam menyampaikan dakwah kepada manusia. Kemuliaan itu sama dengan kemuliaan yang diberikan kepada Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, dan Harun, yaitu dikenangnya nama mereka sepanjang masa oleh umat beragama. Di antaranya adalah dipujinya nama mereka dalam Al-Qur'an yang lestari sampai akhir zaman.
130
سَلٰمٌ عَلٰٓى اِلْ يَاسِيْنَ
Salāmun ‘alā ilyāsīn(a).
“Salam sejahtera atas Ilyas dan kaumnya.”
Tafsir QS. As-Saffat Ayat 130
Allah mengucapkan salam kepada Ilyasin (bentuk jamak Ilyas), yaitu Nabi Ilyas dan orang-orang yang menerima dan mendukung ajaran yang disampaikannya. Ucapan salam dari Allah adalah kepastian keselamatan dan kesejahteraan sepanjang masa dari Allah bagi Nabi Ilyas dan para pengikutnya di dunia dan di akhirat.
Imam Nafi' membaca ال ياسين dengan ali Yasin. seperti ali Muhammad, sedangkan Imam Hafsh membacanya Ilyasin. Kemudian ahli tafsir berbeda pendapat apakah ال ياسين maksudnya Ilyas atau keluarga Yasin.. Namun demikian, kebanyakan ulama berpendapat bahwa maksudnya adalah keluarga atau pengikutnya.
131
اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ
Innā każālika najzil-muḥsinīn(a).
Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.
Tafsir QS. As-Saffat Ayat 131
Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa kemuliaan yang diberikan kepada Nabi Ilyas itu adalah karena kebajikan yang telah ia perbuat. Ia telah berjuang menegakkan agama tauhid dan meluruskan kembali jalan kehidupan yang ditempuh kaumnya, Bani Israil. Ia telah berdakwah dengan penuh pengorbanan secara tulus ikhlas. Kepentingannya bukan untuk dirinya, tetapi bagaimana supaya umatnya beriman dan berbuat baik dalam hidup mereka.
132
اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ
Innahū min ‘ibādinal-mu'minīn(a).
Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin.
Tafsir QS. As-Saffat Ayat 132
Allah memuji Nabi Ilyas karena termasuk salah satu hamba-Nya yang beriman. Ia seorang yang benar-benar beriman sehingga ia mengabdikan diri untuk-Nya. Karena keimanannya, Nabi Ilyas bisa memberikan pengorbanan yang besar bagi kebaikan umatnya. Iman memang perlu dibuktikan dengan perbuatan baik, dan Nabi Ilyas telah membuktikannya.
Tentang Surat As-Saffat
Surat Ash Shaaffaat terdiri atas 182 ayat termasuk golongan surat Makkiyyah diturunkan sesudah surat Al An'aam. Dinamai dengan Ash Shaaffaat (yang bershaf-shaf) ada hubungannya dengan perkataan Ash Shaaffaat yang terletak pada ayat permulaan surat ini yang mengemukakan bagaimana para malaikat yang berbaris di hadapan Tuhannya yang bersih jiwanya, tidak dapat digoda oleh syaitan. Hal ini hendaklah menjadi i'tibar bagi manusia dalam menghambakan dirinya kepada Allah.