Di antara sekian banyak peristiwa dalam sirah Nabi ﷺ, ada satu momen yang sangat jarang dibahas padahal pelajarannya luar biasa dalam: kisah Abdullah bin Ummi Maktum dan turunnya Surah ‘Abasa. Peristiwa ini bukan sekadar cerita tentang seorang sahabat buta yang diabaikan, melainkan sebuah teguran langsung dari Allah kepada Nabi-Nya — sesuatu yang tidak pernah terjadi pada kitab suci mana pun selain Al-Qur’an.
Artikel ini akan mengulas siapa Abdullah bin Ummi Maktum, kronologi peristiwanya, teks dan tafsir Surah ‘Abasa ayat 1–10, serta hikmah yang bisa kita ambil untuk kehidupan modern.
Siapa Abdullah bin Ummi Maktum?
Abdullah bin Ummi Maktum adalah salah satu sahabat Nabi ﷺ dari kalangan muhajirin awal. Nama aslinya Abdullah bin Qais bin Zaidah, sedangkan “Ummi Maktum” adalah nama ibunya. Ia berasal dari Bani Makhzum — salah satu kabilah terkemuka Quraisy — namun ia memilih memeluk Islam di saat kebanyakan bangsanya masih menentang.
Yang membuatnya istimewa: ia buta sejak lahir (ada riwayat yang menyebut buta sejak kecil). Meski demikian, semangatnya untuk menuntut ilmu dan beribadah tidak pernah surut. Ia sering menghampiri Nabi ﷺ untuk bertanya, meminta diajarkan Al-Qur’an, dan memperdalam agamanya.
Setelah peristiwa hijrah ke Madinah, Nabi ﷺ mengangkatnya sebagai salah satu muazin — bersama Bilal bin Rabah. Ini kehormatan besar, karena muazin adalah orang yang mengumandangkan seruan salat lima waktu, suara yang paling sering didengar umat Islam di Madinah.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebut Abdullah bin Ummi Maktum pernah diangkat Nabi ﷺ sebagai pengganti sementara beliau di Madinah ketika beliau keluar untuk beberapa peperangan. Jadi, meski buta, ia diberi amanah memimpin urusan umat.
Ia syahid dalam Perang Qadisiyah (sekitar 636 M), pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Ada riwayat yang menyebut ia membawa bendera perang dan terjatuh syahid di medan itu.
Kronologi Peristiwa Turunnya Surah ‘Abasa
Peristiwa ini terjadi di Makkah, pada fase awal dakwah, ketika Nabi ﷺ sedang menghadapi tekanan hebat dari kaum Quraisy. Suatu hari, Nabi ﷺ sedang berbicara dengan sekelompok tokoh Quraisy terkemuka. Di antara mereka ada Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu Jahal, Al-‘Ash bin Wail, dan beberapa pembesar lainnya.
Nabi ﷺ sangat berharap mereka masuk Islam. Bukan karena mereka orang penting secara sosial, tetapi karena jika para pemimpin Quraisy beriman, akan banyak pengikut mereka yang mengikuti. Nabi ﷺ sedang berbincang serius dengan mereka, menyampaikan pesan tauhid, ketika tiba-tiba datang Abdullah bin Ummi Maktum.
Ia buta, tidak melihat bahwa Nabi ﷺ sedang sibuk dengan tokoh-tokoh penting. Ia hanya ingin bertanya dan belajar:
“Ya Rasulullah, ajarkan aku apa yang Allah ajarkan kepadamu.”
Ia mengulang-ulang pertanyaannya, bahkan menyela pembicaraan Nabi ﷺ dengan para pembesar Quraisy itu.
Nabi ﷺ merasa terganggu. Bukan karena benci kepada Abdullah — tapi karena momen itu dianggap sangat penting untuk dakwah kepada para pemimpin Quraisy. Wajah Nabi ﷺ pun bermuka masam (bahasa Arab: ‘abasa), dan beliau berpaling dari Abdullah, melanjutkan pembicaraan dengan para pembesar itu.
Ibnu Katsir dan Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan bahwa setelah itu, Nabi ﷺ beranjak pergi. Belum sampai tujuan, wahyu turun. Allah menegur Nabi-Nya dengan sangat halus namun tegas melalui Surah ‘Abasa ayat 1–10:
Teks Surah ‘Abasa Ayat 1–10
Ayat 1–2
عَبَسَ وَتَوَلّٰىٰٓ ۙ اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ
‘Abasa wa tawallā, an jā’ahul-a’mā.
“Ia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya.”
Ayat 3–4
وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓ ۙ اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ
Wa mā yudrīka la’allahū yazzakkā, au yażżakkaru fa tanfa’ahuż-żikrā.
“Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya, atau dia ingin mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?”
Ayat 5–7
اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ
Ammā manistagnā, fa anta lahū taṣaddā. Wa mā ‘alaika allā yazzakkā.
“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka engkau melayani dia, padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).”
Ayat 8–10
وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ وَهُوَ يَخْشٰىۙ فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۗ
Wa ammā man jā’aka yas’ā, wa huwa yakhsyā, fa anta ‘anhu talahhā.
“Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan ia takut kepada (Allah), maka engkau malah mengabaikannya.”
Tafsir Ringkas
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa teguran dalam Surah ‘Abasa ini adalah teguran yang penuh kasih sayang, bukan celaan yang merendahkan. Allah ﷻ mengingatkan Nabi-Nya bahwa:
-
Kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak diukur dari status sosialnya. Abdullah bin Ummi Maktum — buta, miskin, dari kalangan biasa — justru lebih berhak mendapatkan perhatian karena ia datang dengan kesungguhan dan rasa takut kepada Allah.
-
Pembesar Quraisy yang merasa cukup (mustagni) tidak perlu dikejar-kejar. Mereka tetap akan menolak, karena kesombongan mereka bukan karena kurangnya penjelasan, tapi karena penyakit hati.
-
Wahyu ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an bukan buatan Nabi ﷺ. Tidak mungkin seorang Nabi yang berambisi menaikkan pengikut akan menceritakan kesalahannya sendiri — kecuali karena wahyu dari Allah.
Setelah peristiwa ini, Nabi ﷺ memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum lebih dari sebelumnya. Setiap kali bertemu, beliau menyambutnya dengan hangat sambil berkata:
“Selamat datang, wahai orang yang menyebabkan aku ditegur oleh Tuhanku.”
Ini menunjukkan akhlak Nabi ﷺ yang luar biasa: beliau tidak marah kepada Abdullah, tidak menyalahkannya, justru berterima kasih karena melalui Abdullah, beliau mendapat pelajaran langsung dari Allah.
Hikmah dan Pelajaran
1. Allah menegur Nabi-Nya secara langsung
Dalam sejarah agama-agama lain, kitab suci biasanya menggambarkan Nabi sebagai figur sempurna tanpa cela. Al-Qur’an berbeda: ia mengabadikan kesalahan Nabi ﷺ untuk memberi pelajaran kepada seluruh umat. Ini bukti kejujuran Al-Qur’an.
2. Jangan mengabaikan orang kecil karena mengejar orang besar
Betapa sering kita mengabaikan orang sederhana — pegawai rendahan, tetangga biasa, anak kecil — karena sedang sibuk dengan “orang penting”. Surah ‘Abasa adalah teguran abadi untuk pola pikir seperti itu.
3. Keikhlasan lebih berharga daripada status
Abdullah bin Ummi Maktum datang tanpa pamrih, hanya ingin belajar. Sedangkan pembesar Quraisy datang dengan kesombongan. Allah menilai niat, bukan jabatan.
4. Islam memuliakan penyandang disabilitas
Abdullah bin Ummi Maktum bukan hanya diterima, tapi dipercaya menjadi muazin dan pengganti Nabi ﷺ di Madinah. Islam tidak memandang keterbatasan fisik sebagai penghalang kemuliaan.
5. Pemimpin harus bisa mengakui kesalahan
Nabi ﷺ — manusia paling mulia — tetap ditegur dan beliau menerimanya tanpa membela diri. Ini contoh kepemimpinan yang jarang ditemukan.
Penutup
Kisah Abdullah bin Ummi Maktum dan turunnya Surah ‘Abasa adalah salah satu momen paling menyentuh dalam sejarah Islam. Ia mengajarkan bahwa di mata Allah, yang paling mulia bukan yang paling kaya atau paling berpengaruh, melainkan yang paling bertakwa (QS. Al-Hujurat: 13).
Mari kita renungkan: sudah berapa kali kita mengabaikan orang sederhana karena sibuk mengejar yang “lebih penting”? Surah ‘Abasa adalah cermin bagi kita semua.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang ikhlas, yang memuliakan setiap orang yang datang dengan niat baik. Āmīn.




