Pasar saham Indonesia sedang diguncang. Setelah MSCI membuka konsultasi untuk mengubah status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada 15 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh tajam. Pada 16 Oktober 2026, IHSG ditutup anjlok 11,57% ke level 5.185, dan pada 19 Oktober 2026 ditutup di sekitar 4.996, level terendah sejak pandemi 2020. Di tengah kepanikan ini, banyak muslim bertanya: bagaimana sikap yang benar menurut Islam saat IHSG anjlok?
Catatan: angka di atas per 19 Oktober 2026 dan dapat berubah. Artikel ini membahas sudut pandang akhlak dan muamalah, bukan nasihat investasi.
Apa yang Sebenarnya Terjadi? Ringkasan Singkat
- MSCI adalah penyedia indeks global yang menjadi acuan banyak investor institusi dunia dalam menentukan ke mana dananya dialokasikan.
- Dalam konsultasinya, MSCI menyoroti transparansi kepemilikan saham, akses investor, dan dugaan perdagangan terkoordinasi di pasar Indonesia.
- Standalone Market adalah kategori yang berada di luar kelompok emerging market. Perubahan status berpotensi memengaruhi aliran dana asing, terutama dana pasif yang mengikuti indeks.
- Konsultasi ini masih berupa usulan dan proses penilaian, bukan keputusan akhir.
Sikap Pertama: Sabar dan Tidak Panik
Harta adalah salah satu bentuk ujian. Allah menegaskan bahwa ujian itu pasti datang, dan memberi kabar gembira bagi orang yang sabar:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Wa lanabluwannakum bisyai’im minal-khaufi wal-jū‘i wa naqshim minal-amwāli wal-anfusi wats-tsamarāt, wa basysyirish-shābirīn.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Sabar di sini bukan berarti pasrah tanpa berpikir. Sabar berarti menahan diri dari keputusan yang digerakkan rasa takut, seperti menjual semua aset secara membabi buta (panic selling) hanya karena melihat angka merah di layar.
Sikap Kedua: Ikhtiar yang Terukur, Lalu Tawakal
Islam mengajarkan keseimbangan antara usaha dan tawakal. Nabi ﷺ pernah ditanya apakah seseorang perlu mengikat untanya lalu bertawakal, dan beliau mengajarkan agar diikat dulu, baru bertawakal (HR. At-Tirmidzi). Dalam konteks ini:
- Pahami dulu apa yang Anda miliki dan mengapa Anda membelinya.
- Nilai kondisi keuangan keluarga: dana darurat, utang, dan kebutuhan jangka pendek.
- Buat keputusan dengan kepala dingin, jika perlu dengan berkonsultasi pada perencana keuangan atau ahli yang kompeten.
- Setelah berikhtiar, serahkan hasilnya kepada Allah. Rezeki bukan sepenuhnya ditentukan oleh grafik indeks.
Sikap Ketiga: Tabayyun, Jangan Menyebar Hoaks dan Kepanikan
Saat pasar bergejolak, kabar beredar lebih cepat dari faktanya: tangkapan layar, voice note, hingga prediksi “bursa akan runtuh”. Islam memerintahkan kita memeriksa kabar sebelum menyebarkannya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Yā ayyuhal-ladzīna āmanū in jā’akum fāsiqum binaba’in fatabayyanū an tushībū qauman bijahālatin fatushbihū ‘alā mā fa‘altum nādimīn.
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Rujuk sumber resmi (OJK, BEI, MSCI) dan media yang kredibel. Jangan ikut menyebar kabar yang belum jelas, karena kepanikan massal bisa merugikan banyak orang.
Pelajaran Muamalah: Kejujuran dan Transparansi
Salah satu sorotan MSCI adalah transparansi. Dalam Islam, kejujuran dan keterbukaan dalam bermuamalah adalah prinsip pokok. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ
Yā ayyuhal-ladzīna āmanū lā ta’kulū amwālakum bainakum bil-bāthili illā an takūna tijāratan ‘an tarādhim minkum.
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 29)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
Man ghassyanā falaisa minnā.
“Barang siapa menipu kami, maka ia bukan golongan kami.” (HR. Muslim)
Beberapa praktik yang dilarang dalam muamalah dan relevan dengan pembahasan pasar modal antara lain:
- Penipuan dan manipulasi (tadlis, ghisy): menyembunyikan informasi atau menampilkan gambaran palsu.
- Najasy: menawar atau membuat permintaan semu untuk menaikkan harga, padahal tidak berniat membeli. Nabi ﷺ melarangnya (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
- Ihtikar: menimbun untuk memainkan harga.
- Gharar berlebihan: ketidakpastian yang ekstrem, sehingga transaksi mirip spekulasi atau judi.
Tentu, apakah suatu pihak benar melakukan pelanggaran harus dibuktikan oleh otoritas yang berwenang. Sebagai muslim, kita tidak boleh menuduh tanpa bukti, tetapi kita boleh mengambil pelajaran bahwa pasar yang sehat membutuhkan kejujuran dan keterbukaan.
Bagaimana Hukum Saham dalam Islam?
Di Indonesia, Dewan Syariah Nasional MUI (DSN-MUI) telah mengeluarkan fatwa tentang pasar modal dan penerapan prinsip syariah di dalamnya, antara lain Fatwa DSN-MUI No. 40/2003 dan Fatwa No. 80/2011 tentang mekanisme perdagangan efek. Secara umum, investasi saham dibolehkan jika memenuhi prinsip syariah, misalnya:
- Usaha emiten tidak bergerak di bidang yang haram (riba, judi, minuman keras, dan sejenisnya).
- Struktur keuangan memenuhi kriteria syariah (misalnya rasio utang berbasis bunga dan pendapatan non-halal dibatasi).
- Transaksi bebas dari manipulasi, spekulasi berlebihan, dan praktik yang dilarang.
Untuk memudahkan, OJK menerbitkan Daftar Efek Syariah (DES), dan BEI memiliki Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Perlu dipahami bahwa saham syariah tetap bisa ikut turun saat sentimen pasar memburuk, sebab status “syariah” menyangkut kehalalan, bukan jaminan harga. Untuk keputusan pribadi, konsultasikan dengan ustadz atau pakar ekonomi syariah yang kompeten.
Sikap Muslim Saat IHSG Anjlok: Ringkasan Praktis
- Tenangkan diri. Jangan ambil keputusan besar dalam keadaan panik.
- Periksa kondisi keuangan sendiri, dan jangan memakai uang yang dibutuhkan untuk kebutuhan pokok atau uang pinjaman untuk berspekulasi.
- Jauhi utang berbunga dan margin untuk mengejar balik kerugian.
- Tabayyun sebelum percaya dan menyebarkan kabar.
- Perbanyak doa, istighfar, dan sedekah. Sedekah tidak mengurangi harta, dan keberkahan lebih penting dari sekadar angka.
- Ambil pelajaran: diversifikasi, jangan serakah, dan pahami apa yang dibeli.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apakah rugi saham karena IHSG anjlok termasuk musibah yang berpahala jika bersabar?
Kerugian harta termasuk bagian dari ujian. Orang yang bersabar, berikhtiar dengan cara yang halal, dan tidak berkeluh kesah dijanjikan kabar gembira oleh Allah (QS. Al-Baqarah: 155). Namun kerugian akibat spekulasi yang dilarang tidak otomatis bernilai pahala.
Apakah menjual saham saat pasar panik itu haram?
Menjual saham yang halal pada dasarnya diperbolehkan. Yang perlu dihindari adalah keputusan yang gegabah, praktik manipulasi, atau menyebar kabar palsu untuk memengaruhi harga. Keputusan menjual atau menahan sebaiknya didasarkan pada pertimbangan keuangan yang matang.
Apakah berinvestasi di saham halal menurut Islam?
Boleh, selama memenuhi prinsip syariah sebagaimana dalam fatwa DSN-MUI, yaitu usahanya halal, struktur keuangannya sesuai kriteria syariah, dan transaksinya bebas dari manipulasi dan spekulasi yang dilarang.
Apakah saham syariah juga turun saat IHSG anjlok?
Bisa. Label syariah menyangkut kehalalan usaha dan transaksi, bukan jaminan harga tidak turun.
Apa yang sebaiknya dilakukan muslim saat pasar saham jatuh?
Tenang, periksa kondisi keuangan, hindari utang berbunga, tabayyun terhadap kabar, perbanyak doa dan sedekah, serta ambil keputusan dengan nasihat yang tepat.
Penutup
Pasar bisa naik dan turun, tetapi akhlak seorang muslim tidak ikut turun. Dalam gejolak IHSG kali ini, Islam mengajak kita sabar, jujur, berhati-hati terhadap kabar, dan menjaga cara kita mencari rezeki tetap halal. Nilai seorang mukmin tidak ditentukan oleh angka di layar, melainkan oleh bagaimana ia bersikap ketika diuji.
Untuk bacaan Islami lainnya seputar ibadah, doa, dan muamalah, kunjungi Islamipedia.
Artikel ini bersifat edukatif dan bukan nasihat investasi. Untuk keputusan keuangan dan hukum syariah yang spesifik, konsultasikan dengan ahli yang berkompeten.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber data pasar: pemberitaan Bisnis.com, CNBC Indonesia, dan Kompas per 16-19 Oktober 2026.









