Doa & Dzikir

Bacaan Doa Iftitah Lengkap: Arab, Latin, Arti, dan Hukumnya Keutamaannya

Bacaan Doa Iftitah

Doa iftitah merupakan doa pembuka yang dibaca pada awal shalat, tepatnya setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Surah Al-Fatihah. Doa ini berisi pujian kepada Allah SWT, pengagungan terhadap kebesaran-Nya, serta permohonan ampunan dan petunjuk.

Ada beberapa bacaan doa iftitah yang bersumber dari riwayat hadis. Sebagian relatif pendek dan mudah dihafal, sedangkan sebagian lainnya lebih panjang. Umat Islam dapat mempelajari berbagai redaksi tersebut dan membaca salah satunya dalam shalat.

Apa Itu Doa Iftitah?

Kata iftitah berasal dari bahasa Arab yang berarti pembukaan. Dalam shalat, doa iftitah dibaca sebagai pembuka sebelum membaca Surah Al-Fatihah.

Hukum membaca doa iftitah adalah sunnah, bukan rukun shalat. Oleh karena itu, shalat tetap sah apabila seseorang tidak membacanya, misalnya karena lupa atau terlambat mengikuti imam.

Doa iftitah tidak hanya memiliki satu redaksi. Ada beberapa bacaan yang diriwayatkan dalam hadis, termasuk bacaan yang diawali dengan Allahu akbaru kabira, Allahumma ba’id baini, dan Wajjahtu wajhiya. Masing-masing memiliki lafaz dan kandungan makna yang berbeda.

Bacaan Doa Iftitah Lengkap: Arab, Latin, Arti, Versi Pendek dan Panjang

1. Doa Iftitah Pendek: Allahu Akbaru Kabira

Salah satu doa iftitah yang singkat adalah bacaan yang diawali dengan kalimat Allahu akbaru kabira. Bacaan ini diriwayatkan dalam hadis sahih ketika seorang sahabat mengucapkannya dalam shalat, kemudian Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa para malaikat bersegera mengangkat kalimat tersebut.

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Allâhu akbaru kabîrâ, walhamdu lillâhi katsîrâ, wa subhânallâhi bukratan wa ashîlâ.

Allah Mahabesar dengan sebesar-besarnya, segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya, dan Mahasuci Allah pada waktu pagi dan petang.

Sumber: HR. Muslim, juga diriwayatkan dalam Sunan an-Nasa’i no. 885.

Bacaan ini cocok dipelajari oleh orang yang ingin menghafal doa iftitah yang ringkas. Meski pendek, isinya mengandung pengagungan dan pujian kepada Allah SWT.

2. Doa Iftitah Pendek: Subhanaka Allahumma

Doa iftitah berikutnya diawali dengan kalimat Subhanaka Allahumma wa bihamdika. Bacaan ini cukup dikenal di Indonesia dan mengandung pujian serta pengagungan kepada Allah SWT.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

Subhânakallâhumma wa bihamdika, wa tabârakasmuka, wa ta’âlâ jadduka, wa lâ ilâha ghairuk.

Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Mahaberkah nama-Mu, Mahatinggi keagungan-Mu, dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.

Bacaan ini disebut dalam sejumlah riwayat mengenai doa pembuka shalat, termasuk riwayat dalam Sunan Abu Dawud no. 776. Penilaian terhadap jalur-jalur riwayatnya memiliki pembahasan tersendiri di kalangan ahli hadis.

3. Doa Iftitah: Alhamdulillahi Hamdan Katsiran

Ada pula bacaan pembuka shalat yang berisi pujian kepada Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan diberkahi.

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

Alhamdulillâhi hamdan katsîran thayyiban mubârakan fîhi.

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan diberkahi.

Bacaan ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim. Dalam riwayat tersebut, seorang sahabat mengucapkan pujian ini ketika shalat. Setelah shalat selesai, Rasulullah ﷺ menanyakan siapa yang mengucapkannya karena beliau melihat keutamaannya.

Bacaan ini relatif pendek dan mudah dihafal. Namun, sebagaimana bacaan iftitah lainnya, pelajari lafaznya dengan baik dan jangan menganggapnya sebagai satu-satunya doa pembuka yang benar.

4. Doa Iftitah: Allahumma Ba’id Baini

Doa iftitah Allahumma ba’id baini berisi permohonan agar Allah menjauhkan seseorang dari dosa dan membersihkannya dari kesalahan. Redaksi ini diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Allâhumma bâ’id bainî wa baina khathâyâya kamâ bâ’adta bainal masyriqi wal-maghrib. Allâhumma naqqinî min khathâyâya kamâ yunaqqats-tsaubul abyadhu minad-danas. Allâhummaghsil khathâyâya bil-mâ’i wats-tsalji wal-barad.

Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan dosa-dosaku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah dosa-dosaku dengan air, salju, dan es.

Sumber: HR. al-Bukhari no. 744 dan Muslim no. 598, dengan kemungkinan perbedaan kecil pada redaksi atau penomoran antar-edisi.

Doa ini mengajarkan seorang muslim untuk memohon ampunan dan penyucian diri kepada Allah SWT sejak awal shalat.

5. Doa Iftitah Panjang: Wajjahtu Wajhiya

Doa iftitah Wajjahtu wajhiya merupakan bacaan yang lebih panjang. Di dalamnya terdapat pernyataan bahwa shalat, ibadah, kehidupan, dan kematian seorang hamba ditujukan kepada Allah SWT. Redaksi panjang berikut memuat permohonan ampunan dan petunjuk akhlak yang baik.

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wajjahtu wajhiya lilladzî fatharas-samâwâti wal-ardha hanîfan wa mâ ana minal-musyrikîn. Inna shalâtî wa nusukî wa mahyâya wa mamâtî lillâhi rabbil-‘âlamîn. Lâ syarîka lahu wa bidzâlika umirtu wa ana minal-muslimîn. Allâhumma antaL-maliku lâ ilâha illâ anta, anta rabbî wa ana ‘abduka, zhalamtu nafsî wa’taraftu bidzanbî, faghfir lî dzunûbî jamî’an, innahu lâ yaghfirudz-dzunûba illâ anta, wahdinî li-ahsanil-akhlâq, lâ yahdî li-ahsanihâ illâ anta, washrif ‘annî sayyi’ahâ, lâ yashrifu ‘annî sayyi’ahâ illâ anta, labbaika wa sa’daika, wal-khairu kulluhu fî yadaika, wasy-syarru laisa ilaika, ana bika wa ilaika, tabârakta wa ta’âlaita, astaghfiruka wa atûbu ilaik.

Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukan termasuk orang-orang yang mempersekutukan-Nya. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Sang Raja. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku sendiri dan mengakui dosaku. Maka ampunilah seluruh dosaku, karena tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau. Tunjukilah aku kepada akhlak yang terbaik, karena tidak ada yang dapat menunjukkan kepada akhlak terbaik selain Engkau. Jauhkanlah dariku akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku selain Engkau. Aku memenuhi panggilan-Mu dan senantiasa menaati-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu, sedangkan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu. Aku bergantung kepada-Mu dan kembali kepada-Mu. Mahaberkah dan Mahatinggi Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.

Sumber: HR. Muslim no. 771, dalam riwayat doa pembuka shalat malam dari Ali bin Abi Thalib r.a. Nomor hadis dapat berbeda menurut edisi.

Catatan penting: Bacaan ini merupakan redaksi panjang. Jangan mencampurkannya dengan potongan doa lain tanpa memastikan susunan dan sumber riwayatnya. Untuk memudahkan pembelajaran, Anda dapat menghafalnya secara bertahap.

6. Doa Iftitah Panjang Lainnya untuk Shalat Malam

Selain bacaan di atas, terdapat doa pembuka shalat malam yang diawali dengan pujian kepada Allah sebagai cahaya langit dan bumi. Doa ini dikenal melalui riwayat dari Ibnu Abbas r.a. dalam Sahih al-Bukhari.

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ

Allâhumma lakal-hamdu, anta nûrus-samâwâti wal-ardhi wa man fîhinna, wa lakal-hamdu, anta qayyimus-samâwâti wal-ardhi wa man fîhinna.

Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Engkau adalah cahaya langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji. Engkaulah yang mengurus dan menegakkan langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya.

Sumber: HR. al-Bukhari no. 6317, dalam doa Rasulullah ﷺ ketika melaksanakan shalat malam.

Bagian di atas merupakan kutipan awal dari doa yang lebih panjang, bukan keseluruhan redaksinya. Karena riwayat ini berkaitan dengan shalat malam, pembaca yang ingin mengamalkannya secara lengkap sebaiknya merujuk pada teks hadis utuh.

Kapan Doa Iftitah Dibaca?

Doa iftitah dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Surah Al-Fatihah. Secara umum, urutannya sebagai berikut:

  1. Berdiri tegak dan menghadap kiblat.
  2. Mengucapkan takbiratul ihram.
  3. Membaca satu doa iftitah yang dipilih.
  4. Membaca taawuz jika hendak membaca Al-Qur’an.
  5. Membaca Surah Al-Fatihah, kemudian melanjutkan bacaan shalat.

Doa iftitah umumnya dibaca dengan suara pelan. Jika seseorang datang terlambat dan khawatir tertinggal dari imam, ia mengikuti imam sesuai keadaan dan tidak memaksakan membaca doa iftitah.

Apakah Doa Iftitah Harus Dibaca dalam Setiap Shalat?

Tidak harus. Doa iftitah hukumnya sunnah, sehingga orang yang tidak membacanya tetap dapat melaksanakan shalat dengan sah. Membacanya merupakan amalan yang dianjurkan, tetapi jangan sampai membuat seseorang tertinggal dari gerakan imam.

Apakah Boleh Mengganti Doa Iftitah?

Boleh memilih redaksi doa iftitah yang berbeda pada shalat yang berbeda, selama bacaan tersebut memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Tidak ada kewajiban menggunakan satu redaksi yang sama pada setiap shalat.

Untuk memudahkan hafalan, mulailah dengan bacaan pendek. Setelah lancar, pelajari bacaan lain secara bertahap beserta arti dan sumbernya.

Bolehkah Membaca Dua Doa Iftitah Sekaligus?

Pada umumnya, seseorang cukup membaca satu redaksi doa iftitah dalam satu shalat. Tidak perlu menggabungkan beberapa doa yang berbeda menjadi satu rangkaian seolah-olah semuanya merupakan satu hadis yang sama.

Ada riwayat tertentu yang memuat susunan bacaan khusus, sehingga susunannya perlu mengikuti riwayat tersebut. Karena itu, lebih aman mempelajari setiap doa sebagai satu redaksi tersendiri.

Kesimpulan

Doa iftitah memiliki beberapa redaksi, mulai dari yang pendek hingga panjang. Di antaranya adalah Allahu akbaru kabira, Subhanaka Allahumma, Alhamdulillahi hamdan katsiran, Allahumma ba’id baini, dan Wajjahtu wajhiya.

Setiap bacaan memiliki kandungan makna dan sumber riwayat yang perlu dipahami. Mulailah dengan doa yang mudah dihafal, lalu pelajari bacaan lainnya secara bertahap. Yang terpenting, bacalah dengan benar, pahami maknanya, dan jangan menganggap satu redaksi sebagai satu-satunya doa iftitah yang boleh digunakan.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Baca juga