QS. Asy-Syu'ara' Ayat 77

Para Penyair · Surat ke-26 · 227 ayat

77

فَاِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّيْٓ اِلَّا رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ

Fa innahum ‘aduwwul lī illā rabbal-‘ālamīn(a).

Sesungguhnya mereka itu adalah musuhku, lain halnya Tuhan pemelihara semesta alam.

Tafsir QS. Asy-Syu'ara' Ayat 77

Kemudian Nabi Ibrahim menegaskan pendiriannya. Pendirian seorang rasul Tuhan yang membawa risalah untuk menyebarkan paham tauhid (monoteisme) di kalangan kaumnya. Beliau memproklamasikan diri sebagai musuh utama dari tuhan-tuhan mereka. Menurutnya, yang berhak disembah hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan alam semesta. Kepada-Nyalah manusia harus mengabdikan diri. Keyakinan tauhid itu didasarkan pada beberapa alasan yang masuk akal.

Misi yang dibawa Nabi Ibrahim, juga pernah dibawa oleh nabi sebelumnya yakni Nuh. Semua para nabi dan rasul membawa tugas pokok seperti itu. Mereka di samping mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah, juga dengan terang-terangan memusuhi setiap bentuk penyembahan yang pada prinsipnya mempersekutukan Allah. Nabi Nuh juga menentang kaumnya yang bermaksud mencelakakannya akibat seruannya untuk beriman, sebagaimana yang dilukiskan dalam firman Allah:

Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan kumpulkanlah sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku), dan janganlah keputusanmu itu dirahasiakan. Kemudian bertindaklah terhadap diriku, dan janganlah kamu tunda lagi. (Yunus/10: 71)

Demikian juga firman Allah menerangkan ucapan Nabi Hud a.s.:

Dia (Hud) menjawab, "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (Ha¼d/11: 54)

Tentang Surat Asy-Syu'ara'

Surat ini terdiri dari 227 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Dinamakan Asy Syu'araa' (kata jamak dari Asy Syaa'ir yang berarti penyair) diambil dari kata Asy Syuaraa' yang terdapat pada ayat 224, yaitu pada bagian terakhir surat ini, di kala Allah s.w.t. secara khusus menyebutkan kedudukan penyair- penyair. Para penyair-penyair itu mempunyai sifat-sifat yang jauh berbeda dengan para rasul-rasul; mereka diikuti oleh orang-orang yang sesat dan mereka suka memutar balikkan lidah dan mereka tidak mempunyai pendirian, perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ucapkan. Sifat-sifat yang demikian tidaklah sekali-kali terdapat pada rasul-rasul. Oleh karena demikian tidak patut bila Nabi Muhammad s.a.w. dituduh sebagai penyair, dan Al Quran dituduh sebagai syair, Al Quran adalah wahyu Allah, bukan buatan manusia.