Sholat witir adalah sholat sunnah dengan jumlah rakaat ganjil yang dikerjakan pada malam hari, setelah sholat Isya hingga sebelum terbit fajar. Rasulullah ﷺ rutin mengerjakannya, bahkan saat bepergian, dan menganjurkan umatnya untuk menjadikannya penutup ibadah malam. Artikel ini membahas pengertian, dalil, waktu, tata cara, dan tiga keutamaan sholat witir, disertai dalil dari Al-Qur’an dan hadits.
Pengertian dan Hukum Sholat Witir
Kata witir berarti ganjil. Sholat ini disebut demikian karena jumlah rakaatnya ganjil, dan ia menutup rangkaian sholat malam sehingga bilangan sholat malam seseorang menjadi ganjil.
Mayoritas ulama (jumhur) berpendapat hukum sholat witir adalah sunnah mu’akkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Mazhab Hanafi berpendapat hukumnya wajib, tetapi tidak sampai pada tingkat fardhu. Dalil yang menjadi dasar pendapat jumhur adalah hadits dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:
الْوِتْرُ لَيْسَ بِحَتْمٍ كَهَيْئَةِ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ، وَلَكِنَّهُ سُنَّةٌ سَنَّهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
“Witir itu tidak harus seperti sholat fardhu, tetapi ia adalah sunnah yang dicontohkan Rasulullah ﷺ.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i; dinilai hasan oleh At-Tirmidzi; terjemahan bebas)
Dalil Anjuran Sholat Witir
Ada banyak hadits yang menganjurkan sholat witir. Di antaranya sabda Rasulullah ﷺ yang menjelaskan kaitan witir dengan sifat Allah:
إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ فَأَوْتِرُوا يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ
“Sesungguhnya Allah itu Witir (Esa) dan menyukai yang witir (ganjil), maka berwitirlah wahai ahli Al-Qur’an.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i; terjemahan bebas)
Rasulullah ﷺ juga memerintahkan agar witir dijadikan penutup sholat malam:
اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا
“Jadikanlah witir sebagai penutup sholat malam kalian.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma; terjemahan bebas)
Waktu Pelaksanaan
Waktu sholat witir dimulai setelah sholat Isya dan berakhir menjelang terbit fajar (masuk waktu Subuh). Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah berwitir pada awal, pertengahan, maupun akhir malam, dan akhirnya witir beliau sampai waktu sahur (HR. Bukhari no. 996 dan Muslim no. 745).
Waktu terbaik bergantung pada kesanggupan seseorang untuk bangun malam:
مَنْ خَافَ أَنْ لَا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ، وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ، فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ، وَذَلِكَ أَفْضَلُ
“Siapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah berwitir di awal malam. Siapa yang berharap bisa bangun di akhir malam, hendaklah berwitir di akhir malam, karena sholat di akhir malam disaksikan (oleh malaikat), dan itu lebih utama.” (HR. Muslim no. 755, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu; terjemahan bebas)
Jadi, jika yakin bisa bangun, sebaiknya witir dikerjakan di sepertiga malam terakhir. Jika tidak, tidak mengapa berwitir setelah Isya atau setelah tarawih. Orang yang tertidur atau lupa mengerjakan witir dianjurkan menggantinya saat teringat atau terbangun, selama belum terlalu lama (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Jumlah Rakaat dan Tata Cara
Jumlah rakaat witir minimal satu dan selalu ganjil. Pilihan yang umum dikenal:
| Jumlah rakaat | Cara pelaksanaan |
|---|---|
| 1 rakaat | Satu rakaat dengan satu salam |
| 3 rakaat | Dua rakaat salam, lalu satu rakaat salam (lebih utama menurut banyak ulama), atau tiga rakaat bersambung |
| 5, 7, atau 9 rakaat | Dikerjakan dengan salam di setiap dua rakaat dan ditutup satu rakaat, atau sekaligus dengan tasyahud di rakaat terakhir menurut tata cara yang diriwayatkan |
| 11 rakaat | Dua rakaat salam sebanyak lima kali, lalu satu rakaat salam |
Perbedaan ini termasuk keluasan dalam sunnah. Di Indonesia, yang paling lazim adalah witir tiga rakaat setelah tarawih dengan pola dua rakaat lalu satu rakaat.
Niat. Niat tempatnya di hati. Contoh: “Saya niat sholat sunnah witir dua rakaat (atau satu rakaat) karena Allah Ta’ala.” Pengucapan lafaz niat tidak menjadi syarat sahnya sholat.
Bacaan surah. Berdasarkan hadits Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ biasa membaca Surah Al-A’la pada rakaat pertama, Al-Kafirun pada rakaat kedua, dan Al-Ikhlas pada rakaat ketiga (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).
Doa qunut. Sebagian ulama, termasuk dalam mazhab Syafi’i, menganjurkan qunut pada rakaat terakhir witir di paruh kedua Ramadan. Ulama lain membolehkannya sepanjang tahun atau tidak mengerjakannya sama sekali. Ini wilayah perbedaan pendapat yang dapat disikapi dengan saling menghormati.
Dzikir setelah salam. Dianjurkan membaca Subhanal malikil quddus sebanyak tiga kali, dengan memanjangkan suara pada bacaan yang ketiga (HR. An-Nasa’i dan Abu Dawud), lalu dilanjutkan berdoa.
Tiga Keutamaan Sholat Witir
1. Mendekatkan Diri kepada Allah dan Menguatkan Iman
Sholat witir, terutama jika dikerjakan di akhir malam, melatih seseorang untuk berkomunikasi dengan Allah di saat suasana paling tenang. Al-Qur’an memuji orang-orang yang menghidupkan malam:
كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ ﴿١٧﴾ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ ﴿١٨﴾
“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada waktu sahur mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 17-18; terjemahan bebas)
Sholat di akhir malam juga disaksikan oleh para malaikat, sebagaimana hadits Jabir di atas. Kebiasaan ini membangun kedisiplinan dan menambah rasa dekat dengan Allah, yang pada gilirannya membantu seseorang menjaga diri dari perbuatan dosa dalam kehidupan sehari-hari. Pahala sholat malam juga besar karena dikerjakan ketika kebanyakan orang sedang beristirahat.
2. Waktu yang Mustajab untuk Berdoa
Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang istimewa untuk berdoa, dan witir biasanya dikerjakan pada waktu tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
“Tuhan kita Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan; siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri; siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; terjemahan bebas)
Ulama Ahlus Sunnah memahami turunnya Allah dalam hadits ini sebagai turun yang sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa membahas bagaimana caranya. Hadits ini berlaku setiap malam, bukan hanya di bulan Ramadan.
Sujud juga merupakan posisi yang dianjurkan untuk memperbanyak doa:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
“Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia bersujud, maka perbanyaklah doa (ketika sujud).” (HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; terjemahan bebas)
Perlu dipahami bahwa kita dianjurkan berdoa dengan sungguh-sungguh dan yakin, tetapi pengabulan doa sepenuhnya hak Allah. Doa dapat dikabulkan dengan memberikan apa yang diminta, menggantinya dengan kebaikan lain, atau menundanya hingga akhirat.
3. Jalan Memperoleh Ampunan Dosa
Sepertiga malam terakhir adalah waktu istighfar yang utama, sebagaimana tampak dalam QS. Adz-Dzariyat [51]: 18 dan hadits turunnya Allah di atas. Seseorang yang menutup malamnya dengan sholat witir, bermunajat, lalu bertaubat dengan sungguh-sungguh berada dalam kondisi terbaik untuk memohon ampun.
Pada bulan Ramadan, ada keutamaan tambahan bagi yang menghidupkan malamnya, termasuk tarawih dan witir bersama imam:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Siapa yang menegakkan sholat malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; terjemahan bebas)
Pengampunan dosa ini dijanjikan bagi yang menghidupkan malam Ramadan secara keseluruhan dengan iman dan ikhlas, dan witir menjadi bagian dari rangkaian ibadah tersebut. Taubat yang sungguh-sungguh mencakup penyesalan, meninggalkan dosa, bertekad tidak mengulanginya, dan mengembalikan hak orang lain jika ada. Bila dosa berkaitan dengan hak sesama manusia, maka perlu diselesaikan dengan yang bersangkutan.
Tips Menjaga Konsistensi Sholat Witir
- Niatkan sebelum tidur untuk bangun malam, dan tidurlah lebih awal.
- Jika khawatir tidak bangun, kerjakan witir setelah Isya agar tidak terlewat.
- Mulai dari tiga rakaat yang ringan, lalu tingkatkan secara bertahap.
- Siapkan daftar doa agar sujud dan munajat terasa lebih khusyuk.
- Ajak keluarga agar saling mengingatkan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Bolehkah witir dua kali dalam satu malam? Rasulullah ﷺ melarang berwitir dua kali dalam satu malam. Jika sudah berwitir sebelum tidur lalu bangun untuk sholat malam, sholat tahajud tetap boleh dikerjakan dengan jumlah rakaat genap tanpa mengulang witir. Sebagian ulama membolehkan juga pendapat lain, sehingga sebaiknya mengikuti pendapat ulama yang dipegang di tempat Anda.
Bolehkah witir setelah tarawih? Boleh, bahkan itulah yang lazim dilakukan pada bulan Ramadan. Hadits menyebutkan bahwa orang yang sholat bersama imam hingga selesai dicatat seperti menghidupkan sepanjang malam (HR. At-Tirmidzi dan lainnya).
Bolehkah witir dikerjakan sambil duduk atau di atas kendaraan? Karena statusnya sunnah, sholat witir boleh dikerjakan di atas kendaraan saat bepergian menurut hadits yang menceritakan kebiasaan Rasulullah ﷺ, dan orang yang berhalangan berdiri dapat mengerjakannya sambil duduk.
Apakah witir dikerjakan hanya di bulan Ramadan? Tidak. Witir dianjurkan sepanjang tahun, dan Ramadan hanya menambah keutamaannya.
Penutup
Sholat witir adalah penutup malam yang indah. Ia menghubungkan seorang hamba dengan Tuhannya di waktu yang tenang, membuka pintu doa dan istighfar, serta melatih kedisiplinan dalam beribadah. Meskipun hukumnya sunnah, Rasulullah ﷺ nyaris tidak pernah meninggalkannya, sehingga alasan terbaik untuk menjaganya adalah meneladani beliau. Semoga Allah memudahkan kita untuk istiqamah menutup malam-malam kita dengan witir.
Catatan: terjemahan ayat dan hadits di atas adalah terjemahan bebas. Untuk rujukan, gunakan Al-Qur’an dan Terjemahnya (Kementerian Agama RI) dan kitab hadits yang disebutkan. Untuk persoalan fikih yang rinci, silakan bertanya kepada ustadz atau ulama yang terpercaya.









