QS. Maryam Ayat 49

Maryam · Surat ke-19 · 98 ayat

49

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۙوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَۗ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا

Falamma‘tazalahum wa mā ya‘budūna min dūnillāh(i), wahabnā lahū isḥāqa wa ya‘qūb(a), wa kullan ja‘alnā nabiyyā(n).

Maka, ketika dia (Ibrahim) sudah menjauh dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya (seorang anak) Ishaq dan (seorang cucu) Ya‘qub. Masing-masing Kami angkat menjadi nabi.

Tafsir QS. Maryam Ayat 49

Setelah Nabi Ibrahim a.s. meninggalkan negerinya Ur Kildan (Irak) dan menetap di negeri Syam, dikaruniai Tuhan kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Allah mengaruniakan kepadanya anak-anak dan cucu-cucu yang sebahagian dari mereka diangkat Allah menjadi nabi di kalangan Bani Israil. Allah mengaruniakan kepadanya Ishak, dan Ishak ini pun mendapat anak bernama Yakub yang menggantikan kedudukannya sebagai Nabi. Adapun anak pertamanya Ismail yang ditinggalkannya di sekitar Ka'bah diangkat pula menjadi Nabi yang telah meninggikan dan menyemarakkan syiar agama di sana.

Demikianlah balasan Tuhan kepada Nabi Ibrahim yang bersedia meninggalkan bapaknya, kaumnya dan tanah airnya demi untuk keselamatan akidahnya dan menyebarkan agama tauhid yang diperintahkan Allah kepadanya. Allah tidak mengabaikan dan tidak menyia-nyiakan bahkan mengganti kesedihan meninggalkan keluarga dan tanah airnya dengan kebahagiaan keluarga dan bertanah air yang baru dan menerima ajaran dan petunjuknya serta memberikan kepadanya anak cucu yang baik-baik yang sebahagiannya menjadi penegak agama Allah bahkan banyak pula yang menjadi nabi.

Tentang Surat Maryam

Surat Maryam terdiri atas 98 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayatnya diturunkan sebelum Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Madinah, bahkan sebelum sahabat-sahabat beliau hijrah ke negeri Habsyi. Menurut riwayat Ibnu Mas'ud, Ja'far bin Abi Thalib membacakan permulaan surat Maryam ini kepada raja Najasyi dan pengikut-pengikutnya di waktu ia ikut hijrah bersama-sama sahabat-sahabat yang lain ke negeri Habsyi.Surat ini dinamai Maryam, karena surat ini mengandung kisah Maryam, ibu Nabi Isa a.s. yang serba ajaib, yaitu melahirkan puteranya Isa a.s., sedang ia sebelumnya belum pernah dikawini atau dicampuri oleh seorang laki-laki pun. Kelahiran Isa a.s. tanpa bapa, merupakan suatu bukti kekuasaan Allah s.w.t. Pengutaraan kisah Maryam sebagai kejadian yang luar biasa dan ajaib dalam surat ini, diawali dengan kisah kejadian yang luar biasa dan ajaib pula, yaitu dikabulkannya doa Zakaria a.s. oleh Allah s.w.t., agar beliau dianugerahi seorang putera sebagai pewaris dan pelanjut cita-cita dan kepercayaan beliau, sedang usia beliau sudah sangat tua dan isteri beliau seorang yang mandul yang menurut ukuran ilmu biologi tidak mungkin akan terjadi.