QS. Az-Zukhruf Ayat 8

Perhiasan · Surat ke-43 · 89 ayat

8

فَاَهْلَكْنَآ اَشَدَّ مِنْهُمْ بَطْشًا وَّمَضٰى مَثَلُ الْاَوَّلِيْنَ

Fa ahlaknā asyadda minhum baṭsyaw wa maḍā maṡalul-awwalīn(a).

Oleh karena itu, Kami membinasakan orang-orang yang lebih kuat dari mereka (kaum musyrik Quraisy) dan telah berlalu contoh (kehancuran) umat-umat terdahulu.

Tafsir QS. Az-Zukhruf Ayat 8

Allah menerangkan bahwa Dia menghancurkan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul dan mereka tak dapat mengelak dan menghindar apabila bencana itu datang, padahal mereka jauh lebih kuat dan perkasa dibandingkan dengan kaum Nabi Muhammad saw. Yang demikian itu hendaknya menjadi perhatian umat Muhammad. Firman Allah:

Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi, lalu mereka memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu lebih banyak dan lebih hebat kekuatannya serta (lebih banyak) peninggalan-peninggalan peradabannya di bumi. (Gafir/40: 82)

Ayat ini ditutup dengan satu peringatan kepada umat Muhammad bahwa ketentuan Allah yang berlaku pada umat yang mendustakan rasul, kiranya menjadi pelajaran bagi mereka karena tidak mustahil mereka itu juga akan ditimpa bencana sebagaimana halnya umat yang terdahulu itu. Firman Allah:

Maka Kami jadikan mereka sebagai (kaum) terdahulu dan pelajaran bagi orang-orang yang kemudian. (az-Zukhruf/43: 56)

Allah juga berfirman:

Itulah (ketentuan) Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. (Gafir/40: 85)

Tentang Surat Az-Zukhruf

Surat Az Zukhruf terdiri atas 89 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Asy Syuura. Dinamai Az Zukhruf (Perhiasan) diambil dari perkataan Az Zukhruf yang terdapat pada ayat 35 surat ini. Orang-orang musyrik mengukur tinggi rendahnya derajat seseorang tergantung kepada perhiasan dan harta benda yang ia punyai, karena Muhammad s.a.w. adalah seorang anak yatim lagi miskin, ia tidak pantas diangkat Allah sebagai seorang rasul dan nabi. Pangkat rasul dan nabi harus diberikan kepada orang yang kaya. Ayat ini menegaskan bahwa harta tidak dapat dijadikan dasar untuk mengukur tinggi rendahnya derajat seseorang, karena harta itu merupakan hiasan kehidupan duniawi, bukan berarti kesenangan akhirat.