QS. Az-Zukhruf Ayat 66

Perhiasan · Surat ke-43 · 89 ayat

66

هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّا السَّاعَةَ اَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ

Hal yanẓurūna illas-sā‘ata an ta'tiyahum bagtataw wa hum lā yasy‘urūn(a).

Tidaklah mereka (orang-orang kafir) menunggu, kecuali hari Kiamat yang datang kepada mereka secara tiba-tiba, sedangkan mereka tidak menyadari(-nya).

Tafsir QS. Az-Zukhruf Ayat 66

Ayat ini membantah kaum musyrikin Mekah yang salah memahami Surah al-Anbiya'/21: 98, bahwa orang yang menyembah selain Allah akan bersama sembahannya itu nanti masuk neraka. Nabi Isa disembah, karena itu, menurut mereka, juga akan masuk neraka bersama mereka yang menyembahnya. Allah telah membantahnya dengan menjelaskan tentang Nabi Isa secara panjang lebar dalam ayat-ayat di atas. Nabi Isa memang disembah, tetapi yang menyembahnya adalah mereka yang sesat. Oleh karena itu Nabi Isa tidak akan masuk neraka. Yang akan masuk neraka adalah mereka yang sesat. Begitu juga orang-orang sesat yang menyembah berhala-berhala, yaitu kaum musyrikin Mekah. Mereka bersama sembahan-sembahan mereka itu yang akan masuk neraka.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa bila kaum musyrikin Mekah itu tetap tidak mau menerima penjelasan yang begitu gamblang, Allah bertanya apakah mereka tidak akan menyesal. Sebab kiamat pasti datang, dan bila datang ia akan terjadi secara tiba-tiba di saat mereka terlena oleh kenikmatan duniawi. Sebelum terlambat, di sini Allah meminta mereka agar beriman kepada Nabi Muhammad dan agama yang didakwahkannya.

Tentang Surat Az-Zukhruf

Surat Az Zukhruf terdiri atas 89 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Asy Syuura. Dinamai Az Zukhruf (Perhiasan) diambil dari perkataan Az Zukhruf yang terdapat pada ayat 35 surat ini. Orang-orang musyrik mengukur tinggi rendahnya derajat seseorang tergantung kepada perhiasan dan harta benda yang ia punyai, karena Muhammad s.a.w. adalah seorang anak yatim lagi miskin, ia tidak pantas diangkat Allah sebagai seorang rasul dan nabi. Pangkat rasul dan nabi harus diberikan kepada orang yang kaya. Ayat ini menegaskan bahwa harta tidak dapat dijadikan dasar untuk mengukur tinggi rendahnya derajat seseorang, karena harta itu merupakan hiasan kehidupan duniawi, bukan berarti kesenangan akhirat.