QS. Asy-Syu'ara' Ayat 197

Para Penyair · Surat ke-26 · 227 ayat

197

اَوَلَمْ يَكُنْ لَّهُمْ اٰيَةً اَنْ يَّعْلَمَهٗ عُلَمٰۤؤُا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ

Awalam yakul lahum āyatan ay ya‘lamahū ‘ulamā'u banī isrā'īl(a).

Apakah tidak (cukup) menjadi bukti bagi mereka bahwa ia (Al-Qur’an) diketahui oleh para ulama Bani Israil?

Tafsir QS. Asy-Syu'ara' Ayat 197

Ayat ini menerangkan bahwa di samping diberitakan dalam Taurat dan Injil, kedatangan dan kenabian Muhammad saw itu juga ditegaskan oleh ulama-ulama Yahudi yang hidup di Madinah pada waktu itu. Mereka mengatakan bahwa sebenarnya terdapat di dalam Taurat dan Injil isyarat-isyarat atau keterangan-keterangan tentang Nabi Muhammad. Oleh karena itu, banyak orang-orang musyrik Mekah yang pergi ke Medinah menemui ulama-ulama Yahudi untuk menanyakan berita-berita tentang Nabi Muhammad.

Ats-sa'labi menerangkan dari Ibnu 'Abbas bahwa orang-orang musyrik Mekah pernah mengutus utusan ke Madinah menemui pendeta-pendeta Yahudi untuk meminta keterangan tentang Muhammad. Mereka menjawab, "Ini masa kedatangannya", dan mereka menyebutkan sifat-sifatnya.

Tentang Surat Asy-Syu'ara'

Surat ini terdiri dari 227 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Dinamakan Asy Syu'araa' (kata jamak dari Asy Syaa'ir yang berarti penyair) diambil dari kata Asy Syuaraa' yang terdapat pada ayat 224, yaitu pada bagian terakhir surat ini, di kala Allah s.w.t. secara khusus menyebutkan kedudukan penyair- penyair. Para penyair-penyair itu mempunyai sifat-sifat yang jauh berbeda dengan para rasul-rasul; mereka diikuti oleh orang-orang yang sesat dan mereka suka memutar balikkan lidah dan mereka tidak mempunyai pendirian, perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ucapkan. Sifat-sifat yang demikian tidaklah sekali-kali terdapat pada rasul-rasul. Oleh karena demikian tidak patut bila Nabi Muhammad s.a.w. dituduh sebagai penyair, dan Al Quran dituduh sebagai syair, Al Quran adalah wahyu Allah, bukan buatan manusia.