Faftaḥ bainī wa bainahum fatḥaw wa najjinī wa mam ma‘iya minal-mu'minīn(a).
Maka, berilah keputusan antara aku dan mereka serta selamatkanlah aku dan orang-orang mukmin bersamaku.”
Tafsir QS. Asy-Syu'ara' Ayat 118
Selanjutnya Nabi Nuh berdoa agar Allah memberikan keputusan yang adil mengenai permasalahan yang terjadi antara dirinya dan kaumnya. Ia telah mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya untuk membawa mereka ke jalan yang benar, tetapi sambutan mereka justru berupa ancaman untuk mencederainya. Nabi Nuh yakin ancaman itu tidak main-main. Oleh karena itu, Nabi Nuh betul-betul berdoa agar ia dan kaum mukminin pengikutnya diselamatkan Allah dari ancaman tersebut.
Tentang Surat Asy-Syu'ara'
Surat ini terdiri dari 227 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Dinamakan Asy Syu'araa' (kata jamak dari Asy Syaa'ir yang berarti penyair) diambil dari kata Asy Syuaraa' yang terdapat pada ayat 224, yaitu pada bagian terakhir surat ini, di kala Allah s.w.t. secara khusus menyebutkan kedudukan penyair- penyair. Para penyair-penyair itu mempunyai sifat-sifat yang jauh berbeda dengan para rasul-rasul; mereka diikuti oleh orang-orang yang sesat dan mereka suka memutar balikkan lidah dan mereka tidak mempunyai pendirian, perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ucapkan. Sifat-sifat yang demikian tidaklah sekali-kali terdapat pada rasul-rasul. Oleh karena demikian tidak patut bila Nabi Muhammad s.a.w. dituduh sebagai penyair, dan Al Quran dituduh sebagai syair, Al Quran adalah wahyu Allah, bukan buatan manusia.