QS. An-Nahl Ayat 33

Lebah · Surat ke-16 · 128 ayat

33

هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّآ اَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَوْ يَأْتِيَ اَمْرُ رَبِّكَ ۗ كَذٰلِكَ فَعَلَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗوَمَا ظَلَمَهُمُ اللّٰهُ وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

Hal yanẓurūna illā an ta'tiyahumul-malā'ikatu au ya'tiya amru rabbik(a), każālika fa‘alal-lażīna min qablihim, wa mā ẓalamahumullāhu wa lākin kānū anfusahum yaẓlimūn(a).

Adakah yang mereka (orang kafir) tunggu selain kedatangan para malaikat kepadanya atau perintah Tuhanmu? Demikianlah orang-orang (kafir) sebelumnya berbuat. Allah tidak menzalimi mereka, justru merekalah yang (selalu) menzalimi diri mereka sendiri.

Tafsir QS. An-Nahl Ayat 33

Allah swt menjelaskan bahwa tidak ada gunanya memberikan kesempatan kepada orang-orang musyrik Mekah untuk mengubah sikap mereka. Mereka tetap akan berpendirian demikian, sehingga tiba saatnya malaikat merenggut nyawa mereka, atau datang perintah Tuhan untuk menurunkan azab kepada mereka di dunia seperti dialami orang-orang kafir sebelum mereka.

Di antara orang-orang musyrik yang tidak menaati nabi dan rasul ada yang dibinasakan oleh suara petir, dihancurkan oleh gempa bumi, dan ada pula yang diluluhlantakkan oleh banjir besar dan angin topan tanpa mereka duga kedatangannya. Ayat ini merupakan ancaman keras kepada mereka dengan maksud agar mereka beriman kepada Allah dan rasul-Nya serta segera meninggalkan kebatilan dan kembali kepada kebenaran sebelum datang malapetaka seperti yang pernah menimpa orang-orang sebelum mereka.

Kemudian Allah swt menjelaskan bahwa nenek moyang mereka yang mempunyai sifat dan perilaku yang sama dengan mereka telah mengalami kehancuran lebih dulu karena azab Allah akibat tidak mau mendengarkan seruan para rasul dan nabi Allah yang membimbing mereka kepada ke-benaran. Mereka yang tetap bergelimang dalam kebatilan telah dimusnahkan oleh Allah dengan siksaan yang berat. Hal ini bukan berarti Allah telah menganiaya mereka, akan tetapi mereka sendiri yang menganiaya diri sendiri. Allah telah cukup memberikan bimbingan wahyu dan bukti-bukti yang jelas tentang kebenaran wahyu itu. Akan tetapi, mereka tetap saja membangkang dan mendustakan kebenaran dan mengotori jiwa mereka dengan menciptakan patung-patung sebagai tuhan-tuhan yang dipersekutu-kan kepada Allah.

Tentang Surat An-Nahl

Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Surat ini dinamakan An Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah s.w.t. ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah." Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia. Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim. Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69). Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. (Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al Isra' ayat 82). Surat ini dinamakan pula "An Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.