وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الطُّوْرِ اِذْ نَادَيْنَا وَلٰكِنْ رَّحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَّآ اَتٰىهُمْ مِّنْ نَّذِيْرٍ مِّنْ قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ
Wa mā kunta bijānibiṭ-ṭūri iż nādainā wa lākir raḥmatam mir rabbika litunżira qaumam mā atāhum min nażīrim min qablika la‘allahum yatażakkarūn(a).
Engkau (Nabi Muhammad) tidak pula berada di dekat gunung (Sinai) ketika Kami memanggil (Musa). Akan tetapi, (engkau mengetahuinya) semata-mata karena rahmat dari Tuhanmu agar engkau memberi peringatan kepada kaum yang belum didatangi oleh seorang pun pemberi peringatan sebelum engkau agar mereka mendapat pelajaran.
Tafsir QS. Al-Qasas Ayat 46
Ayat ini menerangkan bahwa Nabi Muhammad tidak berada di dekat Gunung Tur pada waktu Allah menyeru Nabi Musa dan ketika terjadi munajat antara keduanya. Peristiwa itu diketahui oleh Muhammad dengan perantaraan kitab suci Al-Qur'an yang diwahyukan kepadanya sebagai rahmat Allah yang di dalamnya dibentangkan kisah tersebut. Juga terdapat hal-hal yang mendatangkan maslahat dan kebahagiaan bagi mereka di dunia dan di akhirat, agar Muhammad memberi peringatan kepada kaum Quraisy yang belum pernah memperoleh peringatan sebelumnya. Selain ayat ini sebagai dalil yang jelas atas kerasulan Muhammad saw, juga sebagai dalil atas kemukjizatan Al-Qur'an, karena ia menceritakan peristiwa yang telah terjadi beratus-ratus tahun. Padahal Rasulullah tidak menyaksikan peristiwa tersebut apalagi hadir di tengah-tengah mereka.

