QS. Al-Isra' Ayat 99

Memperjalankan Malam Hari · Surat ke-17 · 111 ayat

99

۞ اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ قَادِرٌ عَلٰٓى اَنْ يَّخْلُقَ مِثْلَهُمْ وَجَعَلَ لَهُمْ اَجَلًا لَّا رَيْبَ فِيْهِۗ فَاَبَى الظّٰلِمُوْنَ اِلَّا كُفُوْرًا

Awalam yarau annallāhal-lażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa qādirun ‘alā ay yakhluqa miṡlahum wa ja‘ala lahum ajalal lā raiba fīh(i), fa abaẓ-ẓālimūna illā kufūrā(n).

Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah Maha Kuasa menciptakan yang serupa dengan mereka dan Maha Kuasa menetapkan ajal (kematian dan kebangkitan) bagi mereka yang tidak diragukan lagi? Maka, orang-orang zalim itu tidak menginginkan kecuali kekufuran.

Tafsir QS. Al-Isra' Ayat 99

Allah swt membantah pendapat orang-orang yang tidak mem-percayai adanya hari kebangkitan dengan mengatakan bahwa apakah mereka tidak melihat dan memperhatikan bagaimana Allah telah menciptakan mereka dari tidak ada menjadi ada, begitu juga langit dan semua isinya, dan bumi dengan segala benda dan makhluk yang ada di dalamnya, termasuk manusia sendiri. Apakah mereka tidak memperhatikan segala kejadian yang ada di langit dan di bumi? Semuanya diciptakan dari tiada menjadi ada. Jika Allah swt sanggup menciptakan semuanya untuk kali yang pertama, tentu sanggup pula menciptakannya untuk kali yang kedua karena merancang ulang biasanya lebih mudah dibandingkan dengan menciptakan pertama kali. Allah telah menciptakan bagi manusia jangka waktu yang tidak ada keraguan padanya, menetapkan masa hidup mereka di dunia dan dalam kubur, dan masa mereka dibangkitkan kembali. Hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui penentuan masa-masa itu.

Meskipun bukti-bukti tentang hari kebangkitan, kebesaran, dan kekuasaan Allah telah dikemukakan dan dijelaskan kepada orang-orang kafir yang zalim itu, mereka tetap ingkar dan tidak percaya kepada bukti-bukti tersebut.

Tentang Surat Al-Isra'

Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Dinamakan dengan Al Israa' yang berarti memperjalankan di malam hari, berhubung peristiwa Israa' Nabi Muhammad s.a.w. di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini. Penuturan cerita Israa' pada permulaan surat ini, mengandung isyarat bahwa Nabi Muhammad s.a.w. beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar. Surat ini dinamakan pula dengan Bani Israil artinya keturunan Israil berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani Israil yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah s.w.t. Dihubungkannya kisah Israa' dengan riwayat Bani Israil pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israil, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.