in

Sebab Kemunduran Turki Utsmani. Tonggak sejarah yang terlihat adalah… | by Wiji Al Jawi


Tulisan ini menggunakan pendekatan struktur masalah, bahwa suatu kumpulan masalah sejatinya lebih banyak menampilkan gejala (akibat masalah) dan masalah ikutan. Sedangkan pemecahan masalah harus bermula dari penanganan masalah utama dan akar masalah (sebab masalah).

Kemunduran Turki Utsmani (1299–1924 M) melalui proses yang panjang dan tidak linier, melainkan kurva pasang surut. Tonggak sejarah yang terlihat adalah kekalahan Pertempuran Vienna 1683 sebagai batas ekspansi Turki Utsmani di daratan Eropa.

Kekalahan-kekalahan militer adalah masalah ikutan. Sedangkan gejala (akibat masalah) dari kemunduran Turki Utsmani antara lain adalah munculnya faksionalisme politik, pemberontakan, dan menurunnya penerimaan keuangan negara.

Masalah utama dari kemunduran Turki Utsmani adalah menurunnya inovasi (penemuan baru) dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi dan kemampuan militer.

Menurunnya Inovasi

Pada abad ke-14 M, Turki Utsmani merupakan negara terdepan dalam inovasi teknologi militer. Turki Utsmani mendahului negara-negara Eropa dan Timur Tengah dalam pembentukan pasukan yang menggunakan senjata api, meriam dan senapan.

Namun memasuki abad ke-16, negara-negara Eropa mulai memimpin dalam inovasi teknologi militer. Selongsong peluru (berisi peluru dan bubuk mesiu) mulai digunakan di semenanjung Skandinavia, sehingga pengisian peluru pada senapan menjadi lebih cepat.

Pada masa tersebut, senapan Turki Utsmani adalah musket (senapan lontak). Musket memiliki tingkat ketepatan yang rendah dan lama untuk mengisi peluru. Setiap sekali tembakan, musket harus diisi ulang dengan memasukkan bubuk mesiu dan peluru (bola timah) melalui lubang depan laras senapan.

Negara-negara Eropa pun mulai mengembangkan kapal-kapal besar, seperti kapal jenis Carrack dan Galleon. Kapal-kapal tersebut kokoh untuk berlayar di samudra, serta mampu membawa banyak senjata dan perbekalan.

Sementara kapal Turki Utsmani masih berjenis Galley. Galley adalah kapal dengan jarak antara permukaan air dan geladak tidak terlalu tinggi. Galley umumnya menggunakan dayung dan juga dilengkapi dengan layar.

Turki Utsmani berusaha menghadang Portugis yang berhasil menembus Samudra Hindia pada abad ke-16. Namun ukuran Carrack Portugis yang besar dan tinggi, serta dilengkapi lebih banyak meriam membuatnya dengan mudah mengalahkan Galley Turki Utsmani yang kecil dan pendek.

Sebab Kebangkitan Eropa

Pada abad ke-13, Roger Bacon mulai memperkenalkan metode ilmiah, yaitu cara memperoleh pengetahuan melalui pengamatan dan pengujian yang sistematis, setelah mempelajari karya-karya Ibnul Haytham (965–1040 M).

Secara perlahan tapi pasti, pemikiran ilmiah membuat Eropa meninggalkan takhayul (sesuatu yang hanya berdasarkan khayalan). Akhir abad ke-15, Portugis dan Spanyol memulai Era Penjelajahan Samudra, meninggalkan Takhayul Bumi Datar.

Penjelajahan Samudra membuat negara-negara Eropa mencapai Asia tanpa harus melewati Turki Utsmani. Mereka juga berhasil menemukan sumber emas di benua Amerika. Kekayaan negara-negara Eropa bertambah sedangkan pemasukan keuangan Turki Utsmani berkurang.

Eropa akhirnya mengalami Revolusi Ilmu Pengetahuan pada abad ke-16. Tahun 1543, Nicolaus Copernicus menerbitkan karyanya yang membantah teori geosentris. Tahun 1687, Isaac Newton menerbitkan karyanya yang membahas teori gravitasi.

Abad ke-17, Francis Bacon dan John Locke mempopulerkan empirisme di Inggris, sementara René Descartes mempopulerkan rasionalisme di Perancis. Kedua pemikiran tersebut mendorong penggunaan akal dan penelitian ilmiah.

Penggunaan akal dan penelitian ilmiah membuat negara-negara Eropa semakin mengurangi kepercayaannya terhadap perkara ghaib dan takhayul. Sehingga Eropa pun mengalami kemajuan ketika meninggalkan agamanya.

Kesalahan Penanganan Masalah

Turki Utsmani paham bahwa masalah utama mereka adalah menurunnya inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Akhir abad ke-18, Turki Utsmani mulai merekrut perwira dan insinyur Perancis untuk memodernisasi pasukannya.

Turki Utsmani juga mengirimkan putra bangsawan dan perwira militernya untuk sekolah di negara-negara Eropa Barat. Namun usaha perbaikan dengan cara mengekor Barat malah membuat Turki Utsmani semakin terpuruk.

Para lulusan sekolah Eropa Barat tersebut kemudian mendorong dilakukannya gerakan Tanzimat yang meminggirkan peran agama dalam pemerintahan. Undang-undang Utsmani diubah menjadi sekuler dengan mengacu kitab hukum Perancis.

Non-muslim dibolehkan menduduki jabatan penting pemerintahan, sistem perbankan Barat mulai dijalankan, mata uang kertas menggantikan mata uang logam, sistem gilda (serikat pengusaha sejenis) digantikan sistem pabrik.

Masalah Ikutan Lainnya

Pada abad ke-19, Turki Utsmani tidak lagi dianggap sebagai ancaman. Turki Utsmani bahkan ‘dilindungi’ agar menjadi penghambat Kerajaan Rusia. Kedudukan Rusia saat itu semakin menguat sehingga mengancam Inggris dan Perancis.

Inggris dan Perancis telah banyak menanam modal di Turki Utsmani, seperti pembangunan rel kereta dan Terusan Suez. Inggris dan Perancis pun banyak membeli bahan mentah dari Turki Utsmani (seperti kapas dan wol) yang kemudian diolah menjadi bahan jadi, dan dijual kembali ke Turki Utsmani.

Inggris dan Perancis turut membantu Turki Utsmani mengalahkan Rusia pada Perang Krimea (1853–1856). Perang tersebut membuat Turki Utsmani untuk pertama kalinya mengambil utang luar negeri pada tahun 1854.

Turki Utsmani kemudian terbiasa mengambil utang luar negeri, baik untuk pembangunan maupun membiayai gaya hidup pejabat. Utang tersebut diperoleh dari perbankan Inggris, Perancis, dan beberapa perusahaan keuangan Eropa. Pajak pun dinaikkan agar dapat membayar utang.

Namun kenaikan pajak memicu pemberontakan di semenanjung Balkan. Menurunnya pendapatan pajak serta meningkatnya pengeluaran akibat peperangan membuat Turki Utsmani kesulitan membayar utang.

Turki Utsmani lalu melakukan perundingan dengan pihak-pihak pemberi utang, dan menyepakati dibentuknya Ottoman Public Debt Administration (OPDA) pada tahun 1881. OPDA dikendalikan pihak pemberi utang, serta berperan dalam menentukan kebijakan ekonomi Turki Utsmani.

Akar Masalah

Pemecahan masalah tidak hanya bermula dari penanganan masalah utama, namun juga akar masalah (sebab masalah).

Akar masalah dari menurunnya inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi adalah meningkatnya inovasi dalam peribadatan (bid’ah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengada-ngadakan sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami, padahal kami tidak perintahkan, maka hal itu tertolak.” (HR. Muslim no. 3242 dalam aplikasi Lidwa, no. 1718 dalam Syarh Shahih Muslim)

Dari hadits ini, ulama membuat kaidah

فاَ الأَصْلُ في الْعِبَادَتِ اْلبُطْلاَنُ حَتَّى يَقُوْمَ دَلِيْلٌ عَلىَ اْلأَمْرِ

اَلأَصْلُ فِى اْلأَشْيَاءِ اْلإِ بَا حَة حَتَّى يَدُ لَّ اْلدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ

“Hukum asal dalam ibadah adalah batal (haram) kecuali ada dalil yang memerintahkan, dan hukum asal dari sesuatu (selain ibadah) adalah mubah (boleh) sampai ada dalil yang melarang.”

Secara bahasa, bid’ah berarti inovasi (penemuan baru). Islam melarang inovasi dalam praktik ritual ibadah. Sedangkan inovasi di luar perkara ibadah (misalnya teknologi) dibolehkan.

Bid’ah menyebar di Turki Utsmani terutama melalui kelompok sufi. Turki Utsmani menyerahkan pendidikan agama pasukan elite Janissary pada kelompok sufi Bektashi. Bektashi menganut kepercayaan Wahdatul Wujud (manusia dapat bersatu dengan Tuhan).

Kelompok sufi bersikap pasif dalam metode keilmuan. Mereka tidak mau susah payah mempelajari ilmu hadits untuk memahami Al Qur’an. Mereka mengatakan ilmu hadits dan pendapat fikih ulama hanyalah ilmu lahir, sedangkan yang mereka cari adalah ilmu batin (ilmu laduni) langsung dari Allah.

Padahal bersusah payah dalam mencari ilmu adalah sunnatullah. Ilmu Allah telah diturunkan melalui Kalam-Nya (Al Qur’an) dan petunjuk Nabi (hadits). Sehingga untuk mendapatkan ilmu Allah dan memahami Al Qur’an haruslah dengan mempelajari ilmu hadits dan pendapat fikih para ulama.

Bid’ah dan Kemunduran Inovasi

Bid’ah menyebabkan turunnya inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi dikarenakan:

Pertama, bid’ah telah merusak pola pikir ilmiah.

Pola pikir ilmiah mengajarkan untuk memiliki landasan, dalil atau bukti sebelum menetapkan sesuatu. Sedangkan pola pikir bid’ah tidak membutuhkan dalil untuk menetapkan sesuatu. Pengikut bid’ah hanya cukup taklid, yaitu mengikuti pendapat tanpa mengetahui dasar pengambilan pendapat tersebut.

Fenomena taklid membuat umat Islam tidak lagi terdorong untuk melakukan penelitian ilmiah. Masalah sosial atau peristiwa alam yang terjadi hanya dianggap sebagai perkara yang tidak perlu dicari jalan keluarnya.

Kedua, bid’ah menyuburkan kemusyrikan dan takhayul.

Di antara bid’ah yang dilakukan kaum sufi di Turki Utsmani adalah mendirikan bangunan di atas kuburan orang-orang shalih. Kaum sufi mendirikan tempat ibadah mereka (Tekke) di atas kuburan para pemimpin mereka.

Penghormatan berlebihan terhadap manusia tersebut telah menimbulkan kemusyrikan, di mana orang-orang berdoa meminta kepada jenazah di dalam kubur. Kemusyrikan membuat manusia mempercayai berbagai perkara ghaib yang tidak disebutkan dalam Qur’an dan hadits.

Sedangkan Islam mengajarkan untuk menolak semua perkara ghaib, kecuali jika perkara tersebut sudah dijelaskan dalam Al Qur’an dan Sunnah.

عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِۦٓ أَحَدًا

إِلَّا مَنِ ٱرْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ

“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya.” (QS. Al Jin: 26–27)

Perkara ghaib yang tidak memiliki landasan dalam Al Qur’an dan Sunnah dapat berkembang menjadi takhayul. Takhayul membuat umat Islam tidak lagi bisa membedakan antara mitos dengan kenyataan, antara khurafat dengan fakta.

Ketiga, bid’ah telah menambah berbagai amal ibadah baru.

Bid’ah akan menambah berbagai bentuk ibadah baru sehingga menyita waktu dan pikiran yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan inovasi dalam perkara non-ibadah. Agama menjadi jenuh dan seolah-olah tidak memberi manfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan.

Hal-hal inilah yang menimbulkan stagnasi dan kemandekan di Turki Utsmani pada khususnya, serta umat Islam pada umumnya. Karena itu penyelesaian masalah harus bermula dari akar masalahnya, yaitu dakwah mengajak untuk meninggalkan bid’ah.

Wallahu A’lam


What do you think?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Apakah Semua Gambar dan Patung adalah Terlarang? | by Wiji Al Jawi

Perbedaan Majusi dan Agama Zoroaster | by Wiji Al Jawi